Rohaniawan Cucilah Kaki Koruptor

Ayo Bagikan:

Majalahgaharu Jakarta Delapan puluh tahun usia Indonesia, tentu angka yang masih jauh jika di bandingkan dengan Amerika Serikat tetapi jika di bandingkan dengan negara Vietnam, Singapura dan Malaysia tentu Indonesia merdeka terlebih dahulu, apalagi dengan Timor Leste yang dulu bergabung dengan Indonesia, tetapi karena proses referendum Timor Leste yang dulu bernama Timor Timur ini berhasil melepaskan diri dari negara Indonesia dan lahir menjadi negara merdeka.

Menarik, belakangan ini viral sebuah video bagaimana Timor Leste ada kebijakan pemerintahnya yang menceritakan sudah sepuluh tahun menerapkan kebijakan pemberian makanan gratis serta pengobatan gratis hingga ke luar negeri.

Lalu Vietnam yang terus menata diri serta berbenah sehingga negaranya semakin maju. Padahal siapa yang tidak tahu Vietnam dengan perangnya dengan Amerika begitu lama, sehingga porak poranda.

Sementara Singapore tetangga dekat kita bicara kemajuan dan kesejahteraan lebih unggul dengan negara kita. Memang ada yang mengatakan jangan dibanding-bandingke antara Indonesia dan singapore, katanya ngga apple to apple karena Singapore negeri kecil dengan penduduk yang sedikit.

Katakan, tidak bisa di bandingkan, tetapi bicara Indonesia siapa yang tidak tahu dengan sumber daya manusia yang melimpah, demikian pula dengan kekayaan alamnya, baik sumber tambang maupun keindahannya. Ditambah  dengan peninggalan-peninggalan luhur dengan nilai sejarah yang tinggi.

Pertanyaannya kenapa Indonesia terus saja dirundung kemiskinan, gap antara si kaya dan miskin begitu menganga. Kalaupun ada upaya bentuk program-program yang berlebel pro rakyatpun nyatanya justru malah dibuat bancakan para koruptor.

Apa yang salah dengan perilaku masyakat kita ini, padahal bicara landasan etika, moral dan kepatutan dalam bermasyarakat begitu semaraknya yang diwujudkan dengan upacara-upacara keagamaan.  Indonesia mungkin lebih banyak tanggal merahnya sebagai bentuk penghormatan kepada pemeluk agamanya.

Demikian pula ketika hari raya keagamaan umatnya rela merogoh kocek yang cukup banyak semata untuk menyambut dan merayakan upacara agamanya.

Namun tak berbanding lurus antara perayaan ritual agama dengan perilaku masyarakatnya. Terbukti korupsi terus berjalan, demikian pula dengan kejahatan tetap besar angkanya.   Lalu, di mana letak persoalan di bangsa kita tercinta. Kita patut merenungkan lebih dalam tentang nasib bangsa yang seakan tak keluar dari rundungan persoalan. Ternyata akarnya korupsi.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Dr. Zainal Arifin Mochtar menilai ada tiga faktor utama yang menjadi akar permasalahan korupsi di Indonesia yang sulit diberantas, yakni pragmatisme, keserakahan, dan kegagalan dalam membangun sistem yang baik. Ia menyoroti bahwa pragmatisme sering kali menjadi alasan utama orang terlibat dalam tindakan korupsi.

Kembali kepada rakyat atau dalam bahasa rohaniawan umat yang banyak terjerumus pada korupsi. Sementara religiusitas terlihat begitu khusuk dalam kehidupan masyarakat ditandai dengan menjalankan ritual agamanya.

Demikian pula di peran penjaga moral kita yakni para rohaniawan tersebut, semakin banyak jumlahnya. Alih-alih dengan rohaniawan yang semakin banyak membuat umat semakin baik tetapi umat tetap rusak. Apakah lantaran  kotbah serta nasihatnya sudah tidak menarik atau jangan-jangan pemimpin rohani sudah kehilangan keteladanannya.

Seperti kisah di Kitab Yesaya dengan gambaran gembala-gembala yang jahat. Yesaya menuliskan bahwa gembala yang jahat itu hanya menikmati susunya, sementara domba yang gemuk lalu disembelih sedangkan bulu-bulunya dibuat pakaian.

Padahal rohiawan harus meneladani Yesus dengan berani berkorban untuk domba-dombanya. Seperti kala ada satu domba yang tersesat dan hilang Gembala yang baik itu mencari hingga mendapatkannya.

Jika umat tambah rusak tanggung jawab siapa, disinilah para rohaniawan segera mawas diri, kenapa domba-dombanya banyak tersesat, kehilangan arah dalam hidupnya.

Intropeksi dan evaluasi, berani mengakui dengan cara menurunkan harga diri, lalu datangilah mereka umat yang bengkok itu. Lalu jangan segan untuk mencuci kaki umatnya itu, sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalan rohaniawan dalam menjaga etika dan moral para umatnya.

Penulis Yusuf Mujiono Ketua Umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

STT IKAT Hadirkan Bikkhu Dhammasubho Ajak Merawat Nalar Sehat Untuk Kedamaian Bangsa

Fri Sep 12 , 2025
Majalahgaharu Jakarta. Ada yang beda pagi hingga siang tepatnya di Aula Kampus STT IKAT Jakarta, Jalan Rempoa Permai No. 2, Jakarta Selatan, Jumat (12/9). Di mana kedatangan seorang Bikkhu yang merupakan tokoh agama Budha. Padahal ini di sebuah kampus yang mendidik calon pendeta ataupun pendidik agama Kristen. Lantas apa maksud […]

You May Like