Pelita Harapan Conference 2019 Tekankan Kontribusi Unik Lembaga Kristen bagi Dunia

Ayo Bagikan:

Banten, Majalahgaharu.com Mengawali tahun akademik baru 2019/2020, Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Pelita Harapan Conference 2019, pada 31 Agustus 2019, dengan tema Grace upon Grace yang dinspirasi dari Injil Yohanes 1:16.  Tema ini juga yang menjadi tema besar dari UPH dalam memperingati Diesnatalis 25 tahun melayani sebagai institusi pendidikan Kristen, yang berpusat pada Kristus,  di Indonesia.

Konferensi satu hari ini dibawakan oleh Dr. Sinclair Ferguson, Chancellor’s Professor of Systematic Theology di Reformed Theological Seminary, USA., diikuti lebih dari 3000 peserta dari dosen, staff, mahasiswa UPH, dan unit-unit dibawah Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), serta undangan dari komunitas dalam negeri dan luar negeri.

Pesan utama Dr. Ferguson dalam conference ini adalah bagaimana akademisi Kristen harus berani menunjukkan keunikan dan perbedaan mereka di tengah dunia yang berdosa. Dia mengajak hadirin menelaah kitab 1 Petrus, yang merekam perjalanan iman rasul Petrus sebagai orang percaya yang sering dilanda rasa takut, gentar, dan tak mempercayai kasih karunia dari Allah pada umat-Nya. Pergumulan Petrus seringkali menjadi pergumulan umat percaya di zaman ini, dan juga merupakan pergumulan yang dihadapi lembaga-lembaga serta institusi-institusi Kristen di dunia.

Di sesi pertama, Ferguson menjelaskan bahwa sebagai umat Tuhan, kita memang diciptakan berbeda dari dunia. Karenanya, kita mungkin akan menderita, tetapi alih-alih bersedih, kita seharusnya bersukacita karena kita telah diambil dari dunia dan dipilih menjadi umat Allah, Raja yang agung.

Para peserta kemudian diajak untuk melihat peran mereka dalam dunia yang berdosa. Sebagai orang percaya yang berbeda dari dunia, tentu kita memiliki peran yang unik, karena peran kita tidak bisa dimainkan oleh orang-orang dunia. Dr. Ferguson menjelaskan bahwa orang Kristen seharusnya senantiasa taat kepada pemerintahan yang bertanggungjawab atas mereka.

“Orang Kristen tidak bereaksi secara anarkis atau disruptif ketika ada hal-hal yang tidak disetujui, karena kita hidup untuk menyenangkan Tuhan, bukan menyenangkan manusia, dan Tuhan mau kita taat kepada otoritas,” jelas Ferguson. Disamping itu, dengan tidak serta-merta melawan pemerintah, institusi-institusi Kristen dapat menjalin hubungan yang baik dengan pemerintahan dan dapat berkontribusi semakin banyak kepada bangsa.

Prinsip ini juga terlebih nyata ditunjukkan dari hubungan dalam keluarga-keluarga umat Kristen. Merujuk pada 1 Petrus pasal 3, Dr. Ferguson menekankan bagaimana seorang istri harus tunduk pada suami, dan bagaimana suami harus mengasihi istri. Karena didorong oleh kasih, seorang istri yang taat dan terhormat akan mendorong suaminya untuk turut berada di jalan yang benar dalam memimpin keluarga. Jika suami dan istri berjalan di jalan yang benar, anak-anak mereka akan mengikuti jalan hidup yang benar pula. Hubungan kasih yang paling inti yang diciptakan oleh Tuhan ini – keluarga – merupakan dasar serta langkah awal bagi setiap anggota keluarga untuk berkontribusi pada masyarakat yang lebih luas. Jika fondasi yang dibangun dalam rumah benar dan tunduk di bawah otoritas Allah, kontribusi yang diberikan kepada masyarakat pun akan didasari oleh prinsip yang sama. Inilah awal kontribusi orang Kristen di tengah, komunitas, masyarakat, bangsa dan dunia.

Pada sesi terakhir, Ferguson kembali menekankan bagaimana orang Kristen akan menderita dalam dunia ini. Misi yang diberikan Tuhan kepada kita tidak akan bisa dijalankan di tengah situasi yang menerima kita apa adanya – sebagai ciptaan yang berbeda dari dunia, kita memang harus siap untuk ditolak, dianggap aneh, atau tidak dianggap penting oleh dunia. Satu-satunya hal yang memungkinkan kita untuk terus maju adalah kasih karunia demi kasih karunia Tuhan – Grace upon Grace – yang dengan setia selalu dicurahkan Tuhan bagi umat-Nya. Hanya dengan kasih karunia Tuhan-lah umat Kristen bisa menjadi garam dan terang bagi dunia, dan hanya dengan kasih karunia-lah UPH dapat melayani selama 25 tahun sebagai institusi pendidikan berbasis iman Kristen yang telah mencetak lulusan-lulusan yang menjadi garam dan terang baik bagi bangsa Indonesia maupun dunia.

 

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *