Gereja Harus Terlibat mempercepat Kawasan Danau Toba sebagai Tujuan Wisata

Ayo Bagikan:

Samosir, majalahgaharu.com.  Keindahan danau Toba dengan hamparan air hijau yang bening yang setiap tepiannya berdiri kokoh dinding batu yang tegak yang rimbun ditumbuhi tanaman serta pantainya yang terhampar menambah daya pikat tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung.. Maka tak heran Pemerintahan Joko Widodo terpesona akan keindahan danau akibat meletusnya gunung purba ini. Kemudian pemerintah melalui presiden Jokowi memberikan status khusus untuk penanganan Danau Toba sebagai kawasan khusus, dengan statusnya sebagai daerah Otorita Danau Toba yang sudah dibentuk sekitar setahunan yang lalu.

Pemberian status khusus untuk pengelolaan DanauToba ini diharapkan penataan danau Toba sebagai kawasan wisata benar-benar cepat terealisasi. Namun sewaktu majalahgaharu.com Jumat 5/01/18 berkunjung di kawasan tersebut rasanya belum nampak hasilnya selain bertambahnya mobil-mobil yang semakin padat, keramba yang banyak ditentang oleh LSM-LSM pencinta lingkungan hidupun masih marak bertebaran, bahkan sangat dekat di penyeberangan kapal fery antara Parapat ke Samosir, siapapun yang mau naik feri untuk menyeberang pasti melihatnya.

Kondisi ini masih jauh rasanya untuk membuat danau Toba sebagai kawasan tujuan wisata yang menggembirakan dan rasanya perlu segera diperhatikan. Belum lagi penyeberangan antara Parapat tepatnya di desa Ajibata masuk dalam wilayah Tobasa masih memerlukan perhatian panjang. Panjangnya antrian mobil jelas menyita waktu seperti yang dialami majalahgaharu.com sendiri harus membutuhkan waktu tiga jam-an untuk mengantri nyebrang.

Dermaga masih berupa tanah diambil dari arah Samosir

Memang kondisi ini dijawab oleh salah satu pengelola penyeberangan kapal Ferri bahwa ini semata hanya karena libur natal dan tahun baru. “Coba saja kalau bapak ibu berkunjung disini hari biasa pasti hanya 5 sampai 6 mobil saja sudah hebat,” tandasnya serius. Sebut saja ucok yang mengaku sudah bekerja di kapal ferri itu sudah 30 tahunan . Dermaga saja masih dari tanah dan batu. Bisa dibayangkan kalau saat kapal bersandar kemudian mobil-mobil masuk ke kapal lalu ada salah satu batu rontok apa mobil ngga jatuh ke bawah. Lalu andai itu terjadi siapa yang harus bertanggung jawab ujar Ucok berkeluh kesah.

Menurutnya sudah dari dulu hingga sekarang dermaga penyeberangan tersebut belum dibeton. Menurutnya pemerintah seharusnya membangunkan dermaga itu untuk kepentingan masyarakat. Ucok berharap bagi masyarakat jangan hanya mengkritik ini dan itu karena memang untuk menutup dana operasional cukup tinggi jadi perlu mensiasati.

Tambak Ikan dekat  dermaga Tomok Samosir

Sementara ketika dikonfirmasikan salah satu petinggi yang masuk jajaran pimpinan  otorita danau Toba. Mengakui kalau kondisi danau Toba belum ada progresnya hingga sekarang memang angaran yang dikucurkan untuk kawasan otrita danau Toba belum turun hingga kini.  Diharapkan tahun ini segera dapat dianggarkan sehingga kawasan Danau Toba benar-benar menjadi tujuan wisata yang menyenangkan.

Kemudian dari warga masyarakat sebut saja salah satu marga Sitorus memberikan masukan khususnya sumber daya manusianya, pemeirntah perlu juga memberikan sertifikasi kepada petugaa-petugas wisata atau pramuwisata sehingga standar bagaimana ketika menyambut wisatawan itu terlayani dengan baik. “Jangan sampai masyarakat sekitar malah mengambil kesempatan untuk menjual barang dagangannya dengan harga tidak wajar,” ungkapnya.

Demikian pula peran gereja terutama yang ada diskitar danau Toba dapat membantu percepatan kawasan danau Toba dengan membina jemaat-jemaatnya agar mampu memberikan sambutan kepada wisatawan dengan baik. Karena ketika banyak wisatawan yang berkunjung akan membawa dampak ekonomi kepada warga sekitar.

 

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *