Soleman. R. Matippana: Dampak wabah pandemi Covid19 membuat perekonomian tak Menentu

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com- Menyikapi dampak wabah pandemi Covid-19 pada perekonomian, para pelaku usaha yang mengandalkan hidupnya pada siklus perekonomian yang kondusif dan normal. Sedangkan pada saat ini perputaran perekonomian nyaris berhenti.

Direktur PT. Rade Buana Teknik, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang supplying, engineering  contranctor, fabrication solution dan chemical solution, Ir. Soleman R. Matipanna, MH, saat dihibungi melalui telepon, Kamis siang (02/04/2020), angkat bicara soal imbas corona di dunia usaha khususnya di sektor perkonstruksian.

“Dalam beberapa hal memang dampak wabah corona ini signifikan, apalagi saat ini masih di awal tahun perusahaan-perusahaan banyak membuat planning, target yang ingin dicapai di tahun 2020 ini, ekspansi-ekspansi yang dicanangkan. Secara otomatis semua yang direncanakan menjadi rontok.

Lulusan Universitas Hasanuddin (Makassar) dan Universitas Gadjah Mada (Jogjakarta) ini menambahkan, baik dalam hal ekonomi makro dan mikro pun berdampak. Menurutnya sekarang dalam keadaan ekonomi dunia sedang krisis, tergantung pengusahanya bagaimana menyikapi hal ini.

“Bagaimana beradaptasi dengan situasi kondisi yang ada saat ini, berat, tidak seperti situasi yang normal. Peranan pemerintah sangat dibutuhkan dalam situasi ini minimal bisa meminimalisir kerugian pengusaha karena mata rantainya cukup banyak seperti kewajiban pada karyawan, kewajiban pada supplier. Kegiatan-kegiatan terhadap usaha itu semuanya akan terimbas, jadi bagaimana kita bisa bertahan dalam situasi wabah corona saat ini,” kata pria yang pernah meraih penghargaan sebagai Sahabat Muda PEWARNA, ini.

Lebih lanjut Soleman Matippanna menjelaskan bahwa hubungan dengan relasi dan mitra usaha saat ini cukup baik. Artinya, mau menerima kondisi saat ini, seperti proyek yang tertunda pelaksanaanya, order barang ke luar negeri namin barangnya terhambat. Demikian juga dengan jadwal pembayaran yang seharusnya sudah jatuh tempo, harus diminta penundaan pembayarannya.

“Tapi yang paling penting bagi saya pribadi adalah bagaimana para karyawan tidak di PHK (Putus Hubungan Kerja). Tapi untuk perusahaan skala besar tentunya tidak bisa dihindarkan untuk PHK karyawannya, atau  minimal dirumahkan. Ada beberapa perusahaan yang hanya sanggup membayar karyawannya hanya setengah saja. Dalam kondisi saat ini semua harus mau menerima kenyataan ini,”imbuh dari Ketua MUKI Bogor, ini.

Soleman Matippana (paling kiri) saat berbincang dengan Pangdam Jaya Mayjen Joni Supriyanto (kini KASUM TNI-kedua dari kiri). Foto: Istimewa.

Bicara mengenai kebijakan lockdown, Soleman mengungkapkan dengan situasi ekonomi yang sangat rapuh seperti saat ini, kebijakan lockdown akan lebih memperparah dunia usaha. Di mana kantor terkunci, pelayanan publik ditutup, sehingga semua lini menjadi stuck. Tetapi saat ini yang paling penting menurutnya adalah bagaimana pemerintah harus bisa mengawasi pergerakan masyarakat (social distancing) tetapi perekonomian masih bisa tetap berjalan walau tidak maksimal.

“Bila kondisi lockdown diterapkan, orang orang yang sudah sukses, punya tabungannya banyak yah fine-fine saja. Tetapi masih banyak orang yang saat ini mencari makan untuk makan satu hari. Sekarang ini saja yang kebijakan lockdown belum atau tidak diterapkan beberapa orang masih bisa keluar untuk bekerja, yang berarti masih ada pemberi kerja, yang artinya perekonomian  masih berjalan. Tetapi kalau benar-benar berhenti, hanya di rumah saja sedangkan pendapatan tidak ada, perut akan lapar, keluarga tidak bisa makan. Maka pikiran-pikiran yang menjadi benih tindakan kriminal bisa saja terjadi,” imbuh Soleman yang juga merupakan seorang aktivis pelayanan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS).

Masih soal lockdown, Soleman mengutarakan pemerintah juga mesti bijak dalam mengambil langkah serta mempertimbangkan dampaknya kepada masyarakat kelas bawah. Menurutnya asalkan pemerintah sanggup memastikan ketersediaan dan mendistribusikan bahan pangan bagi masyarakat hingga level yang paling bawah, kebijakan tersebut bisa saja dilakukan. Apalagi saat ini masih banyak warga negara Indonesia yang masih bergantung dari penghasilan harian, dalam arti uang yang didapatnya perhari hanya bisa digunakan untuk keperluan sehari saja, tanpa bisa menyisihkan sedikitpun pendapatan mereka untuk menabung.

Namun Soleman menilai, kesadaran masyarakat juga sangat diperlukan dalam menghadapi situasi ini. Menurutnya harus ada daya paksa dari pemerintah untuk menertibkan masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah (physical distancing), sehingga perekonomian bisa tetap berjalan.

“Dengan demikian pemerintah tidak perlu sampai menerapkan kebijakan lockdown sampai wabah Covid- 9 ini bisa berlalu. Semoga Pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa saling bahu-membahu, bersama-sama menghadapi wabah Covid-19 ini, dan keadaan Bangsa dan Negara bisa segera kembali pulih seperti sedia kala,” tutup pria yang aktif di gerakan Bela Negara, ini.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *