Rektor IAKN Kupang Dorong Kampus Berbasis Riset, Bukan Menara Gading

Ayo Bagikan:

Majalahgaharu Kupang (Kemenag RI) – Sejauh mana sebuah perguruan tinggi memberi arti bagi kehidupan masyarakat? Pertanyaan ini menjadi penting ketika keberhasilan kampus tidak lagi cukup diukur dari jumlah mahasiswa yang lulus, gelar akademik yang diberikan, atau aktivitas perkuliahan yang berlangsung di dalam ruang kelas. Perguruan tinggi juga dituntut menghasilkan pengetahuan, penelitian, dan gagasan yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Perspektif inilah yang ditekankan Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., dalam arah pengembangan institusi yang disampaikannya pada Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-X IAKN Kupang, September 2026 lalu. Ia mendorong agar IAKN Kupang semakin memperkuat orientasi sebagai kampus berbasis riset dan tidak terjebak menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial.

Menurut Rektor, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi ruang tempat ilmu pengetahuan diajarkan dan dikembangkan untuk kepentingan akademik semata. Kampus harus hadir di tengah masyarakat, mengenali persoalan yang dihadapi, melakukan kajian secara ilmiah, serta menghasilkan pemikiran dan solusi yang memberikan manfaat nyata.

Dengan demikian, penelitian tidak semestinya berhenti pada laporan akademik atau pemenuhan kewajiban tridarma perguruan tinggi. Hasil pemikiran dan penelitian perlu memiliki keterhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk memahami persoalan sekaligus mendorong perubahan.

Arah tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan IAKN Kupang ke depan. Rektor menekankan perlunya membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Salah satunya melalui pengembangan kurikulum yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika sosial, serta kebutuhan dunia kerja.

Kurikulum, menurutnya, harus terus disesuaikan agar kompetensi yang diperoleh mahasiswa tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Pendidikan tinggi harus memastikan bahwa lulusan tidak hanya menguasai teori dan pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menerapkannya dalam berbagai bidang kehidupan dan pekerjaan.

Di sisi lain, Rektor menegaskan bahwa pengembangan pendidikan harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga akses pendidikan dari praktik komersialisasi. Ia menekankan bahwa pendidikan bukan ladang bisnis. Karena itu, IAKN Kupang harus bebas dari pungutan yang tidak semestinya. Pendidikan harus tetap menjadi ruang pengembangan kapasitas manusia, bukan semata-mata aktivitas yang berorientasi pada keuntungan.

Perhatian terhadap kualitas pendidikan tersebut juga tercermin dalam pandangannya mengenai lulusan. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa IAKN Kupang tidak sedang menghasilkan pengangguran. Ia menyatakan keyakinannya bahwa para lulusan memiliki kompetensi dan kesiapan untuk bersaing di dunia kerja.

Ia juga mengingatkan bahwa ijazah bukan sekadar selembar kertas. Ijazah membawa pengakuan atas kompetensi keilmuan sekaligus tanggung jawab untuk berkarya. Karena itu, para lulusan diminta tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi terus mengembangkan diri, menyuarakan kebenaran, dan menjaga integritas dalam pengabdian kepada gereja, masyarakat, dan bangsa.

Gagasan Rektor tersebut menempatkan pengembangan IAKN Kupang tidak hanya pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga pada relevansi keberadaan perguruan tinggi bagi kehidupan di sekitarnya. Penguatan riset, pembaruan kurikulum, dan komitmen terhadap pendidikan yang dapat diakses merupakan bagian dari upaya membangun institusi yang responsif terhadap tantangan zaman.

Pada akhirnya, kampus berbasis riset bukan sekadar kampus yang memperbanyak penelitian. Lebih dari itu, riset harus menjadi jalan bagi perguruan tinggi untuk memahami kehidupan, mengembangkan pengetahuan, dan menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.

Melalui arah pengembangan tersebut, IAKN Kupang didorong untuk terus bertumbuh sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan gagasan dan karya yang berdampak. Sebab, kampus yang hidup bukanlah kampus yang hanya berbicara tentang ilmu di dalam ruang akademik, melainkan kampus yang membiarkan ilmunya bekerja bagi kehidupan.

Released oleh: Merling Messakh (Humas IAKN Kupang)

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Like