PGLII Mengeluarkan Surat Penggembalaan 2018 dan Berkomitmen Sebagai Mitra Pemerintah

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com – Melewati perjalanan tahun 2018 sangatlah tidak mudah. Berbagai tantangan dan rintangan baik secara internal maupun eksternal selalu kita alami. Pekabaran Injil dalam konteks global dan lokal, khususnya di Indonesia, sedang terus menghadapi perubahan-perubahan teknologi, informasi, sosial dan kebudayaan yang begitu cepat. Teknologi digital dari 3G sudah memasuki 5G, dari era kertas berevolusi kepada dunia maya yang serba berubah cepat. Demikian antara lain Surat Penggembalaan yang dikeluarkan oleh PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili) yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pdt. Dr. Ronny Mandang MTh dan Sekretaris Umum Pdt. Dr. Freddy Soenyoto MTh.

Penjelasan selanjutnya, PGLII yang memiliki motto: Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil. Motto ini terus mengajak dan menuntun kita, bahwa Tujuan PGLII adalah Membela dan Memelihara Teologi Injil yang diimplementasikan ke dalam Tujuan PGLII yang intinya melaksanakan pekabaran Injil. Prinsip ini semakin diteguhkan melalui hasil Musyawarah Besar Pemuka Agama yang dilaksanakan pada tanggal 8-10 Februari 2018 di Jakarta, yang menghasilkan dokumen “7 Pokok Rekomendasi Pemuka Agama”, dan pada tanggal 28-31 Mei 2018 di Berastagi, digelar Konperensi Pekabaran Injil 2018 yang diselenggarakan oleh PGLII, PGI, PGPI dan KWI. KPI 2018 berhasil menyepakati suatu dokumen Rekomendasi dan Komitment Pekabaran Injil 2018 yang berisi beberapa hal, antara lain yang sangat mendasar, kesepakatan bahwa pekabaran Injii merupakan hakikat gereja, jika gereja berhenti melaksanakan pekabaran Injil, maka gereja telah selesai. Namun demikian, dalam melaksanakan pekabaran Injil, seluruh gereja dan lembaga dituntut untuk melakukan dengan sopan, tidak menyinggung pihak tertentu, dan tidak manipulatif. Selain itu, gereja-gereja diminta untuk membangun jejaring secara lintas denominasi, peduli kepada lingkungan dan berdampak bagi warga di sekitarnya.

Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII terus bergumul di dalam dirinya untuk tetap setia memenuhi tugas, panggilan dan mandat Ilahi Tuhan Yesus Kristus, yakni pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil, membaptis dan menjadikan mereka yang percaya sebagai murid Tuhan Yesus Kristus. Warga Gereja dan Lembaga Injili adalah masyarakat Kerajaan Allah, namun pada sisi yang bersamaan merupakan masyarakat dunia, keduanya berbeda, dapat saling berdistribusi positif tetapi juga negatif. Pada konteks ini, Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di PGLII, di satu sisi dituntut untuk tidak gagap teknologi melainkan harus cerdas mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat, tetapi pada sisi yang lain, dituntut juga untuk tidak mudah menjadi korban kemajuan teknologi yang melesat cepat. Intinya, Kitab Suci dan Injil harus tetap menjadi sentralitas dan panduan dalam kehidupan Gereja, Lembaga yakni kehidupan kaum Injili sehari-hari di masa kini. Di sini kita dituntut selalu mengasah dan mengandal hikmat Tuhan, agar eksistensi kaum Injili masih tetap kokoh dalam pendirian “Hendaklah kamu tidak menjadi serupa dengan dunia ini” Roma 12:2. Pengertian ini membawa kita selalu pada suatu kesadaran tinggi, kita berada di dalam dunia, namun dunia tidak boleh menguasai kita.

PGLII sebagai aras gerejawi nasional, tetap berkomitmen membangun Keesaan Gereja, tubuh Kristus dalam spirit oikumenis bersama gereja aras nasional lainnya, berkomitmen ikut hadir dalam pergumulan kaum Injili, terlibat dalam pembangunan nasional dengan menjadi mitra Pemerintah, terlibat dalam menjaga lingkungan hidup, berkomitmen ikut terlibat menjaga dan merawat “empat konsensus kebangsaan” yakni: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika yang telah dibangun dan diperjuangkan dengan jiwa dan darah oleh para founding father serta rakyat Indonesia dari berbagai golongan dan agama, dan empat konsensus kebangsaan adalah harga mati! Ketika bangsa Indonesia sedang tergerus oleh isu-isu intolerasi, radikalisme, terorisme yang membuat banyak pihak dan golongan terpapar, maka PGLII tetap berdiri bersama Pemerintah ikut menggaungkan bahwa empat konsensus kebangsaan dan nasionalis adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Perjuangan PGLII dalam kehidupan berbangsa dan benegara, adalah ikut berpartipasi dalam visi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) namun tetap bersuara kenabian.

Ketua Umum PGLII Bapak Pdt Dr Ronny Mandang,  M.Th telah menggagas dilaksanakannya Paskah Bersama Gereja-Gereja Se-Indonesia pada bulan April tahun 2019 bersama-sama FUKRI. Sedangkan di dalam hubungan internasional saat ini, PGLII telah dipercaya untuk menjadi Panitia Pelaksana (OC) dari kegiatan dunia World Evangelical Alliance (WEA) yang pada tanggal 7-12 November 2019, di Bali atau Jakarta, akan melaksanakan General Assembly – World Evangelical Alliance. Dipilih dan ditetapkannya PGLII menjadi Panitia Pelaksana adalah kehormatan besar sekaligus penghargaan bahwa eksistensi dan perang PGLII kini semakin diakui di tingkat global. Kurang lebih akan hadir 120 negara dari seluruh dunia, anggota WEA yang hadir, mari kita doakan! Karena itu, rencana Musyawarah Nasional PGLII ke-XII yang rencanakan pada bulan Oktober 2019 diundur menjadi bulan Maret 2020.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *