Drs Sonny Wuisan S.H,MH C.L.A ,CRA,CTL Kekerasan Terhadap M Kece Apapun Dalihnya Tidak Dibenarkan Main Hakim Sendiri

Ayo Bagikan:

Jakarta majalahgaharu Peristiwa penganiayaan atas tersangka pidana penodaan agama Muhamad Kusman yang lebih akrab di panggil Muhamad Kece diduga oleh seorang Pati bintang dua yang berinisal NB, masih menjadi sorotan berbagai elemen masyarakat. Menyikapi tindakan main hakim dengan kekerasan di duga oleh NB ini Drs Sonny S.H MH C.L.A CRA .,CTL sangat menyayangkan sikap main hakim tersebut, apalagi ini kalau ini benar dilakukan oleh seorang Pati Polri yang harusnya paham hukum.

Sonny menegaskan kalau setiap orang bebas melakukan kekerasan terhadap orang lain dengan berbagai dalih termasuk agama, pertanyaan mau jadi apa negeri ini? Karena Indonesia sudah memiliki aturan hukum, maka dengan alasan apapun orang mengambil tindakan kekerasan tersebut tidak dibolehkan. Kalau setiap orang bisa menafsirkan hukum sendiri, apa yang terjadi? Manusia srigala bagi sesama.

Muhamad Kece, kan masih menjalani proses hukum. Belum ada kepastian hukum apakah terbukti salah atau tidak karena itu akan diputuskan setelah melalui proses persidangan di pengadilan.

“Jadi siapapun tak bisa main hakim sendiri, semua pihak harus menghormati proses hukum yang berlaku. NB sendiri seorang penegak hukum paham tentang hukum. Tindakan harus berdasar pada hukum dan perundang-undangan yang berlaku ”, tandas lawyer yang juga pernah aktif menjadi jurnalis ini.

Apa yang dialami M Kece, Sonny merasa prihatin atas kejadian tersebut, di mana harusnya saat masuk di tahanan Bareskrim Mabes Polri di jamin keamanannya. Dikarenakan selaku tahanan, status M Kace masih tersangka. Belum menjadi terdakwa apalagi terpidana.

Berangkat dari kasus yang dialami M Kece Wuisan berharap kedepannya tidak terjadi lagi. “Jangan sampai kasus seperti M Kace ini terjadi lagi”. Kasus kekerasan dapat diancam pidana selama 9 tahun sesuai pasal 170 KUHP, jika kekerasan mengakibatkan luka berat.

Semua Orang sama di depan Hukum

Mengenai apa yang disangkakan terhadap M Kece yang dituduh melakukan penistaan agama, bagi Sonny tak masalah karena menjadi kewenangan kepolisian selaku penegak hukum. Harapan ke depan, bukan saja M Kece yang diamankan, tetapi semua orang yang juga melakukan penistaan agama, harus diberlakukan sama. Equality Before The Law artinya semua orang sama di depan hukum. Jangan sampai muncul kesan, hukum tajam ke kelompok yang dianggap kecil tetapi tumpul ketika bicara mengenai kelompok tertentu.

Bagaimanapun kalau terkesan ada pembiaran dapat mengakibatkan terjadi gaduh dan saling melaporkan sehingga bisa menganggu kerukunan umat beragama. Karena mereka akan saling merespon atas tuduhan-tuduhan yang dialamatkan atas keyakinan masing-masing.

Sonny berharap hukum itu diberlakukan dengan tanpa memandang bulu. “Keadilan itu milik semua”. Sebaiknya semua pihak saling hormat-menghormati, bangun kebersamaan dan toleransi. Bersama kita kuat. Indonesia jaya, imbuh  pengacara yang berkantor di kawasan Jakarta Pusat ini mantab, seraya mengajak masyarakat mendukung pihak kepolisian dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya selaku penegak hukum.

“Kita harus mendukung eksistensi kepolisian RI. Dan saya yakin Bapak Kapolri pasti mengambil keputusan yang baik,tepat dan bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan dimaksud, tuturnya. YM

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *