Kampung Raja Prailiu Kambata Sebuah Pertemuan Antara Budaya dan Kekristenan di Sumba Timur

Ayo Bagikan:

Wangaipu, majalahgaharu.com-Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, menyimpan keindahan alam yang begitu memesona. Sebut saja keindahan pantai Walakiri, Puru Kambera, dan berbagai lokasi yang menyajikan pemandangan perbukitan savana seperti Bukit Warinding maupun Tenau. Belum lagi ditambah keberadaan air terjun Tanggedu dan Waimarang, yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sumba Timur. Selain alamnya yang indah, tempat ini juga menyimpan kekayaan budaya yang masih terjaga hingga  kini. Salah satunya adalah Kampung Raja Prailiu, sebuah kampung adat yang terletak di Kota Waingapu, Sumba Timur.

Di sela-sela raingkaian penyelenggaraan Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (SR-PGI) yang di helat di Kota Waingapu, November lalu, Majalah Gaharu berkesempatan mengunjungi Kampung Raja. Informasi mengenai Kampung Raja kami peroleh sehari sebelum kunjungan, dari seorang anggota panitia lokal SR-PGI, Salmon Dida. Pria yang berprofesi sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) Kabupaten Sumba Timur itu  berkisah tentang seorang raja Prailiu beragama Marapu yang memutuskan menerima baptisan dan beriman kepada Kristus, setahun sebelum dirinya berpulang. Karena informasi ini begitu menarik, kami bersama dengan beberapa pewarta lainnya di SR-PGI pun memutuskan meluncur ke Kampung Raja dengan ditemani Salmon Dida, Rabu (13/11/2019).

Tak butuh lama bagi kami untuk mencapai Kampung Raja dari pusat kegiatan Sidang Raya PGI, yang dikonsentrasikan di gedung GKS (Gereja Kristen Sumba) Payeti. Hanya memakan waktu 10 menit berkendara dari tempat itu. Di pintu masuk kami disambut oleh tugu batu dengan pahatan khas Sumba. Memasuki areal pemukiman, rumah-rumah adat Sumba yang biasa disebut Uma Bokulu atau Uma Mbatangu mendominasi pemandangan pada bagian kiri dan kanan jalan. Rumah adat Sumba sekilas tidak nampak berbeda dengan rumah-rumah panggung pada umumnya di beberapa wilayah nusantara. Hanya saja yang menjadi keunikan tersendiri adalah bentuk atap yang menjulang tinggi, serta ditutupi dengan ilalang kering sebagai pengganti genting. Oleh masyarakat setempat, desain atap model tersebut terbukti ampuh dalam meredam panas akibat sengatan matahari di wilayah Sumba. Di beberapa rumah, tampilan pemukiman juga dipercantik dengan beraneka corak kain Sumba yang dijual oleh sang pemilik.

 Selain rumah adat dan kain tenun dari daerah berjuluk Bumi Matawai Amahu Pada Njara Hammu, pemandangan Kampung Raja juga didominasi oleh pekuburan batu yang terletak hampir di setiap pekarangan rumah penduduk. Tak jauh dari sebuah makam batu berukuran besar, kami memutuskan berhenti dan menggali informasi dari seorang perempuan muda yang nampak menjadi pemandu wisata dadakan bagi sejumlah turis lokal. Belakangan kami baru mengetahui, perempuan bernama Resti Rambu Ana ini adalah putri dari almarhum Raja Prailiu, Tamu Umbu Ndjaka.

Ronald saat wawancara dengan isteri raja

Resti kemudian menjelaskan tentang makam besar yang kami lihat sebelumnya. Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Raja Prailiu. Bangunan tersebut berdiri kokoh dengan bagian atap yang terbuat batu seberat 40 ton dan memiliki enam tiang beton sebagai penyangga. Dari keterangan yang kami himpun atap batu itu dipahat dan dibawa khusus dari perbukitan Kawangu yang berjarak 12 kilometer dari tempat tersebut, ketika sang raja mangkat.

 Ukiran buaya dan kura-kura menghiasi tepi atap makam. Sedangkan di bagian tengah nampak pahatan rusa yang diapit pahatan dua orang penunggang kuda. Kuda memang menempati posisi yang penting di kehidupan masyarakat Sumba. Bahkan, kuda dianggap sebagai belahan jiwa. Maka tak heran bila kita akan menjumpai banyak sekali simbol kuda pada medium kain tenun hingga karya pahatan masyarakat, di Sumba.

Resti kemudian menyarankan agar kami menggali informasi lebih dalam dari Ibu Ratu Prailiu, Tamu Rambu Margaretha. Perempuan asli Lewa, Sumba Timur, ini,  menyambut kami dengan ramah dan menjelaskan sejarah singkat Kampung Raja Prailiu Kambata. Menurutnya Kampung Raja yang pertama kali berdiri berlokasi 200 meter dari tempat yang mereka diami saat ini, bernama Kampung Prailiu Kiku. Namun setelah pendudukan Jepang di Sumba, barulah Kampung Raja Prailiu Kambata berdiri.

“Saya sendiri tidak tahu persis kapan kampung ini berdiri. Namun yang saya tahu berdirinya kampung ini sesudah (pendudukan) Jepang. Kami sendiri masih bersepupu dengan kampung Prailiu Kiku,” jelas Margaretha.

Margaretha berkisah bahwa tahta Raja Prailiu tidak selalu diwariskan kepada sang anak. Ketika pemerintah kolonial Belanda masih berkuasa di nusantara misalnya, kakek dari Tamu Umbu Ndjaka pernah menolak untuk berkuasa. Pada akhirnya pihak Prailiu memanggil sepupu mereka dari Lewa, Sumba Timur, untuk datang dan meneruskan kekuasaan

Dari pernikahannya dengan Tamu Umbu Ndjaka, Rambu Margaretha dikarunai 8 orang putra dan putri. Seluruhnya mengenyam pendidikan tinggi di Yogyakarta. Bahkan tiga di antaranya merupakan sarjana lulusan Universitas Gadjahmada (UGM). Salah satunya adalah Resti yang merupakan lulusan Fakultas Kehutanan UGM

Saat ini pemerintahan Kerajaan Prailiu diteruskan oleh putera kelima Rambu Margaretha. Margaretha membeberkan, bahwa pihak kerajaan tidak mewajibkan penunjukan anak sulung sebagai penerus. Yang terutama, lanjutnya, dilihat dari faktor kepemimpinan dan kemampuan berkomunkasi dengan masyarakat luas. “Kebetulan anak laki-laki saya yang nomor 5 paling dekat dengan tokoh-tokoh. Jadi kalau ada acara-acara penting, dia yang mewakili. Dia juga merupakan lulusan sarjana komputer,” imbuhnya.

Saat ini terdapat 47 Kepala Keluarga di Kampung Prailiu Kambata. Margaretha lalu menjelaskan tentang  bagaimana suaminya yang memutuskan memeluk Kristen. Momen itu terjadi pada tahun 2007. Tamu Umbu Ndjaka dibaptis di GKS Prailiu cabang Payeti, yang dipimpin oleh Pdt. Simon Robert Muhu. Dengan dibaptisnya sang raja, praktis anggota keluarga dan masyarakat Prailiu Kambata mengikuti keputusan pemimpin mereka.

 “Tahun 2007 kami dibaptis. Ada sekitar 100 lebih orang yang kami bawa, baik dari Kawangu maupun tempat ini. Kami dibaptis di gereja Prailiu cabang Payeti, di atas sana,” ujar Margaretha sembari menunjuk ke arah gereja yang terletak 100 meter dari lokasi kami berada.

Dengan hadirnya Kekristenan di Kampung Raja Prailiu Kambata, pihak kerajaan maupun masyarakat akhirnya melepas segala praktik kebudayaan yang masih mengarah kepada ajaran Marapu. Hingga kini, ajaran Kekristenan terus hidup dan dilaksanakan secara baik oleh segenap warga Kampung Raja Prailiu Kambata.

 “Dulu ada banyak perayaan-perayaan ketika masih Marapu. Karena kami sudah masuk Kristen, jadi tidak ada lagi acara-acara yang mengarah ke Marapu. Jadi betul-betul sudah ajaran Kristen,” tegasnya.

Kehadiran Kampung Raja Prailu memegang peranan penting sebagai salah satu tempat yang mengabadikan eksistensi budaya lokal dari Sumba Timur. Sudah selayaknya bila pemerintah dan gereja memberikan perhatian lebih kepada tempat ini.

Tamu Rambu Margaretha berharap ada perhatian lebih pemerintah setempat maupun Provinsi dalam mendukung Kampung Raja sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang ada di Sumba Timur, termasuk ikut memperhatikan keberadaan dari stadion pacuan kuda di Kota Waingpu, yang merupakan aset warisan leluhur mereka. “Ya kami mau agar kampung ini diperhatikan jugalah,” tutup Tamu Rambu Margaretha. Ronald

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *