Toleransi Dalam Menyapa Tuhan

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com –Toleransi antar umat beragama, serta inkulturasi kepercayaan dan budaya di Nusantara telah terjadi sejak berabad-abad lalu. Tanpanya, agama-agama “impor” yang ada di Indonesia saat ini tidak mungkin eksis hingga sekarang. Toleransi atau bersikap toleran tidak berarti menyetujui atau mengimani kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda.

Justru toleransi itu sendiri merupakan bukti atas adanya ketidaksetujuan dan ketidaksepahaman sebagai sebuah keniscayaan. Umumnya masyarakat Jawa di luar keraton pada abad ke-14 dan 15 menganut kepercayaan Kapitayan. Para penyebar Islam kala itu menggunakan istilah-istilah Kapitayan yang telah menjadi tradisi, dengan tujuan menyebarkan Islam.

Salah satu contohnya adalah dengan menggunakan istilah “sembahyang” untuk memperkenalkan praktik berdoa dengan bentuk dan tata aturan “shalat”. Sembahyang merupakan istilah dalam ajaran Kapitayan yang berarti “menyembah Sang Hyang Taya”. Dibentuk dari kata “sembah Hyang”. Sang Hyang Taya sendiri dalam kepercayaan Kapitayan adalah “Tu”, yaitu menyiratkan kepada sosok ketuhanan yang tidak bisa diukur/dideteksi oleh panca indera manusia.

Maka dapat dipahami bahwa para penyebar Islam di Jawa kala itu mentoleransikan penggunaan kata “sembahyang” dalam kepercayaan lokal untuk mengganti diksi “shalat”, namun tidak mengubah esensi bentuk praktiknya (shalat). Terjadi inkulturasi lintas iman; Islam dan Kapitayan. Padahal berangkat dari pemahaman Kapitayan, sembahyang artinya menyembah Sang Hyang Taya, bukan yang lain.

Dengan kata lain, “sembahyang” (di masa itu) bukanlah “kata kerja”, tetapi “kata kerja ditambah nama objek”. Namun hal ini tidak dipermasalahkan oleh para penyebar Islam kala itu. Toleransi dan inkulturasi sudah ada di bumi Indonesia sejak berabad-abad lalu, bahkan dalam ranah yang cukup privat; “menyapa Tuhan”. Ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak inkuturasi yang terjadi.

Sebut saja beduk, santri, sowan, hingga pesantren, semuanya adalah hasil inkulturasi yang terjadi antara Islam yang masuk ke Indonesia dengan ajaran-ajaran Hindu-Buddha yang sudah mendiami Nusantara lebih dulu. Inklusifitas para penyebar agama Islam kala itu mungkin menjadi salah satu faktor determinan yang membuat ajaran Islam dapat diterima di Nusantara dan berkembang pesat.

Budaya merangkul memang selalu menjadi pemenang dari setiap perjalanan peradaban. Berangkat dari sedikit pemahaman inkulturasi lintas iman di atas, maka mempermasalahkan perkara salam-menyalam dan sapa-menyapa lintas iman di bumi Indonesia jadi terkesan ahistoris dan irelevan.

Jika para penyebar agama dahulu bersikap toleran bahkan dalam ranah yang privat (berdoa), maka para penerusnya seyogianya adalah insan-insan yang setidaknya mampu bersikap toleran meski sebatas pada ranah publik (menyalam). Penulis : Arbie Haman, S.I.P. IG: @arbiehaman Pendiri dan Ketua Angkatan Muda Protestan Pluralistik (AMPP). Kepala Departemen Wawasan Nusantara & Bela Negara DPP GAMKI 2019-2022.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *