Ini Pesan Tokoh Bangsa Bagi Wartawan Nasrani Saat Gelaran KONFERDA I PEWARNA DKI Jakarta

Ayo Bagikan:

Jakarta, Majalahgaharu- Menjadi seorang jurnalis haruslah peka terhadap permasalahan bangsa. Meski mengedepankan cara berpikir yang kritis, modal utama seorang jurnalis, khususnya jurnalis nasrani, adalah memiliki idealisme untuk membangun bangsa dan memupuk rasa persatuan.

Pesan ini yang disampaikan oleh pemikir sekaligus politisi di 7 era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, Sabam Sirait, sebagai pemantik diskusi saat gelaran Konferensi Daerah I Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia, Wilayah DKI Jakarta (KONFERDA I PEWARNA DKI Jakarta), yang diselenggarakan di kampus STT IKAT, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat siang (11/09/2020).

Ketika menyampaikan pandangannya di diskusi bertajuk “Peran Jurnalis Pemersatu dalam Bingkai Pancasila”, melalui sambungan telekonferensi Sabam menceritakan bagaimana Bung Karno membina hubungan yang sangat dekat dengan para jurnalis. Dalam kedekatannya itu, tak jarang Bung Karno selalu mengingatkan akan pentingnya insan pers untuk selalu meningkatkan kemampuan mereka melalui literasi, sekaligus menghasilkan karya-karya yang membangkitkan rasa persatuan bangsa.

“Dari sisi kepenulisan, Bung Karno adalah seorang jurnalis. Beliau pandai menulis. Bung Karno juga membuat koran dan majalah sendiri. Dalam banyak kesempatan, Bung Karno juga menunjukkan kedekatannya dengan para jurnalis. Mengingatkan para wartawan untuk selalu membaca dan tidak membuat tulisan yang bisa memecah belah bangsa,” kata tokoh bangsa yang kini melayani masyarakat Indonesia sebagai anggota DPD-RI, ini.

Yang ikut menjadi penekanan pesan dari pria kelahiran 13 Oktober 1936, di Tanjung Balai,  Sumatera Utara, ini, adalah bagaimana setiap karya yang dilahirkan seorang jurnalis dapat menjadi pendorong bagi implementasi nilai luhur yang diwarisi oleh para pendiri bangsa, yakni Pancasila.

“Ada kata-kata persatuan, memberikan contoh demikian. Jurnalis atau pers memang memiliki peran yang sangat penting sebagai alat pemersatu bangsa. Peran itu bisa diwujudkan pers melalui upaya penyebaran dan implementasi dari nilai-nilai Pancasila. Sebab dengan pers, nilai-nilai keluhuran dan keagungan Pancasila bisa disebarluaskan kepada seluruh masyarakat,” ucap mantan wartawan senior yang lahir dengan nama lengkap Sabang Gunung Panangian Sirait, ini.

Menutup pesan yang disampaikannya, Sabam Sirait kembali mengungkap bagaimana bangsa Indonesia mesti bersyukur karena telah dikaruniai oleh Tuhan keanekaragaman suku, agama dan budaya. Kekayaan ini, menurutnya, mesti terus dipromosikan oleh para insan pers dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat menumbuhkan kecintaan terhadap sesama.

“Pers juga bisa mengenalkan semua kebudayaan di Indonesia, sehingga satu sama lain mencintai ragam kebudayaan yang berbeda itu sebagai bagian yang utuh dari budaya itu sendiri,” pintanya.

Dikusi pada KONFERDA I PEWARNA DKI Jakarta dihadiri oleh Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Pdt. Harsanto Adi; Ketua PGLII DKI Jakarta, Pdt. R. B. Rory; Ketua PGIW DKI Jakarta, Pdt. Manuel Raintung; Ketua PGPI DKI Jakarta, Pdt. Jason Balompapueng; Sekretaris Jenderal MUKI, Pdt. Mawardin Zega; Juru Bicara Vox Point Indonesia, Gories Lewoleba; Rektor STT IKAT, Pdt. Dr. Jimmy Lumintang; serta pemandu acara, penyiar senior RPK FM, Argopandoyo.

KONFERDA I PEWARNA DKI Jakarta mengusung tema “Berkarya Dalam Warna Pergumulan Bangsa”, dengan menggunakan landasan tema dari Kitab Markus 1, ayat 3. Sedangkan subtema yang diusung adalah “Berubahlah dengan Merubah Pikiranmu” (Roma 12:2).

Kegiatan KONFERDA I PEWARNA DKI Jakarta sendiri diselenggarakan dengan dukungan penuh dari civitas akademika STT IKAT, Jakarta. Selama konferensi  dilaksanakan, pihak kampus menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan mewajibkan setiap peserta mencuci tangan, menggunakan masker, serta menjaga jarak selama acara berlangsung.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *