Louis Pakaila: Sikapi Pandemi Covid-19, Pengusaha Mesti Ikuti Anjuran Pemerintah

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com- Pademi Covid-19 (Corona Virus Disease-19) yang terjadi di Indonesia turut memukul perekonomian dalam negeri. Tak hanya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), imbas dari wabah virus corona juga mulai terasa bagi sejumlah pemilik perusahaan di tanah air.

Salah satu pelaku dunia usaha di tanah air, Louis Mario Pakaila, menuturkan wabah Covid-19 memiliki dampak yang luar biasa di sektor usaha. Menurut keterangannya saat ini tak sedikit perusahaan yang terpaksa menghentikan operasinya sementara waktu, guna mengikuti saran pemerintah dalam menanggulangi pandemi corona.

“Ini (pandemi Covid-19) efeknya luar biasa sekali. Saya punya MoU dengan 15 perusahaan asing yang bergerak atau aktif di Indonesia. Dan umumnya mereka (perusahaan asing) semua sepakat bahwa sementara ini harus tiarap (menghentikan operasi) dulu. Bukan hanya memberlakukan social distancing, tapi benar-benar penghentian operasi sementara, tidak ada kegiatan sama sekali,” ucapnya saat dihubungi Majalah Gaharu melalui sambungan telepon, Kamis siang (26/03/2020).

Louis mengemukakan kondisi seperti saat ini sungguh tidak bisa diprediksi sebelumnya. Dirinya juga mengaku bahwa saat ini kalangan pelaku usaha belum bisa menentukan hingga kapan kondisi ini berlangsung. Kondisi tersebut juga dipeparah karena masih ada pos biaya rutin yang harus dipenuhi pihak pengusaha selama penghentian operasi sementara berlangsung.

“Nah kalau tanya berapa lama, kita harus berhitung sejauh mana dan berapa lama daya tahan dari pengusaha. Kondisi ini sangat berat, benar-benar sangat berat. Mau sampai kapan? Karena kan tidak bisa berlama-lama. The show must go on, proyek harus jalan,” tambahnya.

Louis Pakaila juga menjelaskan, salah satu kebijakan yang ikut diterapkan saat ini adalah meminta para karyawan yang ada untuk bekerja dari rumah, atau work from home dengan mengandalkan kemajuan teknologi informasi. Dengan demikian, koordinasi dengan perusahaan asing yang menjadi rekanan tetap berjalan.

“Semuanya saya sarankan begitu (work from home). Jadi kita mengikuti anjuran pemerintah, kita tutup kantor. Saya buka komunikasi dengan 15 perusahaan, saya bagi masing-masing ada 1 karyawan yang memegang kontak dengan perusahaan di luar negeri. Mereka (karyawan) inilah yang melakukan kontak sehingga koordinasi tetap terjaga,” katanya.

Meski demikian dirinya tidak menampik bahwa saat ini ada sejumlah karyawannya yang tetap melakukan koordinasi pekerjaan dengan cara terjun langsung ke lapangan. Namun, tambah Louis, perusaahan yang dipimpinnya menerapkan kebijakan ketat terkait standar kesehatan dan keselamatan diri bagi para karyawannya di lapangan.

“Oh iya dong, pasti kami anjurkan agar mereka melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan sebagainya,” tuturnya.

Louis Pakaila (paling kanan) berfoto di Kantor Staf Presiden bersama Dr. Ali Mochtar Ngabalin (kedua dari kiri). Foto: Istimewa

Fokus ke Masyarakat Kelas Bawah

Selaku pelaku dunia usaha yang turut menggerakkan roda perekonomian, Louis juga menyambut baik keputusan pemerintah untuk memberi kelonggaran setahun kepada masyarakat (debitur) yang tengah mengangsur kendaraan bermotor. Namun dia meminta agar pemerintah turut berfokus kepada nasib masyarakat kelas bawah yang memang dekat dengan kemiskinan.

“Namun ada hal yang lebih urgent, dan itu lebih mencapai sasaran. Misalnya warga masyarakat yang kerjanya harian. Mereka kerja hari ini hanya cukup untuk uang makan. Istilahnya kerja hari ini, untuk makan hari ini pula. Nah kalau sudah dua minggu ini mereka tidak bekerja bagaimana mereka bisa makan? Ini perlu dipikirkan. Usul saya, pemerintah seharusnya ikut memerhatikan ini,” pinta Louis.

Dirinya lalu meminta agar pemerintah bijak dalam melihat persoalan, bahwa ada sekian banyak rakyat Indonesia yang bergantung kepada pendapatan harian di mana kondisi mereka tidak bisa disejajarkan dengan masyarakat kelas menengah yang sudah memiliki pendapatan tetap (fix income).

“Kalau orang yang bisa mencicil motor, mobil, rumah dan segala macamnya, itu minimum mereka sudah memiliki fix income.  Tetapi kalau masyarakat miskin, buruh harian yang terima gajinya harian, sebagai contoh ya, mereka tuh sudah tidak lagi mikir mau cicil motor atau mobil, apa lagi rumah. Tidak. Mereka hanya berpikir bagaimana bisa mendapatkan makan hari ini. Nah kalau sudah dua minggu ini mereka tidak ada pendapatan maka harus segera menjadi pokok perhatian dari pemerintah,” saran Louis.

Dalam pelaksanaannya, Louis juga berharap pemerintah segera menggerakkan seluruh perangkat yang dimiliki untuk menjangkau masyarakat yang terkena dampak ekonomi dari wabah Covid-19. Termasuk mendorong partisipasi milenial untuk membantu pendistribusian bahan pokok kepada masyarakat tidak mampu.

“Terjun langsung ke lapangan, libatkan seluruh perangkat pemerintahan mulai dari Pemerintah Daerah sampai unsur RT dan RW untuk melakukan pendataan semua warga yang ada, sampai di kampung-kampung. Ini akan jauh lebih efisien dan jauh lebih berdampak di lapangan. Apakah dengan cara melibatkan kaum milenial dengan membagi-bagikan sembako (Sembilan bahan pokok), bisa didistribusikan ke rumah mereka masing-masing. Mau seminggu sekali atau bagaimana, menurut saya cara ini akan lebih menyentuh ke pokok persoalan yang paling prinsip,” sambung putera keturunan Maluku, ini.

Tak hanya pemerintah dan BUMN, dirinya juga meminta agar jajaran pelaku usaha khususnya swasta bisa turut ambil bagian dalam mendukung penanggulangan Covid-19. Menurutnya salah satu yang bisa dilakukan pihak BUMN dan swasta adalah mengalokasikan bantuan lain di luar dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) yang telah menjadi tanggung jawab tahunan mereka.

“Pengusaha kan sudah ada hitung-hitungan untuk pos-pos pengeluarannya. Misalnya untuk CSR, itu biasanya perusahaan menganggarkan 3 hingga 5 persen dari profit mereka pertahun. Kalau memang sudah komitmen, perusahaan saya contohnya, CSR tetap jalan karena tiap tahun sudah ada anggarannya. Namun dengan keadaan (pandemic) seperti ini saya menyarankan baik perusahaan BUMN dan swasta tanggung-renteng menggunakan dana CSR kita, bersama-sama dengan pemerintah. Lalu kita bikin program karena dananya ada kok. Saya juga siap mendukung kalau memang ada pihak yang mau menggalang ini, ” tutup Louis Pakaila.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *