
Sebuah interaksi menarik berlangsung! Saat Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait sedang menyampaikan sambutan dalam “Simposium Energi Nasional PIKI Ketahanan Energi Nasional Menuju Swasembada Energi Berkelanjutan” di Kampus UPH, Lippo Karawachi Kamis (15/10) malam. Dari atas mimbar Menteri PKP tersebut bertanya langsung kepada Tony Wenas selaku ketua pelaksana Simposium PIKI.
“Terimakasih Pak Tony Wenas atas pemikiran yang luar biasa. Beliau ini punya jabatan luar biasa. Di masa Pak Tony memimpin saham Freeport jadi mayoritas di miliki Indonesia. Apa sih rekomendasi yang paling penting dari pemikiran Pak Tony Wenas dan PIKI? Semoga ini bisa diakomodir oleh Pak Bahlil? Kalau pemikiran biasa-bisa, Pak Bahlil tidak suka biasa-biasa. Sukanya yang luar biasa. Kalau hanya follower dia tidak bikin itu kebijakan. Tetapi kalau trend setter dan solutif baru diakomodir. Contoh investasi mangkrak bisa diurus Pak Bahlil, semua mesti terukur. Sedikit saja Pak Tony contoh apa?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja spontan, tanpa terencana, dihadapan langsung Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan puluhan tamu kehormatan lainnya.
Ketua Steering Commitee Simposium PIKI Clayton Allen Wenas akrab disapa Tony Wenas langsung merespon dengan baik dan sigap, “Pemikiran utamanya adalah untuk mendorong pembangunan pembangkit tenaga listrik nuklir karena itu adalah rendah emisi dan berdaya besar dengan cara yang aman dan selamat. Terutamanya untuk penyediaan listrik untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) Pak, baik of grid maupun on grid.
Ara melanjutkan, “Apa bagus dan hebatnya kalau pemikiran itu jadi sebuah kebijakan? Apa mamafaatnya bagi negara dan rakyat?” Tony menjelaskan mamafaatnya adalah tersedianya energi yang melimpah dengan harga yang relatif murah dan emisi bersih.
“Nanti Pak Bahlil yang berhak menilai apakah pemikiran PIKI itu biasa-biasa atau luar biasa! dan bisa dijadikan rujukan,” ujar Ara.
Tony Wenas yang juga Presiden Direktur Freeport Indonesia, sebelumnya menyampaikan secara tertulis 4 rekomendasi hasil Simposium PIKI yakni pertama, bauran energi berkelanjutan menuju 2045 dan net zero emition tahun 2060. Kedua, mendorong PLTN yang aman, rendah karbon namun tetap menghormati lingkungan, safety dan juga hak azasi masyarakat sekitar. Ketiga, akses energi sebagai kebutuhan dasar rakyat. Dan terakhir, keempat percepatan RUPTL dengan dukungan jejaring PIKI. Rekomendasi ini hasil dari diskusi ilmiah para pemikir di PIKI seperti Dr. Ir. Rocky Paotonan, P.Eng, Dr. Ir. jupiter Sitorus Pane, Dr. Sampe Purba, Dr. Lusiana Idawati dan lainnya.

Kabar baiknya, rekomendasi PIKI ini, disambut baik dan langsung diperintahkan Menteri Bahlil Lahadalia menjadi road map kebijakan ESDM. Ada dua poin rekomendasi Simposium PIKI yang diakomodir langsung yakni rekomendasi mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan mendorong mengutamakan penyediaan tenaga listrik untuk daerah 3T.
Menyangkut energi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 70 persen energi baru terbarukan, Bahlil menegaskan pada dasarnya bahwa pemerintah (ESDM) sepaham dengan rekomendasi PIKI.
Ia menyampaikan bahwa daerah 3T sampai saat ini, masih terdapat 11 ribu desa yang belum mendapatkan listrik. “Kita sudah merdeka 81 tahun, bayangkan masih ada desa yang seperti itu. Banyak daerah 3T dimana anak-anak lahir tanpa listrik, masih pakai lampu pelita. Saya merasakan sama. Barangkali saya Menteri ESDM tuntut supaya terangi desa.”
Adapun Program ESDM 2029-2030 adalah semua desa di Indonesia harus sudah mendapatkan listrik. Data 2025 masih sebanyak 1.400 desa masuk listrik. Pada 2026 desa teraliri sebanyak 4.200 desa dan untuk 2027 menimalkan sama.
“Insya Allah saya istigomah, saya jadikan dasar pijakan. Juga merumuskan anggaran setiap tahun akan disediakan 10-15T, untuk anak di desa pedalaman dan pulau kecil. Mereka harus mendapat hak sama mendapat pelayanan listrik negara. Pak Dirjen langsung masukkan rekomendasi PIKI ke road map ESDM,” tegas pria asal Pakfak Papua ini seraya memerintahkan.
“Tidak berlebihan daerah 3T harus dituntaskan. Setiap desa harus menerima listrik. Saya mimpi dengan adanya listrik mereka akan sekolah, bisa membuka mata dengan dunia internasional. Ada kesempatan yang sama, sama seperti anak-anak yang tinggal di pusat kota. Saya yakini nasionalisme sejati 24 karat masih ada di pelosok Indonesia,” imbuhnya.
Menyangkut dengan nuklir, Bahlil terus terang dan jujur menjelaskan bahwa baru pulang dari Rusia. Ia mendampingi Presiden Prabowo Subianto membicarakan hubungan bilateral langsung dengan Presiden Vladimir Putin.
“Rusia ini khan bukan kaleng-kaleng dalam penguasaan teknologi nuklir. Salah satu pembicaraan kemarin adalah Rusia menawarkan teknologi nuklir ke Indonesia. Tidak hanya Rusia, tawaran yang sama datang juga dari Jerman, Jepang, Korea dan Kanada.”
Kata Bahlil, dalam RUPTL Nuklir, tadinya target 500 MGW karena ada dorongan PIKI yang mengatakan bahwa nuklir salah satu energi bersih, murah dan aman sebagai masukkan, maka kita naikkan sekarang 1.500 MGW untuk tahap pertama 2026. “Kalau belum diubah Pak Dirjen, maka belum ada RUPTL, tidak ada tanda tangan,” tegas Bahlil kepada para Dirjen ESDM yang malam itu dibawa lengkap.
Menariknya, di kesempatan itu Bahlil juga mengingatkan bahwa PIKI merupkan salah satu pendiri Sekber Golkar yang cikal bakal Partai Golkar yang dipimpinya. Ia menjelaskan ada 97 organisasi pendiri Sekber Golkar dan salah satunya PIKI.
“Jadi 10 organisasi cendekiawan, termasuk di dalamnya salah satunya PIKI, merupakan deklarator. Yang menandatangi deklarasi adalah Pak Radius Prawiro, mungkin tidak banyak tahu orang PIKI ya,” ujarnya sembari menambahkan bahwa PIKI sudah dari dulu punya keterkaitan dengan Golkar. Tak lupa ia mencolek Ketum PIKI Ara Sirait yang telanjur masuk Gerindra. “Tapi Pak Ara ya sudahlah kita relakan, yang lain bagaimana,” candanya.
Sebelumnya, Ketua Umum PIKI Maruarar Sirait menyampaikan harapannya bahwa rekomendasi hasil Simposium dan FGD PIKI, buah dari pemikir-pemikir PIKI bisa menjadi policy dan bisa diterima masukan untuk pengambilan kebijakan negara.
“PIKI berharap akan ada Leimena-Leimena baru, Radius Prawiro, Luhud Panjaitan, Manase Malo yang lahir menjadi tokoh bangsa. Akan ada nanti regrenasi baru. Kita yang senior-senior ini hanya memfasilitasi saja. Suatu saat, kalian berdiri di panggung ini, kami hanya melihat dari jauh. Kami bangga regrenasi umat Kristen dalam negara Indonesia,” tegasnya.
Seperti biasa yang kerab dilakukan tiap acara, kali ini Ara juga tak lupa memberi bantuan modal bagi 10 mahasiswa UPH masing-masing senilai 200 juta. “Bantuan ini diberikan supaya apa? Pada waktunya nanti, mereka-mereka bisa menjadi James-James (James Riady) yang baru. Menjadi pengusaha Kristen yang nasionalis dan tidak memikirkan dirinya sendiri.” Tidak hanya itu, bantuan 100 juta untuk 10 orang diberikan juga kepada mereka yang terlibat menjadi panitia Natal Nasional 2026.
Lebih lanjut Ara mengingatkan, jadilah Kristen yang juga berwawasan nasional, Kristen yang inklusif bukan ekslusif. Kristen yang selalu berfikir punya sumbangsih untuk Indonesia.
“Saya merasakan indahnya Indonesia. 15 tahun maju dari Dapil Subang, Majalengka dan Sumedang (SMS) 99 persen warganya Islam dan 95 persen suku Sunda. Gus Dur pernah tanya, kenapa bisa terpilih 15 tahun dari sana? Saya jawab Gus Dur saya menemukan Islam yang bersahabat. Saya belajar dari Pak Bahlil yang selalu peduli dengan kader-kader lintas Cipayung yang bukan saja HMI tapi peduli juga GMKI, PMKRI, GMNI, PMII dan lainnya. Semua diakomodasi, jadi contoh yang baik. Dia bantu Mesjid dia bantu sekolah theologia dan gereja-gereja di Indonesia. Pemimpin Indonesia seperti Pak Bahlil yang be one,” pungkasnya dihadapan mahasiswa UPH dan tamu undangan seperti GMKI, IPB, ICMI, ISKI, Mataqin dan banyak tokoh-tokoh lintas agama.
Malam semakin spesial, kala Ara mengajak kompak seluruh panitia bersama hadirin menyanyikan lagu, “Hidup Ini adalah Kesempatan,” karya Pdt. Wilhelmus Latumahina. Sebelumnya, sahabatnya Tony Wenas tampil memukai bermain piano dengan menyanyikan lagi, “Oh Love My Life,” dari Queen. Terlihat wajah sumringah Bahlil menghadiri acara malam itu.
