Indonesia bukan satu warna, tetapi banyak warna

Ayo Bagikan:

JAKARTA, MAJALAHGAHARU.COM — Indonesia bukan satu warna, tetapi banyak warna. Banyak warna inilah yang mewarnai keberagamanan Indonesia. Karena itu, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Jumat (10/11/2017), Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA ID) bekerjasama dengan Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia (BPH GBI) menyelenggarakan talk show bertema; Warna Sejarah Pahlawan Indonesia. Diskusi ini menampilkan tiga pembicara yakni Mayjen Purn Glenny Kairupan, Djasarmen Purba, SH, dan Pdt. Suyapto Tandywasesa.

Talk show ini dipandu Agus Panjaitan dengan beberapa penanggap seperti Pdt Dr Jimmy Lumintang (akedemisi dari STT Ikat) dan Abdiel Fortunatus, Ketua Biro Pemuda PGI, dan dikuti sekitar lima puluh peserta.

Menurut Glen Kairupan narasumber yang mewakili purnawirawan TNI, bahwa Hari Pahlawan sendiri terjadi karena Inggris.

“Kedatangan sekutu Inggris di Surabaya membuat arek-arek Surabaya mengangkat senjata, dan terjadilah pembunuhan Brigjend Mallaby, yang juga pimpinan Tentara Sekutu. Adapun korban jatuh di pihak Indonesia, kurang lebih jutawan orang akibat invansi tersebut,” jelas Glen Kairupan.

Pahlawan dari sudut pandang Tionghoa dipaparkan oleh Pdt Suyapto. Menurutnya sangat sedikit yang menceritakan pejuang Tionghoa. “Memang dipelajaran sekolah hampir tidak ditemukan pahlawan dari kalangan Tionghoa,” kata Pdt Suyapto.

Meski kemudian, dari 172 Pahlawan Nasional yang ada sekarang, ada satu dari Tionghoa yakni Laksamana Muda (Purn.) John Lie yang berjasa menyeludupkan senjata ke Indonesia. Faktanya sebenarnya banyak keturunan Tionghoa berjuang tapi baru satu yang dianugerahi jadi Pahlawan Nasional. Ini berhubungan dengan diskriminasi selama Orde Baru.

Sementara Ketua Umum MUKI Djasarmen Purba, SH menyoroti bahwa Warna Sejarah Pahlawan Indonesia menunjukkan bahwa anak Tuhan di negeri ini bukan penumpang.

“Dengan keberadaan para pahlawan seperti Sam Ratulangi, TB Simatupang, John Lie, dan lainnya bahwa kita bukan anak angkat atau anak tiri di dalam negara ini,” tegasnya.

Djasarmen juga memaparkan bagaimana peran politik masyarakat Kristen dari dulu hingga sekarang. (JP/BTS)

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *