TEMA “HATI SEORANG HAMBA”

Ayo Bagikan:

JAKARTA, MAJALAHGAHARU.COM — Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Markus 10:43-44.

Tuhan berkenan dan mencari pelayan yang memiliki sikap hati sebagai seorang hamba. Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada para hamba Tuhan, namun juga kepada anak-anak Tuhan dengan profesi apapun yang disandangnya. Tuhan tidak berkenan kepada anak-anak Tuhan yang berhati BOS. Sebaliknya, jadilah bos yang berhati hamba. Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Tuhan Yesus adalah Raja segala raja dan Tuan dari segala tuan, namun Ia datang ke dunia sebagai hamba, bahkan sampai mati di atas kayu salib bagi kita (ayat 45).

Apakah yang dimaksud dengan hamba? Hamba yang dalam bahasa aslinya “doulos” yang artinya budak belian. Hamba atau doulos ini memiliki arti yang sangat rendah, jauh lebih rendah dibandingkan profesi seorang pembantu pada zaman sekarang. Begitu rendahnya sehingga dibunuh oleh tuannya pun tidak ada yang akan menuntut. Dan Tuhan menginginkan kita memiliki sikap hati sebagai seorang hamba yang demikian. Tanpa memiliki sikap hati sebagai seorang hamba, maka apa pun yang kita lakukan dan kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan tidak akan diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat bagaimana pelayanan kita, tetapi yang terutama justru Tuhan melihat sikap hati seorang pelayan (1 Korintus 3:12-15). Seperti Martha yang giat melayani Tuhan, namun ia tidak melayani dengan sikap hati sebagai seorang hamba sehingga pelayanannya penuh dengan sungut-sungut, iri hati dan rasa tidak puas.

 

BAGAIMANA SIKAP HATI SEORANG HAMBA ATAU DOULOS?

  1. Seorang hamba tidak sombong (tidak memiliki kebanggaan apa-apa)

Sebagai seorang hamba seharusnya tidak sombong atau tidak bangga dengan hasil pekerjaannya (Lukas 17:10 Inilah hati hati seorang hamba). Kesombongan dalam hati saja Tuhan sudah melihatnya dan itu tidak berkenan kepadaNya (Amsal 4:23).

  1. Seorang hamba wajib memiliki ketaatan

Ibrani 13:17 mengajar kita untuk taat kepada pemimpin. Doulos atau seorang hamba tidak memiliki hak untuk tawar menawar, melainkan ia harus taat kepada perkataan Tuannya. Tuhan Yesus sendiri walaupun Allah, Ia belajar taat sampai mati di atas kayu salib (Ibrani 5:8).

  1. Seorang hamba tidak mudah tersinggung

Seorang hamba seharusnya memiliki hati yang dapat terbuka untuk menerima kritik dan saran (Bilangan 12:3). Sangatlah sulit menerima kritik dan saran dari orang lain, meskipun yang kita kerjakan memang kurang benar. Apalagi dicela pada saat kita sudah melakukan yang benar dan terbaik. Tuhan Yesus tidak tersinggung walaupun Ia sudah diperlakukan dengan tidak adil, dihina dan disalibkan, walaupun Ia sama sekali tidak bersalah (Lukas 23:34).

  1. Seorang hamba harus siap setiap saat 

Sebagai seorang hamba kita harus siap setiap saat. Hamba harus memiliki dua macam SIAP yaitu siap yang pertama adalah siap melakukan apa saja yang diperintahkan, baik itu perintah yang berat maupun ringan untuk dikerjakan. Dan siap yang kedua adalah siap untuk tidak disuruh apa-apa atau tidak dipakai sebagai apa-apa. Dalam keadaan tidak disuruh apa-apa pun, ia harus tetap siap.

Tuhan menginginkan kita memiliki hati seorang hamba yaitu memiliki empat hal di atas. Dengan demikian kita adalah pelayan yang dapat dipercayai. 1 Korintus 4:1-2 “Demikianlah hendaknya orang memandang kami:  sebagai hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai”

 

Oleh: Pdt. Maria Wijiati, M.Th (Dosen STT STAPIN Majalengka)

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *