Empat Tahun GBI Kampuri Mangkrak siapa Peduli

Ayo Bagikan:

Kuala Kurun majalahgaharu.com Sebelas tahun waktu yang cukup panjang, namun karena ada beban melayani suku Dayak, maka Polotua Simbolon tetap semangat secara rutin satu atau dua kali setahun mengunjungi jemaat-jemaat kecil di pedalaman Kalimantan Tengah. Sekalipun dengan jarak tempuh yang cukup jauh dengan medan pelayanan yang tidak mudah. Seperti belum lama ini, Polotua Simbolon bersama beberapa orang kembali mendatangi Kalimantan Tengah tepatnya di di desa-desa Muara Kurun, Kabupaten Gunung Mas, sekalipun harga tiket pesawat yang melambung tinggi.

Polotua Simbolon yang kini usianya sudah menginjak 75 tahun, dengan usia tersebut untuk mengadakan perjalanan  cukup jauh dengan menempuh jalanan berbatu dan tak beraspal, dengan jarak puluhan kilo, tentu bukan hal yang mudah, belum lagi jalanan berlobang kadang dipenuhi air yang cukup dalam membuat goncangan mobil cukup kencang.

Namun demikian tak menghentikan langkah, Polotua Simbolon untuk tetap membagi kasih dengan jemaat suku Dayak di pedalaman terutama membantu untuk pembangunan gereja. “Banyak jemaat pedalaman yang mau membangun gereja, tetapi kesulitan menyelesaikan bangunan. Kedatangan saya sifatnya hanya membantu gereja bangkit berdiri dalam membangun tempat ibadah, dengan apa yang saya lakukan diharapkan banyak orang terinspirasi dan mau mempedulikan jemaat-jemaat di pedalaman ”, ungkapnya semangat .

Tepat pukul 13.20 WIB, Kamis 10/05/19  rombongan misi tiba di Palangkaraya, Junaidi dan Yasko  yang memang selama ini sudah bermitra dengan tim Polotua Simbolon, siap membawa ke beberapa lokasi yang sudah dipilih, yakni gereja-gereja kecil yang kesulitan membangun yang ada di Kuala Kurun, Gunung Mas.

Lokasi yang cukup jauh maka dibutuhkan stamina untuk itu, sebelum melanjutkan perjalanan butuh mengisi perut terelebih dahulu. Dengan mengendarai dua buah mobil masing-masing berisi empat orang, di mana tim terdiri dari  lima dari Jakarta Polotua Simbolon koordinator, Samsudin Manulang,  Rizma Simbolon, Rita Hargita, satu wartawan ( Yusuf) sedangkan dari Palangkaraya Junaidi, Yasco dan Sukawati.

Kurang lebih dua jaman perjalanan nampak bangunan gereja berdinding batako, belum ada atap serta pintu dan jendela dengan ukuran  10 x 20 m2, nampak lantainya ditumbuhi rumput yang lebat, sudah empat tahun bangunan ini belum selesai terang Pdt Sapta mengawali bincang malam itu.

Sapta melanjutkan bahwa dirinya masih sekitar setahun memegang jemaat GBI tersebut menggantikan gembala yang lama. Melihat warisan bangunan yang masih mangkrak tentu ada keprihatinan tersendiri, karena tak ada bantuan dari pusat maupun dari pihak-pihak lain. Sementara kehidupan jemaatnyapun masih pas-pasan, bagaimana bisa menyelesaikan bangunan gereja ini, ujarnya.

Kalau dulu bisa membangun awalnya karena mendapat bantuan  dana desa 20 juta. Bantuan itulah kemudian dipakai membangun gereja. Namun apa lacur ternyata belum bisa menyelesaikan hingga rampung. Selama empat tahun itulah  kalau  pembangunan mandeg.

GBI Mawar Saron desa Kampuri, Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, demikian nama gereja tersebut, bersama tim malam itu mengadakan ibadah, sekitar lima belas orang. Pak Simbolon dalam kotbahnya tegas mengatakan banyak orang hanya membaca firman satu dua ayat lalu mencoba menjabarkannya. Padahal bukan itu harusnya, tetapi membaca dan dimengerti apa dari yang dimaksud firman itu. Karena itu, sudah seharusnya jemaat memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan firman untuk itu jemaat harus diberi pengajaran yang benar dengan mendasari apa yang sudah ada dalam alkitab.

Dalam akhir ibadah Polotua  Simbolon menyerahkan bantuan sejumlah dana untuk membantu membangun gereja, tak ketinggalan juga menyerahkan uang titipan perpuluhan dari salah satu orang yang juga memiliki kepedulian untuk pembangunan gereja di pedalaman pedalaman, yang nyata-nyata pendeta kesulitan dalam membangun rumah ibadah.  Melihat realitas dipedalaman bagaimana seorang pendeta harus berjibaku melayani jemaat yang rata-rata masih hidup dalam taraf di bawah rata-rata.

Untuk memenuhi kebutuhan saja masih pas-pasan apalagi harus memberi persembahan untuk gereja dan juga pendetanya. Seperti apa yang diungkapkan pendeta Sapta bahwa apa yang diterima malam ini sungguh suatu anugerah. Karena Tuhan mengirimkan Polotua Simbolon untuk menjawab doanya, agar gereja dapat segera kembali melanjutkan pembangunan, dengan harapan natal nanti sudah bisa dipakai ibadah perayaan natal. Ki Ucup

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *