Pdt. Anton Tarigan: Empat Poin yang Harus Jadi Bahan Perenungan di Jumat Agung Kali Ini

Ayo Bagikan:

Kabupaten Karo, majalahgaharu.com- Umat Kristen se-dunia pada hari ini memperingati Jumat Agung, hari di mana Yesus Kristus memberi diri untuk wafat di Kayu Salib sebagai wujud pemulihan hubungan manusia dengan Allah yang sempat terpisah akibat jurang dosa.

Namun di momen Jumat Agung kali ini, serta menyambut perayaan Paskah yang akan jatuh pada Minggu mendatang (12/04/2020), suasana peribadatan terasa sangat berbeda, khususnya di Indonesia. Gedung-gedung gereja tidak lagi dipadati jemaat mengingat adanya imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk menerapkan social distancing sebagai dampak mewabahnya virus SARS Cov-2, atau Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Di tengah situasi yang sulit ini Sekretaris II Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di Indonesia (PGLII), Pdt. Dr. Ir. Anton Tarigan, MBA., M.Th, mengajak seluruh umat Kristen di Indonesia untuk kembali melakukan perenungan diri tentang makna Jumat Agung dan Kebangkitan Kristus. Menurutnya, masa-masa sulit ini merupakan bagian dari cara Tuhan agar umat-Nya bisa memaknai Jumat Agung maupun Paskah melalui dimensi yang lain.

“Ini bukan kebetulan bahwa tahun ini kita harus merayakan paskah, Jumat Agung dan Kebangkitan dalam situasi seperti sekarang. Di mana kita tidak bisa beribadah seperti biasa, mengalami perjumpaan face to face dengan jemaat. Tetapi ini bagian daripada cara Tuhan untuk kita bisa memaknai Paskah itu dengan dimensi yang lain,” buka Pdt. Anton Tarigan ketika dihubungi melalui sambungan whatsapp call, Jumat sore (10/04/2020).

Pdt. Anton Tarigan mengutarakan, setidaknya ada empat hal yang menjadi poin perenungannya di Jumat Agung dan Paskah kali ini. Keempat poin tersebut adalah pengampunan, level kesetiaan, level kasih, serta cara hidup yang sudah diteladani oleh Kristus.

“Saya mengamati dan mencermati, memaknai Jumat Agung dan Kebangkitan Tuhan Yesus ataupun Paskah tahun ini dengan empat hal. Yang Pertama, Salib Kristus mengajarkan kita tentang level yang baru daripada sebuah pengampunan. Sebuah konsep pengampunan yang dunia tidak kenal. Yesus sedang ajarkan suatu level pengampunan kepada dunia ini supaya memahaminya. Ketika Dia diolok-olok, ketika Dia ditangkap di Taman Getsemani dan muridnya memotong kuping Malkhus, Yesus berkata, ‘Sarungkan Pedangmu’. Begitu juga ketika orang sudah siap untuk menghujamkan tombak ke lambung-Nya, Dia berseru kepada Bapa, ‘Bapa ampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’. Itu pulalah yang saya ajarkan. Jadi, standar pengampunan yang diberikan dunia ini jauh daripada standar yang Yesus minta,” ujar Anton.

Berkaca dari penjabaran di atas, Pdt. Anton Tarigan menyoroti, belakangan ini ada begitu banyak orang yang saling menyalahkan atas terjadinya situasi wabah yang melanda Indonesia. Satu sama lain saling tunjuk kesalahan, termasuk turut menyalahkan pemerintah. Bahkan praktik ini turut dilakukan pula oleh para hamba Tuhan. Untuk itu dirinya mengajak agar setiap pribadi mau belajar bagaimana teladan Kristus mengajarkan tentang sebuah pengampunan.

“Ada banyak hamba-hamba Tuhan saling menunjuk-nunjuk satu dengan yang lain. Saya kira Paskah ini mengajak kita semuanya untuk melihat standar pengampunan yang Kristus berikan. Bahkan Dia berkata, ‘Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, kau kalahkanlah kejahatan dengan dengan kebaikan’. Sekarang saat yang tepat pula bagi hamba Tuhan untuk berada dekat di ‘Kaki Tuhan’,” tambah koordinator untuk Lembaga Global Outreach, ini.

Poin perenungan Kedua yang dimaknai Pdt. Anton Tarigan adalah tentang level baru dari sebuah kesetiaan, ketika membicarakan tentang pengorbanan Kristus di Kayu Salib. Ketika Yesus berada di Taman Getsemani, Dia berdoa, ‘Bapa kalau sekiranya cawan ini bisa berlalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku yang jadi melainkan kehendak-Mu’. Bahkan, lanjutnya, Matius di pasalnya yang ke-26 mencatat, bahwa pada masa-masa itulah merupakan waktu di mana Yesus merasa ketakutan, waktu di mana Dia benar-benar mengalami kengerian yang luar biasa dalam hidup-Nya.

“Dia berdoa seperti itu. Tetapi Dia berkata, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu. Ini berbicara mengenai sebuah kesetiaan. Dalam Filipi di pasalnya yang ke-2, di ayatnya yang ke-8, juga dikisahkan bagaimana Kristus berkata bahwa Dia tidak mau menganggap kesetaraan dengan Bapa. Tetapi Dia mau melakukan misi Allah, misi penyelamatan, sampai menuntaskannya di Kayu Salib. Ini adalah sebuah gambaran kesetiaan,” jelasnya.

Dalam korelasinya dengan kehidupan sehari-hari, Anton Tarigan menambahkan, dunia khususnya orang Kristen harus belajar dari kesetiaan yang sudah Kristus tunjukkan. Dalam konteks hubungan keluarga, tambahnya, teladan kesetiaan juga harus menjadi salah satu prinsip yang dihidupi. Dengan demikian maka keluarga-keluarga Kristen akan berkontribusi kepada menurunnya angka perceraian.

Selain itu, Anton mengemukakan pula bahwa prinsip kesetiaan juga mesti berlaku di hati anak-anak Tuhan dalam menjalankan aktivitas yang mereka geluti sehari-hari, yakni di lingkup pekerjaan. Anton meyakini, dengan berpegang kepada prinsip kesetiaan maka anak-anak Tuhan tidak akan menjadi penyebab kebangkrutan dari perusahaan-perusahaan tempat mereka bernaung. Tetapi justru kehadiran mereka akan menjadi berkat, membuat tempat di mana mereka bekerja turut membuahkan hasil yang baik, seperti yang sudah Yusuf contohkan ketika melakukan pelbagai jenis pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Hal tersebut, tambahnya lagi, tidak hanya mutlak berlaku pula bagi anak-anak Tuhan  namun juga para pemimpin bangsa. Menurutnya jika saja mereka (pemimpin bangsa) setia dengan sumpah jabatannya, maka kesejahteraan akan menghampiri bangsa ini.

“Kesetiaan Yesus Kristus itu adalah kesetiaan yang tidak bersyarat. Kesetiaan-Nya itu bukan dipengaruhi oleh kondisi, tetapi kesetiaan itu berbicara tentang komitmen. Nah itu yang Yesus Kristus tunjukkan. Dia sudah berkomitmen Dia akan menjadi Anak Domba Allah, domba sembelihan yang mati dengan cara disalibkan. Tidak ada cara yang lebih buruk untuk mati, untuk dibunuh, melebihi cara disalibkan. Dan itu Dia berkomitmen, setia melakukannya. Dunia ini penuh dengan pengkhianat-pengkhianat, di mana-mana kita bisa menemukan pengkhianat-pengkhianat. Oleh sebab itu dunia ini perlu belajar dari Salib Kristus tentang kesetiaan,” paparnya mendalam.

Sedangkan poin Ketiga yang ingin disampaikannya sebagai pokok perenungan adalah tentang bagaimana Salib Kristus mengajarkan level kasih kepada setiap orang percaya. Pdt. Anton menjabarkan, level kasih yang Kristus perkenalkan bukan sebuah kasih yang dibungkus dengan kain yang indah, bukan dengan gulungan kertas bewarna merah jingga, melainkan level kasih yang di dalamnya terdapat paku, kayu dan ikatan-ikatan.

“Itu kasih yang Kristus tunjukkan. Artinya apa? Kasih yang berdarah-darah, bahwa Dia rela sekalipun dengan berdarah-darah asal tetap bisa memberikan kasih. Dunia juga terbiasa dengan kasih kalau dia (kasih) tumbuh. Dan hari-hari ini kita perlu kasih yang seperti Kristus, kasih yang didasari, kasih yang dimodali oleh paku, darah. Artinya yang berkorban. Tidak ada kasih yang lebih besar selain daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya bagi saudara-saudaranya (Yohanes 15:13),” ujar Gembala Senior di Tower of Praise Church, Kabanjahe, Sumatera Utara, ini.

Bagian renungan terakhir yang ingin disampaikannya adalah tentang bagaimana Jumat Agung dan Paskah kali ini berbicara tentang Salib Kristus yang mengubahkan cara hidup umat manusia yang sebelumnya terbelenggu dosa.

“Salib Kristus itu mengubahkan cara hidup kita. Sejak Dia mati di Kayu Salib kita diperdamaikan dengan Tuhan. Kita tidak lagi digelisahkan oleh dosa. Sekarang kita bisa memanggil Dia ‘Abba, Bapa’. Kita menjadi Anak Allah. Jadi kalau kita sudah menjadi Anak Allah, mestinya kita hidup sebagaimana mestinya Anak Allah. Jangan hidup sebagai anak dunia, yang hanya mengejar harta kekayaan, jabatan dan sebagainya ,” bahas pria yang juga menjabat sebagai Chairman of Movement Day untuk Indonesia, ini.

Saat ini yang tak kalah penting menurut pandangannya adalah bagaimana orang Kristen mau merefleksikan hidup sebagaimana representasi dari pada Anak Allah di dunia. Sebagai Anak Allah, lanjutnya, maka sudah semestinya ‘gen Ilahi’ hidup di dalam diri setiap orang percaya, sebagai pribadi yang meniru dan memancarkan karakter Kristus di dalam kehidupan sehari-hari.

“Itulah pesan dari pada Jumat Agung. Jadi empat poin itu yang saya tangkap untuk kita renungkan. Dan bukan hanya bagi kita sebagai orang percaya, dunia perlu belajar dari salib mengenai pengampunan, mengenai kesetiaan, mengenai kasih, mengenai cara hidup yang baru,” imbuhnya menutup perbincangan.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *