Advokat Kristen Sarankan Pendeta Berasal dari Bibit Unggul Keluarga  

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com- Seorang pendeta adalah figur yang amat dihormati. Tak hanya mewartakan pesan profetik, namun fungsi seorang pendeta atau hamba Tuhan yang utama adalah memberikan ajaran keteladanan bagi umat.

Namun tak bisa dipungkiri, bahwa menjadi seorang imam di sebuah institusi gereja bukanlah sebuah tugas yang mudah. Telah menjadi rahasia umum, tak sedikit oknum hamba Tuhan akhirnya jatuh ataupun terbawa arus duniawi.

Advokat Kristen Kamaruddin Simanjutak SH., MH, turut mengkritisi banyaknya oknum hamba Tuhan di masa kini yang justru hidup jauh dari firman Tuhan dan lebih mengedepankan gaya hidup duniawi.

Menurut pengamatannya, salah satu penyebab dari persoalan di atas adalah begitu mudahnya seseorang menyandang status kependetaan. Hal ini tentu berdampak langsung kepada minimnya pemahaman teologi yang mereka miliki.

“Menurut pendapat saya untuk menjadi pendeta itu pertama-tama dia harus belajar dahulu tentang teologia. Setidak-tidaknya pemuridan, supaya dia mengerti tentang firman Tuhan,” ujar Kamaruddin ketika ditemui di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, Senin malam (02/03/2020).

Adanya paradigma keliru yang terlanjur berkembang di kalangan keluarga Kristen juga dilihat sebagai salah satu penyebab dari minimnya output generasi unggul yang dibutuhkan oleh gereja di masa depan. Menurutnya, hingga saat ini tak sedikit pula keluarga Kristen yang masih salah dalam berpandangan bahwa anak-anak dengan prestasi dan kepribadian terbaik sudah selayaknya diarahkan masuk ke Perguruan Tinggi favorit. Sedangkan sisanya, barulah diarahkan untuk mendaftar di sekolah pendeta.

“Kemudian untuk orang yang mau sekolah teologia ataupun calon pendeta, haruslah anak terbaik. Anak pilihan, anak yang unggul. Kebanyakan umat Kristen kalau anaknya unggul masuk ITB, kemudian masuk UI. Kalau sedang-sedang lalu masuk USU atau IPB dan sebagainya. Lalu kalau ada yang bandel, yang susah diatur, nah masuk sekolah pendetalah ini supaya nanti bertobat. Pertanyaannya, kalau dia tidak berubah atau bertobat, bayangkanlah anak berandalan menjadi pendeta. Kira-kira apa yang dilakukannya ketika dia menjadi pendeta?” urainya tegas.

Kamaruddin menambahkan, saat ini umat sudah merasakan langsung bagaimana dampak dari proses instan dalam meraih gelar kependetaan. Selain pemahaman teologinya yang sangat minim, para oknum imam tersebut banyak yang menjadikan gereja sebagai sebuah tempat untuk memperkaya diri, ataupun melakukan tindak kejahatan lainnya seperti perselingkuhan.

“Berilah puteramu yang terbaik untuk menjadi pendeta, jangan yang bandel. Maka tak heran banyak pendeta yang berselingkuh. Karena apa? Karena yang disiapkan untuk pelayan Tuhan adalah yang bandel-bandel dan peselingkuh. Syukur kalau sadar dan bertobat. Kalau tidak sadar? Bayangkan saja mereka itulah yang akan membawa firman Tuhan, maka tidak ada hikmat,” katanya lagi.

Sebagai contoh, dirinya lalu mengambil keteladanan yang ditunjukkan oleh bangsa Israel, di mana bangsa pilihan Tuhan itu sangat menjunjung tinggi kekudusan dan amat menghormati sakramen yang mereka lakukan.

“Tuhan adalah kudus, tempatnya di tempat Yang Maha Tinggi. Kita harus menyembah-Nya harus dengan kekudusan, dengan kemuliaan-Nya, tidak boleh nama-Nya disebut sembarangan. Kita harus mengikuti cara-cara Israel menyembah Tuhan, harus dengan kekudusan. Cuci tangan, cuci mulut, cuci kaki, begitu,” imbuhnya.

Kamaruddin lalu mengambil kisah tentang nabi Samuel, di mana dirinya telah dipersiapkan untuk melayani Tuhan sejak usia dini.

“Seharusnya anak yang terbaik yang masuk di teologia dan paham tentang pemuridan. Seperti yang tertulis di Perjanjian Lama, di Samuel, ketika masih anak-anak dikirim ke sekolah (pemuridan) sehingga dia menjadi yang terbaik,” tutup Kamaruddin.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *