Pandemi Corona Harus Mendorong Gereja Lebih Berempati

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com- Di tengah merebaknya wabah virus corona (Corona Virus Disease-19), umat Kristen dan gereja mesti menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama. Dalam aplikasinya di lapangan, kehadiran gereja juga harus menjadi jawaban dan penghibur bagi kondisi yang tengah dihadapi bangsa, saat ini . hal itu diungkapkan oleh Pdt. Charles Freddy LT,. M.M, M.Div, Ketua Umum Majelis Pusat Sinode Gereja Bethel Pembaruan Indonesia (MP-Sinode GBP Indonesia).

Saat dihubungi melalu sambungan telepon, Kamis siang (16/04/2020), Hamba Tuhan yang dipercaya sebagai Ketua Umum MP-Sinode GBP Indonesia pada bulan Oktober 2019 lalu, itu, mengungkap bahwa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia maka gereja harus mengikuti apa yang menjadi aturan kebijakan pemerintah, untuk tetap tinggal di rumah serta mengaplikasikan physical distancing. Namun di sisi lain, selaku orang percaya, maka umat harus tetap berdoa dan berserah meminta kekuatan kepada Tuhan agar bisa keluar dari situasi pandemi ini.

Pdt. Charles lebih lanjut berujar bahwa apa yang namanya musibah ini bukan secara kebetulan terjadi di Republik tercinta ini. Tetapi dia meyakini bahwa pastilah ada rencana Tuhan buat negara ini.

“Coba lihat dan perhatian sekarang orang diam dan tenang di rumah. Karena banyak yang diam di rumah polusi di Jakarta jadi berkurang, bahkan menurut drastis. Pemanasan global juga menurun drastis. Air di laut jadi banyak berubah, kalau tadinya warnanya tidak bening sekarang menjadi bening,” saksi bapak yang murah senyum ini.

Menurutnya, virus corona memberi dampak yang luar biasa, secara khusus untuk menyadarkan manusia agar menjaga lingkungan. Ke depannya diharapkan situasi saat ini menjadi pelajaran berharga bagi manusia agar menjadi lebih peduli dan tidak merasa lebih kuat serta mengandalkan diri sendiri

Pendeta Charles melihat, meski didera wabah ada poin-poin positif yang bisa diambi sebagai bahan untuk perenungan. Sekarang, tambahnya, terbukti bahwa seluruh dunia sujud kepada Tuhan seraya meminta agar pandemi corona segera usai.

“Memang kalau dilihat dari sisi politik pasti berbeda dan lain lagi, demikian juga ketika kita lihat dari sisi ekonomi juga akan lain lagi. Mana yang harus kita bicarakan dan diskusikan kepada jemaat. Nah, seharusnya sebagai hamba Tuhan berbicara sesuai koridor sesuai dengan firman Tuhan. Bagaimana waktu itu menolak sampar seperti yang terjadi di Mesir dan bagaimana mengatasinya. Toh semua kembali ke Sang Pencipta dan Penyelamat itu,” ungkapnya.

Kemudian mengenai apa yang dilakukan dan sikap Gereja Bethel Pembaruan dalam menyikapi pendemi ini, adalah sama dengan sikap pemerintah dengan menyampaikan ke seluruh warga jemaat GBP Indonesia, agar tetap diam di rumah. Maksud duduk diam artinya bukan hanya diam dan duduk secara harafiah, tetapi melakukan semua aktivitas di dalam rumah.

“Tetap bersandar kepada Tuhan, adakan mezbah setiap rumah tangga. Demikian juga ibadah minggu tetap lakukan dengan streaming. seperti itu. Saya katakan mengenai aktivitas ibadah tetap biasa, cuma tempat dan situasinya yang berbeda,” ujar hamba Tuhan yang pernah menjadi Sekretaris Umum GBP, ini.

Mengamati gereja dalam mengikuti saran pemerintah termasuk, di dalamnya saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, dirinya mengungkapkan bahwa gereja sendiri tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Menurut Pdt. Charles, gereja mendukung penuh langkah yang dimaksud, termasuk termasuk GBP Indonesia sendiri.

Menanggapi diberlakukannya PSBB, Charles mengungkap langkah tersebut sangat positif jika dilihat dari sisi kesehatan dan rohani. Dirinya tidak menampik jika ada pihak tertentu yang menjadikan kondisi ini untuk dipolitisir dan dikait-kaitkan dengan ketidaksempurnaan kepemimpinan dari Kepala Negara. Bahkan hingga membahas soal potensi terpuruknya ekonomi Indonesia. Tetapi sebagai seorang Hamba Tuhan dirinya enggan berbicara terkait masalah tersebut, karena merasa tidak menjadi ranahnya.

Sikap gereja sendiri terhadap orang yang terdampak, menurut mantan politisi ini, jelas bahwa landasan bergeraknya suatu gereja harus terletak pada rasa kasih untuk saling tolong-menolong, khususnya ketika ada jemaat yang membutuhkan pertolongan otomatis gereja harus ambil bagian. Itulah fungsi dan panggilan gereja, menurutnya.

Mengenai jemaat yang terdampak gereja yang merupakan tubuh Kristus, kalau ada jemaat yang sakit, yang lain harus membantu. Karena prinsip-prinsip tubuh Kristus itu harus ditetapkan di gereja.

“Barangkali memang mekanisme setiap gereja berbeda, ada yang diberitakan dan diekspos secara besar-besaran ada yang silent ini semua tergantung kebijakan gereja ataupun pimpinannya”, ujarnya serius.

Ibadah secara Online

Tentang ibadah secara online menurutnya efektif juga, karena mereka sendiri merasakannya. Ketika ditanya mengapa, dirinya menjawab karena ketika jemaat ke luar dari rumah akan mendapatkan konsekuensi dan risikonya, untuk itu mereka tinggal di rumah, malah ada antara mereka meminta agar ada firman baik streaming maupun WA group.

Pendeta Charles mengajak saat di rumah isilah rohani jemaat agar tetap kuat dan tegar menghadapi situasi ini. Berbicara dampak gereja terhadap kolekte begini, lanjut Charles bahwa selama beribadah di rumah yang berlangsung ada puji-pujian penyembahan dan kotbah atau firman,   baginya kolekte itu bukan yang menjadi utama.

Tetapi bagaimana mengutamakan firman itu agar menjadi dasar untuk dimengerti, memahami dan kokoh dalam menghadapi situasi ini.

“Minimal melalui firman, jemaat tidak ragu, tetap dijaga dan dipelihara dan diberkati,” tegasnya.

Tak dipungkiri memang bahwa gereja juga membutuhkan biaya operasional dan sebagainya, tetapi jangan lupa bahwa Tuhan menjaga dan mencukupkan bagi orang yang takut akan Dia .

“Kalau memang kita dekat dengan Dia pasti akan dicukupkan kebutuhan kita, itu saya sangat percaya dan mengimani itu, hampir satu bulan tidak mengikuti kegiatan kalau dilihat dari ekonomi keuangan kita tidak ada masukan, tetapi bagi saya tak ada persoalan yang penting semua jemaat mengalami sukacita, jemaat terus dikuatkan dan jemaat terus diiisi dengan firman”, bebernya yakin.

Jadi bukan kolektenya tetapi sekali lagi firman-Nya, kalau orientasinya ke kolekte pasti ada sungut-sungut dan keluh kesah ada sakit hati dan sebagainya. Tetapi bagi gereja harusnya bagaimana kebenaran firman itu disampaikan. Walaupun kondisinya seperti apapun kebenaran itu harus tetap disampaikan.

Charles lalu mengungkap, dengan kejadian wabah ini, siapapun kita, terutama hamba-hamba Tuhan harusnya berhikmat, harus menurut saja apa kata pemerintah. Gereja jangan over reacting kalau itu diteruskan apa yang terjadi.

“Saya punya acara banyak tetapi dengan adanya virus corona ini saya pending, dan saya sampaikan ke cabang-cabang untuk dijadwal ulang, dan mereka mengerti dan tak terjadi apa-apa terhadap jemaat GBP Indonesia ini,” ujarnya.

Berbicara Gereja Bethel Pembaruan sendiri, secara administratif ada di tahun 2010, jadi masuk sepuluh tahun. Sebelumnya ada 176 gereja lokal. Tetapi, sekarang pimpinan mengalami perubahan, banyak anggota gereja mengalami pergeseran, karena ternyata banyak yang datang ujung-ujungnya hanya mencari sesuatu yang menguntungkan.

“Biasa ya ada gereja yang mau bergabung karena motif akan memperoleh sesuatu, kalau orentasinya pelayanannya seperti itu, akan mundur dan ini benar terjadi di sinodenya,” tukas Pdt Charles ketika diminta komentarnya tentang sinode GBP Indonesia.

Sedangkan sekarang ada 67 gereja lokal di bawah kepemimpinannya. Karena banyak yang tergerus situasi tetapi ada plusnya justru lebih kompak dan solid,” ujarnya mantab.

Di penutup perbincangan Pdt. Charles turut mengucapkan rasa terimakasihnya kepada tim medis, dokter, perawat, bidan, serta para relawan yang dengan tulus menjadi garda terdepan dalam mengatasi pandemi virus corona.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *