Sri Eko Galgendu: Penguatan Spiritual Kebangsaan Akan Menguatkan Negara

Ayo Bagikan:

Majalahgaharu.com- “Bangsa yang besar merupakan bangsa yang tidak meninggalkan sejarah”. Kalimat yang disampaikan Bung Karno itu seakan terus mengingatkan setiap generasi penerus bangsa tentang betapa pentingnya mengingat dan memetik pelajaran dari sejarah perjalanan bangsa.

Pesan pidato berjudul “Djangan Sekali-sekali Meninggalkan Sedjarah!” yang dibacakan Bung Karno di HUT Kemerdekaan ke-21 Republik Indonesia, pada tahun 1966 itu, coba diingatkan kembali oleh inisiator Forum Negarawan dan pendiri Posko Negarawan, Sri Eko Galgendu, dalam Halal Bil Halal dan Diskusi Re-evaluasi Reformasi, yang diselenggarakan di kediaman Miranty Abidin, Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis sore (11/5).

Sri Eko memulai refkeksi Re-evaluasi Reformasi dengan menjelaskan bahwa sebuah bangsa yang telah meninggalkan pemahaman akan zaman dan sejarah dari bangsa itu sendiri, akan menyongsong sebuah kekalahan.

“Pada saat Orde Baru bagaimana meninggalkan Orde Lama. Seolah-olah Orde Lama tidak ada baiknya. Begitupun dengan Orde Lama yang meninggalkan (sejarah dan budaya-red) kerajaan-kerajaan (di Nusantara-red),” ujarnya.

Menyambung penjelasannya, bangsa di Nusantara pernah mengalami kejayaan secara spiritual maupun politik. Terbukti, di rentang abad ke 7 hingga 11 pernah berdiri sebuah universitas Agama¬† Buddha yang menjelma menjadi poros di Nusantara. Fakta itu kemudian juga didukung oleh kejayaan Dinasti Syailendra dengan mendirikan “mahkota” di Tanah Jawa, yakni Candi Borobudur, yang kini menjadi situs ziarah Agama Buddha terbesar di dunia.

“Kejayaaan yang pernah kita capai, kekuatan ekonomi, militer, kebudayaan yang mendatangkan peradaban. Sekarang memasuki zaman reformasi, maka sama meninggalkan zaman bangsa (Orba-red). Ada yang harus dijaga dan ada diubah. Reformasi kita tidak tahu mana yang dijaga dan mana yang diubah,” papar Sri Eko, kritis.

Menyoroti penegakkan supremasi hukum di Tanah Air, Sri Eko berpendapat kondisi saat ini tergolong masih belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Bahkan, terkesan mengalami kemunduran dalam hal penerapannya di lapangan. Sri Eko juga mengkritisi masih adanya oknum aparatur di pemerintahan yang belum terbebas dari kepentingan pribadi.

“Menciptakan pemerintahan¬† bersih, kenyataan hari ini sebagian besar percaya KKN masih merajalela,” tegasnya.

Yang juga tak luput dari perhatiannya adalah soal Amandemen UUD 1945. Secara filosofis, dirinya melihat perubahan amendemen justru akan memperlemah supremasi hukum di Tanah Air.

“Ada hal yang tidak pernah dibicarakan secara mendalam, yakni asal-usul sebuah bangsa dan negara. Lalu soal cinta Tanah Air, cinta bangsa. Bicara Nusantara, bicara 21 abad (eksistensinya-red), karena kalau bicara Indonesia belum (menginjak usia-red) 100 tahun. Daulat rakyat itu ketika rakyat mendapatkan harkat dan martabat, kehormatan. Kita menawarkan konsep nation state. Konsep bangsa negara, kalau spritulitas kebangsaan lemah maka negara akan menjadi lemah pula,” tandas Sri Eko.

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

BPIP melakukan Pembinaan Ideologi Pancasila Kepada 9907 Paskibraka dari 13 Provinsi

Fri May 12 , 2023
Majalah Gaharu – Untuk kembali menanamkan Nilai Pancasila di dalam Masyarakat khususnya Kepada Para Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang lebih lanjut akan menjadi Duta Pancasila, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Melalui Direktorat Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Melaksanakan Pembinaan Ideologi Pancasila kepada Paskibraka Tahun 2022 di Denpasar Bali Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan […]

You May Like