Majalahgaharu.com Jakarta Diusianya yang ke 77 tahun ini, patutlah disyukuri kalau masih diberikan kesehatan dan juga kekuatan untuk menjaga demokrasi negeri tercinta. Megawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Ir Soekarno menapaki karir politiknya era Orde Baru, lalu kemudian mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tahun 1993 dan terpilih menjadi ketua umum.
PDI Perjuangan sebuah partai yang mengalami proses yang panjang penuh dinamika karena harus menghadapi tekanan orde baru di bawah presiden Soeharto. Tetapi, lewat PDI Perjuangan inilah Megawati terpilih menjadi presiden ke 5 RI melalui sidang MPR RI. Lalu, di tangan Megawati kala menjadi presiden demokrasi langsung pertama kali dilaksanakan di mana presiden dan wakil presiden dipilih rakyat.
Sekalipun secara manusia peristiwa itu sangat tidak mengenakkan karena melalui demokrasi langsung itulah Mega harus tersingkir melawan Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Yusuf Kala. Namun, demikian sebagai pejuang demokrasi Mega legowo dan konsisten menjadi partai penyeimbang yang tidak masuk dalam pemerintahan era SBY selama dua periode.
Menarik ibu kelahiran 1947 ini, saat dilansungkan Kongres PDI Perjuangan ke X di Bali diberikan kewenangan penuh menentukan capres 2014. Tentu kesempatan ini terbuka jika dirinya maju menjadi capres 2014. Namun, kesempatan dan peluang itu ternyata tidak diambilnya, justru Mega mendengar aspirasi masyarakat kalau ada sosok yang bisa menjadi pemimpin Indonesia yakni wali kota Sala, yang kemudian naik menjabat menjadi gubernur DKI Jakarta, dikenal dengan kesederhanaannya.
Sikap Mega ini memang ada yang mengatakan bahwa dia pilih Jokowi karena dirinya sadar kalaupun mau menjadi capres dia tidak akan terpilih dikarenakan elektabilitasnya rendah, maka Jokowilah yang dicalonkan. Nanti dulu, justru disinilah sifat kenegarawanan itu muncul sebagai ibu Demokrasi itu nampak, karena mendengar aspirasi rakyat.
Sikap kenegarawanan dan sebagai ibu demokrasi itu semakin terlihat dan nyata saat Pilpres 2024 ini. Di mana ketika Mega ada kesempatan baik dia sendiri maju menjadi capres atau memajukan Puan Maharani putri mahkotanya.
Ibu Mega begitu disapa tidak menggunakan kekuasaannya itu langsung menunjuk Puan Maharani, tetapi dengan memberi ruang yang sama para kadernya untuk mendengar aspirasi masyarakat. Di mana masing-masing kadernya untuk mencari simpati dan dukungan masyarakat apakah layak untuk didukung menjadi calon presiden RI.
Maka, kalau pada tahun 2020 hingga 2023 terpampang besar-besar baliho Puan Maharani dengan kepak kebhinekaannya, ini salah satu upaya untuk meraih simpati rakyat untuk memperoleh dukungan. Sekalipun sekali lagi ibu Mega dengan segala wewenangnya langsung bisa menetapkan Puan sebagai capres. Namun, itu tidak dilakukan tetapi membiarkan putrinya mencari dukungan.
Ternyata seiring waktu Puan tidak mendapat dukungan yang signifikan dari masyarakat, padahal jika merujuk prestasi Puan tidak perlu diragukan lagi. Puan peraih suara terbanyak di dapilnya dari Jawa Tengah, yang membawanya menjadi anggota DPR RI, kemudian pernah menjadi menteri lalu saat ini menjadi ketua DPR RI. Prestasi yang diraih dengan perjuangan panjang dan tidak serta merta ongkang-ongkang kaki.
Sekalipun demikian prestasi Puan itu tidak cukup menarik dukungan masyarakat justru Ganjar Pranowo gubernur Jawa Tengah yang mendapat dukungan masyarakat dan kemudian oleh Megawati ditetapkan sebagai calon presiden 2024 ini berpasangan dengan Mahfud MD.
Antara Megawati SBY Prabowo Hingga Jokowi
Mari kita bandingkan dengan sosok lainnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo Subianto dan terakhir Joko Widodo sendiri. SBY melalui partai Demokratnya setelah turun tahta presiden kemudian memajukan sang putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maju menjadi Gubernur DKI padahal bicara pengalaman politik AHY sangat minim karena baru saja keluar dari TNI, apakah ada jaminan menang, tidak karena ternyata tersingkir dalam Pilkada DKI yang saat itu melawan Jokowi, padahal ada kader-kader Demokrat yang cukup berlian dan berprestasi.
Tidak lolos menjadi gubernur DKI, SBY kemudian menjadikan sang putra menjadi ketua umum Demokrat dan terakhir memajukan menjadi bakal capres ataupun cawapres di tahun 2024 ini, dan ternyata kandas tetapi tetap saja dimajukan.
Kemudian bicara Prabowo Subianto melalui Gerindra tahun 2009 maju menjadi cawapres mendampingi Megawati kalah.
Kekalahan pertama tahun 2009 tersebut tidak menghentikan langkah Prabowo maka di tahun 2014 dan tahun 2019 Prabowo masih maju menjadi capres melawan pasangan Jokowi yang dimajukan PDI Perjuangan, baik tahun 2014 dan 2019, Prabowo kalah dan ditahun 2024 ini masih memajukan dirinya sendiri menjadi capres. Apakah ada jaminan menang saat Prabowo menjadi calon belum tentu?
Sekarang dengan Joko Widodo secara de fakto tidak memiliki partai seperti Megawati, Prabowo dan SBY. Tetapi langkah yang dilakukan Jokowi dengan mengijinkan sang putra tercinta menjadi wakil presiden, pembaca bisa menilainya sendiri demi kepentingan siapakah memajukan sang putra tercintanya. Sementara Jokowi masih menjadi presiden aktif.
Anehnya, justru ibu Mega yang dicap tidak demokratis, arogan dan sebagainya. Saat ini Ibu Mega mendapatkan bully yang besar yang menghantam dari kanan kiri dan depan belakang. Padahal dari tangannyalah lahir Jokowi yang wong cilik yang bukan siapa-siapa tetapi bisa menjadi pemimpin negeri ini. Basuki Tjahaya Purnama orang yang dicap double bahkan tiga minoritas tetapi bisa menjadi gubernur DKI Jakarta, terakhir Ganjar Pranowo yang juga datang dari wong cilik saat ini dicalonkan presiden.
Bayangkan Kalau Megawati hanya mementingkan diri dan keluarga apa mungkin muncul sosok-sosok pemimpin bangsa yang terlahir dari rakyat jelata alias wong cilik.
Penulis adalah Yusuf Mujiono Pengawas Cahaya Kebangkitan Bangsa

