Pdt. Manuel Raintung Kehadirannya Ingin Memperkuat Peran PGI Dalam Gerakkan Kebersamaan Lintas Gereja

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com Kiprahnya diranah pelayanan terutama digerakan oikumene serta gerakan lintas agama tak perlu diragukan lagi. Pdt Manuel Raintung, MT.h  gembala jemaat GPIB Horeb Kramatjati Jakarta Timur, mengawali pelayanan dengan ditahbiskan sebagai gembala jemaat di Yogyakarta tahun 1991. Tidak lama setelah ditahbiskan Manuel yang baru saja terpilih menjadi wakil sekretaris FKUB Propinsi DKI ini pindah ke Malang.

Kota Malang inilah, Manuel mulai membangun gerakan oikumene lintas gereja dan juga gerakan kerukunan lintas agama. “Saya membangun gerakan kebersamaan gereja dan lintas umat itu mulai dari tingakt RT, Kelurahan, Kecamatan terus menanjak hingga  tingkat Kabupaten lalu propinsi hingga dipercaya menjadi sekretaris umum PGIW Jawa Timur 1997-2002”, ujar Manuel Raintung saat berjumpa PEWARNA di Kantor PGI W DKI Jakarta, Jumat 20/9/19.

Sejak pindah ke Jakarta, semula tak berpikir kalau akan kembali berkecempung di gerakan Oikumene, ternyata salah dugaannya, justru saat itu PGIW Jakarta sedang membutuhkan orang yang berpengalaman di gerakan Oikumene untuk sekum,  akhirnya dirinyalah dipercaya dan kembali membawanya masuk kegerakan oikumene, dua periode menjadi sekum di PGIW Jakarta.

Karirnya dalam gerakan oikumene tidak berhenti setelah dua periode menduduki sekum PGIW DKI Jakarta 2015, tetapi justru dengan pengalamannya itu Manuel Raintung kembali didaulat oleh anggota PGIW DKI Jakarta memimpin PGIW DKI Jakarta menjadi ketua umum PGIW DKI Jakarta 2015-2020.

Tentu dengan pengalaman panjang dalam gerakan oikumene ini, maka sidang raya PGI secara nasional yang akan dilangsungkan di Sumba Nusa Tenggara Timur 8-12 November 2019, dia menetapkan hati maju mencalonkan diri menjadi sekum atau wasekum PGI.

Sekalipun tahun 2009 sudah pernah menjajal maju menjadi wasekum saat sidang SR PGI di Mamasa, Sulawesi Barat, tetapi belum dipercaya lantaran rekomendasi dari sinode GPIB saat-saat akhirnya hilang atau dihilangkan suratnya, membuatnya gagal maju.

Demikian pula saat sidang SR di Nias 2014 yang lalu, dirinya tak mendapatkan rekomendasi karena saat-saat akhir pencalonan tiba-tiba rekomendasi diberikan kepada alm Tonny Woworuntu.

Bicara gerakan Oikumene terang Manuel Raintung jebolan STT Jakarta ini, adalah perkara memberi dan menerima, banyak kepelbagian aliran gereja, seperti GKI, GPIB dan HKBP itu sangat berbeda namun mereka bisa bersama dan menyatu dalam gerakan kebersamaan dan sinergisitas dalam keoikumenean tersebut.

“Banyak orang hanya mau menjadi pemimpin di PGI tetapi minim pengalaman dalam gerakan oikumene, untuk itu jangan hanya peduli dalam jabatan saja, kalau itu yang terjadi tidak tepat PGI diisi pemimpin-pemimpin seperti itu”, ujarnya serius.

Siapapun pemimpin PGI nanti harus tetap ikut gerakan, siap maju dan berhadapan dengan perbedaan. Jangan cepat mundur apalagi ngambek kalau menghadapi perbedaan. Makanya terang Manuel siapapun yang akan menjadi calon pemimpin-pemimpin  PGI nanti harus punya reputasi dalam gerakan oikumene.

“Seorang pendeta yang tidak memiliki gerakan oikumene sukar untuk menjadi pendeta apalagi masuk dalam jajaran PGI secara nasional”, tegas ayah dua anak yang mengembalakan hampir 2000-an jiwa ini.

Pdt Manuel Raintung sebagai ketua majelis jemaat GPIB Horeb Kramatjati, sudah menerapkan bagaimana gereja berdampak di tengah lingkungan dengan membeli sebidang tanah disulap sebagai RPTRA, sehingga anak-anak atau masyarakat yang ada dilingkungan gereja bisa bermain di tempat tersebut. Semua ini dilakukan agar kehadiran gereja itu bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya.

Berbicara aman sebetulnya cukup dengan menjadi gembala di GPIB Horeb, tetapi ini persoalan panggilan, makanya sesibuk apapun pelayanan di gereja tetap akan memberikan waktu untuk gerakan oikumene ini.

“ Peran PGI secara nasional sudah maju, Bang Gomar sebagai sekum yang berasal dari aktivis perlu didukung dan dibantu. Makanya dibutuhkan orang-orang yang berpengalaman dan terbiasa dalam gerakan oikumene. Jangan pula ada yang ujug-ujug maju tanpa adanya pengalaman gerakan oikumene”, terangnya lantang.

PGI secara nasional perannya sudah semakin maju, sekalipun masih ada banyak tuntutan-tuntutan yang sekalipun tidak sesuai domain PGI, tetapi itulah yang harus dijawab. Sebab apapun namanya gerakan keesaan itu harus tetap berjalan. Sebab itu kedepan gerakan lintas agama keluar yang sudah kencang, harus dibarengi dengan gerakan lintas gereja juga kuat dan peran inilah yang harus didorong dan didukung sehingga mampu memperkuat kepengurusan yang akan datang.

“Makanya dalam kesempatan ini untuk memperkuat gerakan oikumene saya siap mencalonkan diri menjadi sekretaris umum maupun wakil sekretaris umum, apalagi saat perjumpaan anggota PGI di Solo di mana GPIB sebagai tuan rumahnya, ketua sinode GPIB secara terbuka bicara kepada pimpinan-pimpinan gereja yang hadir bahwa dari GPIB secara gamblang bahwa GPIB hanya memberikan satu rekomendasi yakni kepada saya maju dalam sidang raya PGI nanti untuk memperkuat gerakan kebersamaan baik ke dalam maupun keluar  untuk kebersamaan”, terangnya yakin.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *