Pernyataan Pers, Dodi Lapihu, Direktur Kajian Kebijakan Institute for Indonesia Local Policy Studies

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com – Perayaan Natal 2018 tak luput dari perhatian dari dua Calon Presiden (Capres) yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, Selasa (25/12/2018). Kedua Capres ini mengucapkan Selamat Natal bagi umat Kristiani dengan cara yang berbeda.  Tetapi sangat disayangkan hal ini justru menjadi ‘mainan oknum’ para pendukung masing-masing untuk saling menyerang. Menyikapi hal tersebut, aktivis muda Dodi Lapihu mengeluarkan Pernyataan Pers :

1. Calon presiden dan calon wakil presiden baik dari paslon nomor urut 01 maupun paslon nomor urut 02 telah menyampaikan ucapan selamat merayakan hari raya Natal bagi umat Kristen di seluruh Indonesia. Ucapan ini dimaknai sebagai wujud dari toleransi dan komitmen kebangsaan setiap pasangan calon.

2. Namun, di media sosial, ucapan selamat Natal tersebut justru dipelintir dan dijadikan sebagai bahan kampanye hitam oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Terdapat video hoax ucapan selamat Natal dari KH. Ma’ruf Amin dengan menggunakan kostum Sinterklas. Di lain pihak, pasca Prabowo menyampaikan selamat Natal, beredar pesan yang menyatakan bahwa Prabowo sudah memeluk agama Kristen dan setiap Minggu beribadah di gereja.

3. Beredarnya informasi dan pesan hoax ini menjadi paradoks dan ambigu. Di satu sisi para pasangan calon berusaha menunjukkan diri mereka di publik sebagai sosok yang toleran, inklusif, dan menjaga keberagaman. Namun di sisi lain, pendukung dan simpatisan masing-masing paslon masih berupaya menjatuhkan paslon lainnya dengan alasan identitas agama.

4. Sebaiknya masing-masing paslon tidak hanya beradu ucapan, namun juga tindakan yang nyata untuk menunjukkan komitmen kebangsaan mereka. Paslon seharusnya mengingatkan dan menegur tim sukses ataupun simpatisan yang masih menggunakan narasi identitas agama sebagai bahan kampanye. Selain itu menyatakan sikap yang tegas terkait peristiwa-peristiwa intoleran yang terjadi di berbagai daerah pada beberapa bulan terakhir ini. Agar spirit keberagaman jangan hanya pada tataran elit namun juga merambat ke akar rumput.

5. Sayangnya, tidak ada satupun paslon yang berani menunjukkan sikap terkait peristiwa intoleran yang terjadi, antara lain penyegelan tiga Gereja di Jambi, ataupun peristiwa yang terjadi di Yogya, Pangandaran, dan yang terbaru di Cilacap. Pada akhirnya isu toleransi dan merawat keberagaman hanya menjadi narasi politik, minim tindakan yang seharusnya bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi masing-masing pendukung.

6. Masing-masing paslon seharusnya sadar bahwa kampanye berdasarkan identitas agama adalah bom waktu yang dapat mengorbankan identitas kebangsaan kita. Dibutuhkan keberanian dari setiap paslon untuk menunjukkan sikap yang tegas terkait pandangan kebangsaan dan tidak bermain di ruang abu-abu. Masih ada waktu, sebelum kondisi toleransi kehidupan berbangsa semakin parah dan semakin marak terjadi segregasi di tengah masyarakat kita. Terimakasih.

Pernyataan pers ini ditanda-tangani oleh Dodi Lapihu, mewakili  Lembaga Studi Kebijakan Lokal di Indonesia (LSKLI)/Institute for Indonesia Local Policy Studies (ILPOS). [RA]

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *