Mahanain Membangun Citra Kota Bekasi Aman dan Nyaman

Ayo Bagikan:

Majalahgaharu Bekasi Sebutan “Kota Bekasi sebagai kota kriminal” merujuk pada reputasi negatif yang sempat melekat pada kota ini, terutama pada periode pertengahan 2010-an, di mana tingkat kriminalitas, khususnya kejahatan jalanan (seperti begal, pencurian sepeda motor/curanmor, dan kekerasan), dilaporkan cukup tinggi.

Berangkat dari kondisi kota Bekasi waktu itu, ada seorang ibu yang terpanggil untuk merubah kota Bekasi menjadi kota yang nyaman dan aman. Langkah yang diambilnya dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan. dan akhirnya berdirilah sebuah lembaga pendidikan di bawah yayasan Mahanain Mulia.

Sudah tiga puluhan tahun kini Mahanain mendedikasikan diri mengabdi untuk negeri dengan mencerdaskan anak-anak bangsa khususnya warga kota Bekasi.

“Puji Tuhan saat ini kota Bekasi menjadi sebuah kota yang berbhineka bak miniatur Indonesia dengan warganya yang hidup saling berdampingan dan rukun, tak ayal kota Bekasi mendapat prestasi kota toleran”, tandas faunder Mahanaiin di sebuah kesempatan berbincang sore itu.

Sekedar tahu bahwa Mahanain merupakan sekolah suasta kristen yang katakan uang pendidikan paling terjangkau, bahkan ada yang diberikan beasiswa. Dikatakan salah satu kepala sekolah SMP bahwa memang tidak semua anak memulai pendidikan dari titik yang sama. Sebagian datang ke sekolah dengan keterbatasan: kemampuan akademik yang tertinggal, fasilitas belajar yang minim, hingga kurangnya pendampingan di rumah. Namun di Sekolah Mahanaim Bekasi, keterbatasan bukanlah akhir cerita.

Raka (nama disamarkan) adalah salah satu contohnya. Pada awal masuk sekolah, Raka dikenal sebagai siswa yang sering tertinggal pelajaran. Membaca lambat, kurang percaya diri, dan kerap merasa dirinya tidak sepintar teman-temannya.

Dalam kesehariannya, ia hanya berusaha satu hal: tetap datang ke sekolah. Para guru Mahanaim tidak melihat Raka dari angka rapor semata.

Mereka melihat ketekunan, kedisiplinan, dan kemauan belajar yang besar. Melalui pendekatan personal, Raka mulai dibimbing sesuai dengan potensinya. Sekolah memberi pendampingan tambahan, pembinaan karakter, serta ruang pengembangan minat melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Prosesnya tidak instan. Raka tetap belajar mengejar ketertinggalan akademik sambil menjalani latihan dan pembinaan secara konsisten. Perlahan, rasa percaya diri tumbuh. Hingga akhirnya, Raka berhasil meraih prestasi membanggakan pada ajang perlombaan tingkat kota, membawa nama baik dirinya dan sekolah.

Prestasi itu menjadi titik balik. Raka tidak lagi datang ke sekolah dengan rasa minder, melainkan dengan keyakinan bahwa ia mampu. Nilai akademiknya mulai meningkat, sikap belajarnya berubah, dan ia mulai berani bermimpi lebih besar.

Bagi Sekolah Mahanaim, kisah Raka bukanlah satu-satunya. Banyak anak dengan latar belakang dan kemampuan berbeda telah menemukan jalannya masing-masing. Inilah semangat yang diusung Mahanaim dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB): menerima anak apa adanya, membina dengan hati, dan mengantar mereka menuju masa depan yang bermakna.

Sekolah Mahanaim Bekasi membuka PPDB bagi orang tua yang mencari sekolah yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga memahami proses, karakter, dan potensi anak.

Reporter Wid

Edit YM

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Demi Keadilan, Martabat Manusia, dan Keutuhan Ciptaan PGI Tolak PSN di Merauke

Fri Feb 6 , 2026
Majalahgaharu Merauke Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendukung gagasan pemerintah untuk mengembangkan berbagai Proyek Strategis Nasional di wilayah Papua yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian regional, dan mendatangkan investasi serta membuka lapangan kerja. Sekalipun demikian, PGI mencermati dan mengritisi implementasi beberapa PSN, terutama terkait proyek-proyek ekstraktif dan agrikultur skala besar, yang […]

You May Like