Pdt Dr Nus Reimas Modalnya Hanya Bersimpuh Tiap Pagi

Ayo Bagikan:

JAKARTA, MAJALAHGAHARU.COM — Susana ruangan aula LPMI kawasan Tugu Proklamasi Jakarta Pusat nampak berbeda. Beberapa tokoh hadir seperti Pdt. Henrette Lebang (Ketua Umum) dan Pdt Gomar Gultom (Sekretaris umum )PGI. Pdt Dr Ronny Mandang Ketua Umum PGLII, Pdt Mulyadi Suleman salah satu ketua PGPI dan masih banyak lagi tokoh yang hadir seperti Pdt. Dr Ruyandi Hutasoit, Pdt Tonny Mulia, Deddy Madong, Ruddy Nainggolan, Robinson Nainggolan, Johan Tumanduk  dll mereka hadir dalam pertemuan pagi hingga siang itu.

Rupayanya pagi itu genap sudah 65 tahun usia dari pendeta Dr Nus Reimas mantan direktur  LPMI dan juga mantan ketua umum PGLII ini dan dirayakan ulang tahunnya pagi itu. Terlihat banyak sahabat dan teman sepelayananan serta para wartawan menyaksikan bagaimana perjalanan pelayanan pendeta yang humoris dan selalu mengumbar senyuman ini pada sambutannya pagi itu. Enam puluh lima tahun perjalanan pendeta Nus tidak gampang, bagaimana dia bertahan hingga kini, namun bagaimana Tuhan memimpin dan menunjukkan arahnya hingga saat ini.

Selama puluhan tahun melayani tanpa gaji tetapi pemeliharaan Tuhan sangat nyata dan tak pernah kekurangan, seperti yang dituturkan ketika itu. Sikap hidup yang ditunjukkan Nus barang tentu banyak memberikan inspirasi bagi kolega dan teman sepelayanannya terutama juniornya di LPMI. Sudah sekian banyak orang yang belum mengenal Kristus tetapi berkat pelayanannya mereka diselamatkan.

.Perjalanan hidup Nus dimulai,tepatnya di Pulau Key besar, Maluku, Nus dilahirkan, dari kecil memang sudah bercita-cita jadi pendeta. Namun seiring perjalanan waktu pengalaman pahit dialami ketika Tuhan panggil ibunya kembali ke rumah bapa di Sorga . Kedekatannya dengan ibu tercinta sangat terasa ketika bersaksi di depan tamu yang turut merayakan ulang tahunya, Nus nampak berkaca-kaca tak mampu menahan betapa kesedihannya ketika bercerita ibu tercintanya pergi meninggalkan selama-lamanya. “Saya tak tahu harus kemana sedih rasanya kehilangan ibu yang sangat kucintai itu,” saksinya melas.

Peristiwa yang tak disangkanya ini membuat hatinya bergejolak, untuk menghilangkan tekanan yang menimpanya pada suatu kali Nus pergi ke makan ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Sangkin tak kuasa menahan beban yang menghimpitnya kemudian terucap kata, “Tuhan tolong saya,” lalu pulang ke rumah dan sejak saat itu rasanya beban itu berkurang. Bahkan doa itulah yang memberikan tonggak kekuatan hingga kini.

 

Ingin jadi Pembuat Kapal

Hidup di wilayah kepulauan yang sering kali harus menerjang ombak yang tinggi, melupakan cita-citanya untuk menjadi pendeta. Dan berubah ingin membangun kapal. Maka ketika harus kuliah di Ambon dia ambil jurusan yang sesuai dengan cita-citanya.  Nmun kembali manusia berencana tetapi Tuhanlah yang menentukan, saat kuliah itulah perjalanan hidupnya berubah, di mana di kampus diadakan KKR bagi mahasiswa. Dalam KKR yang dipimpin Pormes itu melakukan altar call menantang bagi mahasiswa untuk memenuhi panggilannya.

Dan saat itulah kemudian dirinya tertantang untuk maju ke depan untuk didoakan dan memenuhi panggilan itu untuk melayani Tuhan, Lalu ditinggalkan kulioahnya dengan melupakan cita-citanya  yang ingin membuat kapan tersebut dan pergi ke Jakarta. ” Menrik waktu pertama ikut I Pormes langsung diutus ke Manila padahal tak bisa bahasa Inggris, tetapi saya ikut saja,” saksinya. Dan ternyata sesui dengan doanya Tuhan selalu menolong dan akhirnya bisa berbahasa Ingris.

“Saya ini seorang Figther, petarung,” terang Nus yang waktu di mbon menjadi jemaat GPM bahlan setelah di Jakarta hingga kini tercatat anggota GPIB Menara Iman. Namun karena panggilan pelayanan itulah dikaryakan di LPMI hingga PGLII. Nus memang patut menjadi teladan iman bagaimana mampu menghidupi poelayanan dengan bergantung kepada Tuhan. “Saya berthun-tahun di LPMI hingga sekarang tidak di gaji, tetapi Tuhan memenuhi segala kebutuhannya.

Siapapun tahu kiprah dari dua anak ini, kalau pelayanannya bukan saja lintas gereja tetpi juga politik bahkan sekelas PKS-pun pernah mengundangnya. Semua itu menunjukan betapa luas parggilan pelayanan dari pendeta yang satu ini. Relasinya dengan bverbagai kalanagan sangat terbukti semua ini didasari dengan sikap hatinya yang tak pernah menyimpan demdam. “Saya paling tak bisa untuk menyimpan dendam, kalau ada orang yang mencaci segera saya lupakan.”tandssnya serius. Mungkin sikap inilah yng membuatnya selalu tersenyum dan diterima banyak orang. “Saya ini pendeta yang bisa kotbah di GPIB, GKI, HKBP dan juga gereja-gereja kharismatik,” saksinya.

Pdt Dr. Nus Reimas yang pernah dipercaya lembga-le,baga aras gereja menjadi ketua panitia gawean besar yang mengadakan acara meneln milyaran tupiah tujuannya bagaimana gereja berpadu untuk mencapai stu tujuan yakni memuliakan nama Tuhan dengan kesaksiaan hidup umatnya. .Nus Reimas yang ditahbiskan kependetaanya di Gereja Prostestan Injili ini hingga sat ini terus berkarya hingga tuidak bisa lagi terangnya.

Menanggapi adanya gonjang-ganjing bangsa ini terutama menyangkut kondisi Plt Gubernur Basuki Tjahaja purnama. Nus berujar selalu ingat firman Tuhan bahwa Tuhan turut bekerjasama dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan. Kadang cuacanya baik kadang-kadanghujan dn panas tetapi lewat saja. Seperti wartawan sat ini cuaca buruk ya tulkis cuaca buruk besuk cerah ya tulis cerah getoo aja.

Jadi tidak usah terombang ambing dengan kondisi yang ada, tetap berjalan karena percayaTuhan turut bekerjasama, termasuk di dalamnya bagi Pak Ahok dalam menghadapi persoalan ini. “Saya beberpa waktu lalu bertemu pak Ahok, saya bilang maju terus banyak orang berdoa untuk bapak,” katanya. Namun jangan juga orang Krsiten lalu menghubung-hubungkan tokoh Ahok dengan alkitab, “Saya bilang Ahok ya Ahok tak ada kaitannya dengan tokoh alkitab,” terangnya serius.

Bicara tentang Ahok adalah bicara terobosan apa yang dilakukannya. Sebagai NKRI setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama bukan membeda-bedakan ini boleh yang itu tidak. Jadi kalau bertanding pakailah dengan cara yang sesuai dengan aturan yang ada. Bertanding dengan demokratis memilih yang sesuai keinginannya.

Kembali kepada perjalanan Nus Reimas yang hingga gini tetap menghdapi persoalanny tetap tersenyum. ” Satu hal yang saya lakukan tiap pagi kami berlutut kepada Tuhan menyerahkan diri sepenuhnya, jadi tak peduli apa yang terjadi karena yakin bahwa Tuhan menolong saya, “pungkasnya serius.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

One thought on “Pdt Dr Nus Reimas Modalnya Hanya Bersimpuh Tiap Pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *