Kilas Perjalanan Pdt Dominggus Mayor 60 Tahun melayani Tuhan di ladang Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI)

Ayo Bagikan:

Majalahgaharu, Jakarta-Saat dies natalis STT IKAT 2021 salah satu agendanya adalah memberikan penghargaan baik tokoh maupun gelar akademis atau kehormatan. Pdt. Dominggus Mayor pendeta sinior dari Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) merupakan sosok yang diberikan gelar tokoh oleh STT IKAT, Jakarta.

Pdt Dominggus Mayor pria kelahiran 85 tahun yang lalu terlahir dari keluarga sederhana bahkan bisa disebut miskin, kedua orang tuanya buta huruf karena belum mengenal sekolah pada saat itu tetapi mereka adalah dua orang yang memiliki iman sangat kuat kepada Tuhan Yesus Kristus.

Tentang kehidupannya adalah hidup dalam garis kemiskinan membuat minder/ malu ke sekolah, dan guru yang saat itu tegas membuatnya takut untuk sekolah. Akibatnya sempat memutuskan berhenti sekolah dan tahun 1950 pindah ke Manokwari dan bergabung dengan anak-anak mabuk. Kehidupan muda yang penuh dengan mabuk dan pesta pora, mencuri dan berkelahi dengan Tujuan mencari kesenangan dan melupakan kemiskinan.

Bagaimana kalau kemudian bertobat diceritakannya suatu hari selesai pesta pora dan mabuk, diamengalami panas tinggi , muntah-muntah dan sakit kepala dan tidak mau makan. Sehingga temannya bernama Agus Asaribab memanggil pendeta orang barat untuk berdoa dan menginjilinya. Mendengar setiap firman, entah kenapa hatinya terbuka bertobat dan menerima Yesus, dan terus mendapat binaan dan mengikuti pendidikan di sekolah Alkitab Erikson-TrittTahun 1961- 1959   di Manokwari di sekolah misi The Evangelical Alliance Mission (TEAM) .

Kemudian tentang cerita keterlibatan pelayanannya dimulai dari latar belakang hidup yang tidak baik, Tuhan panggil dan pakainya melayani kepada suku-suku yang belum mendengar injil, dan orang-orang terasing seperti di tahun 1961-1993,   Ikut serta membuka pelayanan GPKAI di Papua Bagian Selatan antara lain:  Asmat Pante (Taoro, Kawem, Primapun, Kaifim, dll) , Asmat Darat ( Senggo, Tamanim, Binam, Wowi, Waganum, Ginak, Bubis, Patipi, Bumu, Dan Lain-Lain.)

Tantangan Pelayanan di pedalaman

Saat penginjilan di Asmat

Tentu tak mudah dalam menekuni pelayanan banyak sekali tantangan yang menghadang antaranya medan yang berat tak ayal saat melayani Naik Helikopter turun kali brasa, Asmat, Papua dan masyarakat tangkap dan Sandera dan latar belakang masyarakat kanibal dan saat itu saya hanya berdoa jika Tuhan menolong keluar tempat ini maka saya akan kembali untuk melayani  dan ternyata Tuhan Tolong karena itu saya masih tetap melayani.

Selain tantangan dari medan pelayanan juga bagaimana tantangan Pelayanan dalam keluarga. dimana kondisi terberat baginya dalam pelayanan adalah ketika anak perempuannya bernama Yohana Mayor diculik dan di Sandera selama 20 Tahun oleh Gerakan Pengacau Liar (GPL).

“Pada tahun 1961 saya diutus sebagai seorang penginjil ke daerah selatan Papua untuk membantu dan menginjili orang Asmat bersama dengan seorang Misionaris yang berprofesi sebagai dokter bernama Ken Dresser dan Misi TEAM – Illinois USA. Saya melayani selama 10 tahun bersama Dr. Ken Dresser.Tahun 1972 dipindahkan melayani dari Asmat ke Senggo, Citak untuk memulai pelayanan baru dengan pengobatan dan penginjilan bagi suku-suku terasing”, saksinya mengenang.

Tentang putrinya tersebut Pdt Dominggus yang pernah menjabat Sebagai Ketua Majelis Umum GPKAI Tahun 1993- 2002    menceritakan bahwa pada tahun 1975, anak Yohana dilamar oleh Yonas Faidiban dan kemudian menikah dengan Yonas Faidiban pada bulan Desember 1976. Setelah menikah Yonas Kembali ke Sumapro Distrik Jita Asmat untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Guru SD YPPGI.  Dua tahun setelah menikah tepatnya pada tahun 1977 bulan Oktober Yohana melahirkan anak perempuannya yang diberi nama Emy. Kala itu kelompok Gerakan Pengacau Liar itu sangat ditakuti oleh banyak orang.

Pada saat Yohana melahirkan anak kedua ia kemudian diculik oleh Gerakan pengacau liar (GPL), sedangkan Yonas, suami Yohana dan bayinya yang baru lahir dibawa lari untuk dibunuh. Mereka menyandera Yohana selama 22 Tahun selama itu kami tidak tau keberadaan Yohana, Yonas dan anak mereka.

Kemudian diketahui bahwa Yonas suami Yohana sudah mati dibunuh oleh GPL sementara bayi kecil Yohana meninggal kehausan sebab air susu telah kering karna tidak ada air dan makanan, Sementara Emy, Putri pertama Yohana yang pada saat itu ikut dengan ditangkap dan  dipisahkan dari ibunya lalu mereka merencanakan untuk membunuhnya juga, tetapi kemudia ada pertolongan Tuhan melalui salah seorang anggota GPL , ia membawa kabur Emy  lalu menyerahkannya kepada keluarga Yohana.

Jadi  selama 22 Tahun Yohana menderita, dan kami keluarga juga menderita karena mengingat Yohana. Namun ternyata masih ada  mujizat Tuhan sehingga setelah 22 dalam penguasaan penculik Yohana bersedia dikembalikan kepada keluarga dengan uang tebusan 50jt (kala itu) dan 3 ekor babi, dan itu mujizat Tuhan saja yang mengerjakan, menggerakan hati sehingga ibu yohana bebas dari sandera itu

Perjalan pelayanan memang tak  mudah, namun demikian dengan keyakinan bahwaTuhan memberikankekuatan itu sudah terbukti 60 tahun dilaluinya dan luar biasanya hingga kini Pdt Dominggus yang pernah menduduki peran penting di gerejanya seperti menjadi penasehat di YPPGI, menjabat Sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Gereja GPKAI.

Dan yang patut diteladani dari pdt yang satu ini tak peduli dengan usia tetap membuka Jemaat baru di Inggandi Pasir, masih aktif Sebagai Anggota Majelis Pertimbangan Gereja , Aktif Sebagai Gembala Jemaat GPKAI Inggandi dan tetap membuka Pos PI Baru di Andai, Manokwari

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *