Eko Putro Sandjojo Dana Desa Meningkatkan Pembangunan desa Sesuai Kebutuhan

Ayo Bagikan:

JAKARTA majalahgaharu.com STT Rachmat Emanuel (REM) kembali menggelar kuliah terbuka dengan menghadirkan narasumber Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.BA Jumat 6/4/18. Dengan tema“Membangun Pemimpin Indonesia” .. Eko menyebut bahwa 60 persen generasi muda Indonesia masih hanya lulus SD dan SMP, karena itu beruntung bisa kuliah di STT REM apalagi berasal dari berbagia daerah.

Indonesia, sambung Eko Negara besar memiliki potensi banyak maknya  saat ini menjadi negara nomor 16 di dunia dari kekuatan ekonomi dengan sekarang GNP 1 triliun dollar. Untuk itu di tahun  2050 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor empat setelah China, India dan Amerika Serikat dengan perkiraan GNP 7 triliun dollar AS.

Keunggulan lain yang dimiliki Negara kita adalah jumlah angkatan kerja, hutan tropis terluas nomor dua di dunia, jumlah pulau terbesar dan masih banyak keunggulan lainnya. Dengan modal ini harusnya tak perlu takut dengan perang dagang Negara lain.

Menurut Eko walau Indonesia memiliki keunggulan dan pencapain tersebut, bukan berarti kita kita lupa karena kita masih juga banyak kekurangan. Misalnya masih ada kekurangan gizi di berbagai daerah.

Tidak dapat dipungkuri pertumbuhan Indonesia tinggi, tapi itu berarti efeknya bisa adanya kesenjangan antara kaya dan miskin. Karena itu, Presiden Jokowi sekarang membuka akses dan infrastruktur di seluruh Indonesia untuk menyatukan kota dan desa.

“Beruntung Presiden Jokowi punya keberanian untuk meningkatkan dana desa dengan dua kali lipat, penerapan 82 persen sudah bagus. Karena itu berani dinaikkan dari 46 triliun naik  60 triliun. Ternyata kepala desa bisa karena tahun ini 128 ribu kilo meter jalan, ribuan jembatan, PAUD, WC dan lainnya,” bebernya.

Sisi positif dengan turunnya dana desa, kata Eko ternyata kepala desa dan perangkatnya mampu membangun apa yang paling dibutuhkan rakyatnya. Kita bisa menurunkan dari 27 juta menjadi 17 juta orang miskin.

Kenapa desa Indonesia miskin? Nomor satu karena tidak ada akses pasar, produknya rusak dan tidak pasti untung. Mereka menjadi golongan masyarakat resiko tinggi, konsekuensinya mereka tidak dapat pinjaman bank. “Lingkaran setan tersebut harus dimusnahkan caranya dengan cluster ekonomi desa,” paparnya.

Menteri Eko mencontohkan Kabupaten Pandeglang sebagai kabupaten terbesar di Banten dan hanya tiga jam dari Jakarta, tapi ada 156 desa masih tertinggal. Setelah melihat daerah maju di Gorontalo dan Dompu, bupati menyiapkan untuk ratusan hektar penanaman jagung,” katanya. Meminta menteri pertanian menyumbang alat dan mesin,  dan menteri PU untuk membangun jembatan sehingga ketika produksi bisa di pasarkan dengan baik.

Kemudian melibatkan bank untuk memberi kredit untuk biaya sebelum panen. Dengan demikian tahun 2017 lalu Pandeglang panen 90 ribu ton dan beberapa tahun ke depan bisa 500 ribu ton, artinya bisa 1.5 triliun dan diharapkan tidak ada desa tertinggal lagi. Model lain yang sama di Sumba Timur. Target 2019 sudah terlampau karena 10 ribu desa sudah bisa mandiri.

Kuliah terbuka ii dipandu Johan Tumanduk dan sebelumnya  Pdt Dr Conrad Supit mewakili ketua STT REM Ariasa Supit  mengucapkan terimakasih kepada Menteri Eko, STT REM dan semua peserta terselenggaranya Kuliah Umum ini.

 

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *