Pujasera Pemberdayaan Jemaat GKI Bintaro dan Masyarakat Sekitar Pondok Kerukunan

Ayo Bagikan:

Jakarta majalahgaharu.com Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sudah membuktikan ketangguhannya dalam hal ketahan ekonomi masyarakat. Tentu masih ingat saat resesi ekonomi atau krisis moneter ketika peralihan era Orde Baru ke Reformasi, banyak perusahaan besar gulung tikar, namun tidak dengan UMKM tetap bertahan sekalipun ekonomi buruk.

Langkah Pondok Kerukunan yang di dalamnya ada GKI Bintaro yang mendukung kehadiran pujasera tempat sebagian jemaat dan warga sekitar menggelar dagangan makanan ini langkah jitu. Memetik kotbah pendeta Gomar Gultom Ketua Umum Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI) waktu menyampaikan kotbah peresmian Pondok Kerukunan,  inilah yang dimaksud dengan penerapan iman, di mana gereja harus mampu mengaktualisasi dengan perbuatan menolong dan membantu sesama.

Pujasera itu nama yang disematkan pusat jajanan masyarakat yang ada di sudut depan Gedung Kalpataru tepatnya jalan Pongtiku 2 Komplek Depsos Jakarta Selatan.

Disini bagi masyarakat yang melewati lokasi tersebut bisa mampir sejenak untuk mencicipi sajian para pedagang baik minuman segar, kopi, jajanan pasar serta nasi ayam bakar, nasi uduk, soto ambyar, nasi kucing sore hari,  ada dimsun, es krim dan kopi pontingku (kopong)  dan lain sebagainya.

Para Pedangang dengan Pak Mendagri Tito Karnavian dan Bang Ara Sirait Ketua Panitia Pembangunan Pondok Kerukunan

AB Pasila anak tokoh Gereja inilah yang dipercaya sebagai koordinator Pujasera, ketika ditanyakan tentang awal adanya Pujasera ini AB mengatakan ini tak terlepas dari rencana renovasi gereja GKI Bintaro yang akan mengganti atapnya ketika itu.

Setelah jalan tiga bulan Bang Ara (Maruarar Sirait) yang juga aktivis remaja Bintaro itu datang ke gereja lanjut AB ketika dijumpai di lokasi Pujasera, sehingga terjadi percakapan yang awalnya hanya merenovasi gereja lalu berkembang ke Gedung Kalpataru dan ada pemikiran untuk pemberdayaan jemaat dan masyakarat sekitar dengan UMKM ini.

“Saat itu bang Ara bilang kenapa tidak bikin saja UMKM untuk memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar dengan membuka pusat jajanan masyarakat ”, ungkapnya mengenang.

Gayungpun bersambut AB Pasila sebagai kordinator dan Billy Aipasa membantunya, merencanakan membuat UMKM serta mengkoordinir siapa saja yang berdagang. Dengan cara pembagian setiap wilayah (Tempat tinggal jemaat GKI Bintaro dibag beberapa wilayah red) diberikan kesempatan satu orang yang mau berdagang, selain itu melibatkan masyarakat sekitar, seperti perorangan, Karang Taruna serta Banzer.

Dalam proses pendirian pihak Kalpataru menyediakan lahannya sedangkan bangunan rumah dan  gerobak serta modal awal dibantu Bang Ara, dengan masing-masing pedagang @10 juta rupiah dan satu gerobak.

“Awalnya saya belum pegang dagangan, sedangkan Billy sudah dagang dimsum, lalu saya berpikir kalau cuma nongkrong saja tak dapat penghasilan maka saya putuskan berjualan Es Krim dan masalah rasa juara satu”, ujar AB bangga.

Menarik saat pandemipun sebagian besar masih tetap bertahan, malah waktu itu dari Pujasera membuat dua ratus bungkus setiap dua hari sekali dibagikan warga sekitar, dan sekarang masih menyisihkan 10 bungkus tiap hari dibagikan ke gojek.

AB Pasila mengatakan ini juga bentuk dari pelayanan yang kita lakukan belajar dari Bang Ara yang sudah banyak membantu orang namun berkatnya tak pernah berkurang malah justru bertambah tandas AB serius.

Senada dengan AB Slamet Budi Mulyono yang juga dipangil Budi ini diajak bicara bersama AB Pasila, Billy Aipasa ke Bang Ara bagaimana jemaat dan warga sekitar ini diberdayakan melalui UMKM, sehingga dapat membantu gereja. Sedangkan Budi sendiri keterlibatannya menjadi salah satu pedagang di Pujasera, memang diajak sekalipun sebelumnya dia sendiri sudah berjualan minuman Jeruk di halaman gereja.

Tentang keterlibatan masyarakat sekitar Slamet Budi Mulyono mengatakan bahwa ini bukti bahwa Gereja tidak ekslusif tetapi mau berbaur dan menerima keberadaan yang lain.

Baik AB Pasila, Slamet Budi Mulyono Sadiah maupun pedagang lainnya berterimakasih atas semua dukungan dari Bang Ara, Pak Sriyono dan Gereja yang telah memfasiltasi dan juga selalu mensupport keberadaan UMKM di Pujasera Pongtiku ini. Karena dengan adanya Pujasera bisa membantu untuk berdagang dan juga penghasilan. Khususnya Sadiah yang merupakan warga sekitar yang berjualan nasi uduk, mengaku sangat terbantu dengan adanya Pujasera.

“Saya kan dulu berdagang di depan di pinggir jalan tetapi dengan adanya Pujasera dapat tempat serta dibantu permodalan, bukan itu saja semua teman teman disini baik tanpa membeda-bedakankan malah saling membantu dan menganggap saya saudara”, ungkapnya gembira.

Ketika ditanyakan tentang penghasilan Alhamdulilah masih bisa berjalan dan masih ada sisa untuk kebutuhan keluarga. Tentang perasaannya ketika dagangan nasi uduknya sebagai jamuan makan Pak Menteri Tito dan Bang Ara saat mampir sebelum meresmikan Pondok Kerukunan. Sadiah sangat bangga sekalipun tadinya mengaku kikuk dan agak takut-takut juga, maklum hanya dirinya yang diminta berdiri menjaga dagangannya selain itu selama ini belum pernah dekat sama Pak Menteri, ungkapnya tersenyum.

Para pedagang di sore hari

Kembali kepada AB Pasila, menegaskan untuk berhasil membutuh konsistensi dari para pedagang, kita ini beruntung dan bersyukur kalau hingga kini masih disupport seperti Bang Ara memesan makan dan juga snack untuk karyawannya tiap hari tiga kali makan dan sekali snack, selain itu juga Pak Sriyono juga memberikan supportnya,.

“Malah ketika Opung masih ada kalau reses pesan makannya ke kami, dan ini sangat membantu agar kami bisa bertahan hingga kini”, ucapnya sembari mengucapkan trimkasih.

Sementara untuk inovasi pujaserapun sudah menyediakan pemesanan melalui online. Namun sebagai pedagang ditengahnya persaingan yang ketat ini, perlu menjaga kuliatas seperti rasa yang enak bersih serta harga yang kompetitif agar dagangan ini tetap laris.

Kemudian baik AB Pasila dan Budi mengaku kalau sebetulnya pedagang di Pujasera ini banyak mendapatkan support bahkan terlalu dimanja ujarnya. Namun mereka berharap agar support ini tidak menjadikan lengah tetapi menjadi pemicu agar bisa mandiri dan berhasil.

Sedangkan Pak Sriyono ketika ditemui saat peresmian Pondok Kerukunan Minggu 22/5/22 yang lalu mengatakan keberadaan Pujasera ini semangatnya untuk membantu jemaat dan masyarakat sekitar dengan memberikan kemudahan agar bisa berdagang.

Ketika ditanyakan apa ada kontribusi dari para pedagang, Pak Sri mengatakan bahwa awalnya memang  diminta iuran 10 ribu rupiah, tujuannya agar bertanggung jawab saja, namun karena pandemic iuran itu ditiadakan hingga sekarang.

Baru kemudian akan dilihat apakah iuran itu dilanjutkan kalau situasi sudah kembali normal atau seperti apa.

Mengingat memang para pembeli yang ramai itu hanya hari Sabtu dan Minggu saat jemaat selesai ibadah, sedangkan hari lainnya belum banyak pengunjung.

Pujasera sebuah tempat jajanan yang cukup enak, dengan andalannya Kopong, Kopi Pontingku serta minuman jeruk segar dan pasti dengan sajian makanan Soto Ambyar yang sedap, nasi uduk khas Betawi dan banyak lainnya lagi. Sempatkan mampir kalau kebetulan melawati kawasan Komplek Departemen Sosial Bintaro atau bagi warga sekitar bisa pesan melalui Grabfood, enak to,.

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

PGLII DKI Jakarta Menolak Tegas Tak Ada Kontrak Politik Anies 2024 Terkait BOTI

Wed May 25 , 2022
Jakarta majalahgahru.com Bantuan operasional tempat ibadah (BOTI) menjadi pembicaraan hangat di tengah umat Kristen terutama di DKI Jakarta, tuduhan adanya dukungan ke politik 2024 sangat santer terasa. Menyikapi informasi yang liar ini, redaksi gaharu.com mencoba meminta konfirmasi langsung kepada Ketua umum PGLII Propinsi DKI Jakarta  Pdt. R. B. Rory, S.Pak, […]