Majalahgaharu Klaten Sebanyak puluhan guru dan fasilitator pendidikan dari berbagai wilayah berkumpul di Taman Doa Apius Klaten, Dusun 2, Tegalyoso, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada 22-26 Juni 2026 dalam rangkaian Workshop Pendidikan yang diselenggarakan oleh Yayasan Edukasi Abdi Negeri. Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari ini mengusung tema besar “Mendidik dengan Iman dan Ketekunan: Strategi Pembentukan Karakter Anak di Wilayah 3T” dengan 3T yang merupakan kepanjangan dari Terdepan, Terluar, dan Tertinggal — yakni kawasan yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan akses pendidikan yang tidak mudah.
Taman Doa Apius yang terletak di Dukuh Merbung Cilik RT 021/RW 008 menjadi saksi atas geliat pendidikan yang bergerak dinamis, menata sistem pembelajaran secara sistematis, dan menghadirkan narasi baru bagi para pendidik di wilayah yang kerap disebut paling ujung oleh banyak orang. Lokasi yang semula dikenal sebagai pusat pembinaan rohani dan rumah misi ini, untuk beberapa hari bertransformasi menjadi ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang menyalakan kembali api pengabdian bagi para guru yang hadir.
Taman Doa Apius yang menjadi tempat penyelenggaraan workshop merupakan sarana pelayanan umat dan pembentukan rohani yang diresmikan pada tahun 2021. Lokasi ini dilengkapi dengan aula yang mampu menampung 70 orang, 13 ruang doa, ruang konseling, kantor, serta paviliun yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kerohanian dan pendidikan. Taman Doa Apius tidak terbatas sebagai tempat ibadah, melainkan menjadi ruang pertemuan bagi berbagai kegiatan gereja, kegiatan umum, serta kegiatan lintas agama. Kehadirannya menjadi wujud nyata kontribusi umat Kristen dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis dan toleran, sekaligus mendukung pembangunan karakter bangsa.
Yayasan Edukasi Abdi Negeri merupakan penyelenggara kegiatan ini. Yayasan memiliki visi menjadi sahabat edukasi bagi para mitra dalam membangun bangsa melalui karya-karya nyata.
Susunan pengurus yayasan terdiri atas Dr. Mesak Morib sebagai Dewan Pembina; Parulian Sinaga, M.Th. sebagai Dewan Pengawas; Dr. Ashiong P. Munthe sebagai Ketua; almarhum Gina Tambunan tercatat sebagai Bendahara pertama; Melkianus A. Tabun sebagai Sekretaris; serta Eunike S. Morib, Maria Semi Nuriarti, John Hendry Tafui, S.Pd., dan Mikael Morib, S.Pd.K. sebagai anggota dan pendiri.
Program unggulan Yayasan Edukasi Abdi Negeri mencakup Pendampingan Belajar Anak (PBA) melalui kurikulum, fasilitator belajar, dan pelatihan fasilitator; Teacher Training berupa pendampingan bagi guru dalam pembuatan modul dan buku serta seminar dan pelatihan; School Support melalui pengadaan alat pendukung pendidikan; serta School Leadership berupa pelatihan kepala sekolah yang bekerja sama dengan program teacher trainer. Program Orang Tua Asuh menjadi salah satu kegiatan utama yang memberikan bantuan beasiswa kepada siswa-siswa berpenghasilan rendah, melatih fasilitator agar mampu mengajar sesuai materi ajar, serta melatih siswa belajar matematika dan bahasa Inggris secara aplikatif dengan pendalaman spiritualitas melalui refleksi diri. Penerapan Project Based Learning (PjBL) yang sesuai konteks lingkungan dan kearifan lokal juga menjadi bagian integral dari program, dengan harapan akhir belajar enterpreneurship. Orang tua dilibatkan melalui observasi untuk memberi umpan balik setelah anak belajar.
Saat ini Yayasan Edukasi Abdi Negeri mengelola empat program Pendampingan Belajar Anak. Program PBA Sosok menaungi 22 anak aktif dengan capaian laporan keuangan dan naratif berjalan baik, serta kelas musik dengan materi angklung dan tamborin. Program PBA Sumba membina 46 anak aktif dengan kelas musik angklung dan tari mulai dilaksanakan. Program PBA Alor menaungi 67 anak aktif dengan implementasi PjBL yang berjalan baik. Sementara itu, PAUD Edukasi Abdi Negeri Niskolen Takari memiliki 27 anak aktif dengan kegiatan pembelajaran yang berjalan baik.
Rangkaian Sesi yang Menyeluruh dan Terstruktur
Workshop ini dirancang dengan pendekatan holistik, mencakup aspek pedagogi, teknologi, seni, budaya, hingga spiritualitas. Seluruh sesi disusun secara berurutan dan sistematis, menghadirkan materi yang saling terkait satu sama lain.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan Firman Tuhan dari Kitab Roma 3:3-5 dengan tema “Dari Ketekunan Menuju Pengharapan: Panggilan Guru Membentuk Generasi Berkarakter Kristus”, yang dimentori oleh Pdt. Mesak Morib. Sesi ini menjadi fondasi spiritual yang menegaskan bahwa kesetiaan Allah tidak pernah dibatalkan oleh keterbatasan manusia — sebuah pengingat penting bagi para pendidik di wilayah 3T bahwa hasil pendidikan tidak selalu lahir seketika, tetapi selalu bertumbuh melalui ketekunan yang setia.
Suasana khidmat semakin terasa dengan Persembahan Ensambel Musik Teens GKAI Keparakan Lor yang dipimpin oleh Pdt. Mikhael Morib. Alunan musik dan nyanyian menjadi pengantar yang membawa seluruh peserta masuk ke dalam suasana refleksi dan kesiapan untuk belajar.
Penguatan Pedagogi dan Metodologi Pembelajaran
Sesi-sesi berikutnya didominasi oleh penguatan kompetensi pedagogi para guru. John Henri Tafui memandu serangkaian sesi Implementasi Pembelajaran Matematika yang berlangsung dalam empat sesi berturut-turut, mencakup pembelajaran matematika secara umum hingga penggunaan alat peraga penunjang pembelajaran serta implementasi AI for Education. Pendekatan ini menunjukkan bahwa matematika bukanlah ilmu yang kering dan abstrak, melainkan dapat dihidupkan melalui media dan teknologi yang relevan dengan konteks peserta didik.
Maria Tafui membawakan materi tentang Pengembangan Media Literasi Sederhana dan Murah untuk Pendidikan, dilanjutkan dengan Rekonstruksi Pedagogi Literasi dalam Pendidikan. Dua sesi ini menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku, melainkan kemampuan membaca manusia, membaca budaya, membaca lingkungan, dan membaca kebutuhan anak. Keterbatasan sumber daya justru menjadi ruang lahirnya kreativitas.
Sesi Matematika “Literasi pada Matematika Bar Model” yang disampaikan oleh Dewi Suryati Panggabean menjadi jembatan antara literasi dan numerasi, menunjukkan bahwa kedua kemampuan ini tidak dapat dipisahkan dalam membentuk peserta didik yang berpikir jernih dan bertindak benar.
Seni, Budaya, dan Potensi Daerah
Tidak hanya pedagogi, workshop ini juga mengangkat pentingnya seni dan budaya dalam pendidikan. Pdt. Mikhael Morib memimpin sesi Musik Angklung, memperkenalkan alat musik tradisional sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Dr. Ashiong P. Munthe membawakan sesi Membidik Potensi Daerah, mengajak para guru untuk melihat kekayaan lokal sebagai sumber belajar yang tak ternilai. Sesi ini diperkuat oleh Maria Semi Nuryanti dengan materi Etno Matematika, yang menunjukkan bahwa matematika tidak harus diajarkan secara lepas dari konteks budaya tempat anak-anak tinggal dan tumbuh.
Perkembangan Anak, Keragaman, dan Penilaian Pendidikan
Ristina Mauliana Sinurat memaparkan materi Child Development & Diversity, mengingatkan bahwa setiap anak membawa benih yang berbeda dan pendidikan bukanlah upaya menyeragamkan manusia, melainkan menemukan keunikan dan mengembangkan potensi masing-masing.
Dr. Ashiong P. Munthe kembali hadir dengan sesi Penilaian Berbasis Outcome Based Education (OBE) , memberikan pemahaman bahwa penilaian yang baik tidak hanya mengukur apa yang diketahui anak, tetapi juga bagaimana anak mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.
Eunike Septiani Morib memandu beberapa sesi penting, mulai dari Bedah Materi Pembelajaran & Kalender Akademik, Metode Pembelajaran Kreatif, hingga Yearly Overview & Penyelesaian Kalender Akademik. Sesi-sesi ini memastikan bahwa para guru tidak hanya memiliki wawasan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis dalam merencanakan dan mengelola pembelajaran sepanjang tahun.
Pembelajaran Bahasa Inggris di Tengah Keterbatasan
Indri Retno, M.Pd membawakan dua sesi yang sangat relevan dengan konteks wilayah 3T: Low-Cost, High-Impact: Creative English Teaching Strategies for 3T Area dan Teaching English with Limited Resources: Practical and Contextual Approaches for Young Learners. Kedua sesi ini memberikan strategi konkret bagi para guru untuk mengajarkan bahasa Inggris dengan sumber daya yang terbatas, tanpa mengorbankan kualitas dan dampak pembelajaran.
Spiritualitas dan Refleksi Akhir
Sesi Pendidikan Kristen & Spiritualitas, menegaskan bahwa iman adalah fondasi yang tidak terpisahkan dari seluruh proses pendidikan. Tanpa iman, pendidikan kehilangan arah; tanpa spiritualitas, pembentukan karakter kehilangan maknanya.
Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan adalah sesi Praktik PJBL (Project Based Learning) yang dipandu oleh Eunike S. Morib, di mana para guru diajak untuk merancang dan mempraktikkan langsung pembelajaran berbasis proyek yang sesuai dengan konteks lingkungan dan kearifan lokal masing-masing.
Dari Ruang Pelatihan Menuju Ruang Pengabdian
Kegiatan workshop ini bukanlah garis akhir, melainkan garis berangkat. Para guru yang hadir kini kembali ke sekolah masing-masing di berbagai wilayah 3T, membawa tidak hanya ide, metode, dan keterampilan baru, tetapi juga hati yang diperbarui. Karena perubahan pendidikan tidak pernah dimulai dari gedung yang megah — perubahan selalu dimulai dari guru yang bersedia berubah.
Seperti yang tertuang dalam visi Yayasan Edukasi Abdi Negeri untuk menjadi sahabat edukasi bagi mitra dalam membangun bangsa dengan karya-karya nyata, workshop ini menjadi salah satu wujud nyata dari pengabdian tersebut. Dengan program-program unggulan seperti Pendampingan Belajar Anak (PBA), Teacher Training, School Support, dan School Leadership, yayasan ini terus bergerak menjangkau daerah-daerah yang membutuhkan.
Taman Doa Apius Klaten, yang sebelumnya dikenal sebagai pusat pembinaan rohani dan rumah misi, telah menjadi saksi atas perjalanan pendidikan yang sarat makna. Di tempat inilah iman, ketekunan, dan pengharapan dirajut menjadi satu — mengingatkan setiap guru bahwa mereka bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan penabur harapan bagi masa depan bangsa.
Reporter APM

