Lima Tahun Pencapaian Kinerja Kemenristekdikti

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com Di penghujung tugasnya sebagai pembantu presiden sebagai menteri menristek dikti Republik Indonesia,  Prof. Muhammad Nasir menggelar jumpa wartawan  Jum’at (18/10/2019) bertempat di Auditorium Ristek Dikti Jakarta Selatan.

Sebelum Prof M Nasir mantan rektor Universitas Diponegoro, Semarang ini memaparkan pencapaian kinerja  selama lima tahun masuk dalam kabinet kerja Jokowi, terlebih dahulu diadakan pemutaran video pemaparan capaian pemerintahan Jokowi-JK selama 5 tahun.

Termasuk capaian kementerian di mana dia ditempatkan, M Nasir pria yang murah senyum ini mengaku tak ada cita-citanya jadi menteri yang ada hanya rektor, maka ketika masuk mengawali tugas tahun pertamanya, bagaimana tugas nya dalam birokrasinya menggabungkan kementerian riset dan tehnologi dan kementerian pendidikan tinggi dan itu berhasil.

Bahkan keberhasilnya di ristek dikti mendapatkan reputasi dari WDP ke WTP, dan beberapa penyelesaian masalah yang paling cepat menyelesaikan di kemnetrian riset dan dikti. Artinya selama dipercaya menjadi menteri riset dan dikti berhasil menata birokrasi.

Pencapaian berikutnya dengan penataan sistem, dulu kalau mengurus jabatan dari dosen ke lector kepala itu cukup lama, namun ketika di komunikasikan dengan bagian yang mengurusi kepegawaian semua urusan bisa dipangkas dan cukup cepat dalam mengurus jabatan dengan memakai sistem online.

Selanjutnya M. Nasir memaparkan ada 18 capaian seperti Daya Saing, Angka Partisipasi Kasar, Beasiswa Adik, Peningkatan kualitas SDMDIKTI, Peningkatan Kualitas SDM IPTEK, Perbaikan Riset dan Pengembangan, Penguatan Inovasi Industri, Penguatan Inovasi untuk Startup, Pengembangan Pusat Unggulan IPTEK, Pegembangan kawasan, sains dan teknologi, world class university, highlight kerjasama dalam negeri, higliht luar negeri, sistem informasi kerjasama, highlight komunikasi dan publikasi, pencapaian Kemenristek Dikti dalam Komunikasi publik.

Dari paparan tersebut terlihat trend peningkatan yang cukup significan seperti Pertama daya saing 2015-2016 dari 140 negara 37 Peringkat Skor: 4.5. Tahun 2019dari 141 negara 50 Peringkat Skor: 64.6. Kedua Angka partisipasi kasar (2015-2018). seperti diungkapkan M.Natsir “Penguatan Riset dan Pengembangan berkembang baik, dulu Indonesia menempati 4 di bawah Malaysia, tahun 2019 Indonesia 3.943 berada di Puncak untuk Asia Tenggara. Demikian juga terkait Paten juga menempati no.4 kalah dengan Malayasia, Thailand dan Singapura. Tahun 2019 dengan 2842 menjadi peringkat satu. Ini yang kita jaga terus,” bebernya.

Disamping itu terjadi juga penguatan inovasi Industri. Kemenristek sudah bekerja sama dengan Perguruan Tinggi dengan membuat sepeda motor listrik dan sekarang sudah pada tahap produksi.

“Saya tadinya menggagas import rektor yang ternyata sangat disorot tajam. Contoh NUS di Singapura ternyata rektor dan dosen dari Amerika sehingga mampu bersaing,” kata Nasir menjelaskan kenapa kebijakan itu dicanangkan beberapa waktu lalu.
Capaian terakhir, kata Nasir, kebijakan tidak ada lagi dikotomi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

“Dulu memang terjadi dan ada dikotomi tersebut, sekarang tidak ada lagi. Nanti bisa saja perguruan tinggi  swasta akan lebih baik dari Perguruan Tinggi Negeri jika tidak mau berbenah diri dan kalah bersaing,” terangnya.

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *