Dr. Ali Mochtar Ngabalin M.Si : Yang Ribut Mau Ganti Presiden Itu Tidak Punya Peradaban

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com – Yayasan Komuniaksi Indonesia dan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Id) menyelenggarakan talkshow edukatif dengan tema “Warna Politik Untuk Keberagaman Indonesia” dengan narasumber Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si dipandu oleh Dr. Bernard Nainggolan Direktur Yayasan Komunikasi Indonesia. “Haleluyaaaa, Puji Tuhan….. bukan kebetulan kita dipertemukan disini, ada maksud Tuhan yang baik,” ungkap Ali Mochtar Ngabalin sumringah ditengah perwakilan ormas dan wartawan Nasrani (Kristen/Katolik) yang memadati Gedung YKI (Yayasan Komunikasi Indonesia), jalan Matraman Raya 10A, Jakarta Timur.

Ali Mochtar Ngabalin kelahiran Fak-Fak Papua Barat mengaku, ada beberapa keluarganya penganut Kristen Protestan, meski ia sarat dengan pendidikan dasar di madrasah (SD Inpres Fak-Fak, Madrasah Tsanawiyah Fak-Fak, Madrasah Aliyah Fak-Fak, Mualimin Muhammadiyah Makassar, IAIN Alauddin Makassar, kemudian di Universitas Indonesia), kerap dituding intoleran. Apalagi stigma tersebut saat Pilpres 2014 lalu sangat berseberangan dengan Jokowi.  “Saat Jokowi-JK menang seperti ditetapkan MK pemilu 2014, saya langsung katakan itu berarti final and binding. Karena itu kita harus terima itu sebagai satu kenyataan. Saya yakin Tuhan terlibat mengangkat Jokowi- JK. Saya katakan silahkan mendukung beri sumbangsih atau memilih oposisi. Saya waktu itu direktur politik KMP lho,” ujarnya menjelaskan posisinya pada pemilu 2014 yang secara jantan menerima putusan MK.

Dua masa Pilpres ini, 2014 dan 2019 yang akan datang, Ali Mochtar Ngabalin tetap akan melekat sebagai politisi penuh kontroversi dan ‘layak mendapat bintang’. Tegas dan cerdas ‘melibas’ lawan politik menjadi ciri khas dirinya.  Meski pernah dilaporkan oleh tim kuasa hukum Jokowi di Pilpres 2014 lalu, Ali Mochtar Ngabalin berkisah bahwa, “Ketika berhadapan dengan Ir Joko Widodo saya katakan, tidak ada darah pengkhianat untuk bangsa ini di dalam tubuh saya.” Dan lagi-lagi Ali Mochtar Ngabalin dengan suara semangatnya berkata, “Haleluya… Puji Tuhan”

Mengawali Talkshow edukatif ini, Ali Mochtar Ngabalin menyebutkan setidaknya ada lima variabel penting sebagai tanda orang beriman dalam membangun NKRI. Indonesia terdiri dari beragam suku tetapi hidup rukun dan damai. “Karena itu jangan terlihat alim di depan, tetapi teriak yang jelek di belakang. Tidak bolehlah jadi orang-orang yang munafik dan penuh muslihat,” ujarnya memperingatkan.

Variabel yang pertama, believe in God. Harus percaya ada Tuhan. “Kita ini (agama samawi)  dari sumber yang sama dari Ibrahim atau Abraham turun ke Hagar dan Sara terus Ismael dan Isak. Dalam konsep peradaban percaya pada Tuhan itu variabel yang paling penting,” tukasnya. Kedua, Intellectual Knowledge. Percaya bahwa kemampuan intelektual berasal dari ilmu/pengetahuan. Kitab semua agama menjelaskan soal kemampuan intelektual. “Di Alkitab beberapa kali Rasul Paulus menyebutkan pentingnya ilmu pengetahuan. “Di Alquran juga gitu, ada bicara pentingnya intelektual bagi orang beriman.” Oleh karena itu, lanjutnya, kita semua harus buka komunikasi yang linier. Komunikasi dengan Tuhan. Ini penting untuk legasi Indonesia.”

Hal lain yang membanggakannya bahwa  Indonesia memiliki peradaban atau budaya (culture). Kalau ada pihak yang mau mengganti presiden tidak sesuai dengan prosedur,  itu berarti tidak punya peradaban atau tidak ada peradaban. “yang ribut mau ganti presiden itu tidak punya peradaban. Semua ‘kan ada mekanismenya. Ada tahap pendaftaran, masa kampanye, dan seterusnya.” Diingatkan pula, perlu menyiapkan legasi baru dan generasi baru. Semua agama harus bekerjasama dan bersatu untuk mempersiapkan generasi baru untuk kemajuan Indonesia.

Berikutnya yang ketiga yaitu variabel human resources. “Variabel sumber daya manusia itu penting. Anak-anak Indonesia harus disiapkan sekolah di tempat-tempat bagus. Setiap orang tua pasti ingin anak-anak lebih baik darinya. Itu juga pesan dari Musa kepada para nabi,” papar Alumni Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia ini. Staf Ahli Utama Kantor Sekretariat Presiden merasa perlu menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia jangan dianggap sepele, itu sangat penting. “Jangan berharap dapat tempat atau posisi yang bagus kalau tanpa ilmu yang baik.” Dengan adanya human resources yang baik dan handal, maka pada akhirnya lahir the young generation yang kemudian dapat berperan membangun bangsa Indonesia.

Sementara itu, Direktur Yayasan Komunikasi Indonesia Bernard Nainggolan, sangat mengapresiasi pilihan politik Ali Mochtar Ngabalin, “cerdas barang ini,” ungkap Bernard merujuk pada Ali Mochtar Ngabalin, dan berharap kesediaannya untuk bersinergi dan menyediakan waktu untuk melanjutkan diskusi sejenis secara berkala. Bernard memuji Ali Mochtar Ngabalin yang berani menyuarakan kebenaran ditengah hingar-bingar tahun politik ini. “Selain cerdas dan berwawasan, beliau sangat paham pentingnya kebersamaan dalam keberagaman, Indonesia butuh tokoh-tokoh nasionalis sekelas Ali Mochtar Ngabalin,” ungkap Bernard.

Ketua Umum Pewarna Id (Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia) Yusuf Mujiono menyebut Ali Mochtar Ngabalin sebagai politisi ‘Jaman Now’ yang memahami kebutuhan bangsa Indonesia ditengah penyebaran informasi yang penuh dengan berita-berita palsu dan ujaran kebencian. “Ketertinggalan dalam ilmu dan pengetahuan harus diimbangi dengan munculnya figur-figur sekelas Ali Mochtar Ngabalin yang mampu melawan terhadap intoleransi dan kebencian. Ali Mochtar Ngabalin adalah sosok yang melawan ketidakbenaran.” Sementara Ketua Panitia Nick Irwan menyebut Ali Mochtar Ngabalin sebagai mercusuar bagi ragam komunitas keagamaan yang selama ini mungkin kehilangan akal sehatnya.”  [RA]

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *