Penulis: Merling Tonia Litron Litos Conthes Messakh, M.Pd
Ada pengalaman yang membuat saya terus bertanya tentang arti menjadi “orang luar” dan “orang dalam”.
Majalahgaharu Kupang Hampir dua puluh tahun saya merantau dan bekerja di tempat yang bukan tanah kelahiran saya. Saya hidup di tengah masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda. Dari sana saya belajar bahwa menjadi pendatang tidak dengan sendirinya berarti menjadi orang asing dalam kehidupan bersama.
Bahkan, di tempat yang bukan tanah kelahiran saya, saya pernah dipercaya untuk memimpin.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa tempat seseorang dilahirkan tidak menentukan nilai, kapasitas, integritas, maupun kemampuannya untuk berkontribusi. Menjadi pendatang tidak mengurangi martabat seseorang.
Lalu saya bertanya: apa yang sebenarnya membuat seseorang diterima sebagai “sesama”? Apakah kesamaan suku, budaya, atau daerah asal? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar?
Bagi orang Kristen, pertanyaan ini bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga persoalan etis dan teologis.
Identitas: Jembatan atau Tembok?
Suku dan budaya adalah bagian penting dari identitas manusia. Kita boleh mencintai budaya sendiri, menjaga tradisi, dan bangga dengan akar kehidupan kita. Keberagaman justru merupakan kekayaan yang patut dirawat.
Namun, ada perbedaan antara “merawat identitas” dan “menggunakan identitas untuk mengeksklusi”.
Identitas memberi kita akar dan rasa memiliki. Tetapi identitas juga dapat berubah menjadi batas ketika digunakan untuk menentukan siapa yang dianggap “kita” dan siapa yang ditempatkan sebagai “yang lain”.
Miroslav Volf, dalam Exclusion and Embrace, menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi dasar eksklusi ketika “yang lain” dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, ia menawarkan “embrace”, yaitu kesediaan membuka diri kepada yang lain tanpa kehilangan identitas diri.
Artinya, menerima orang lain tidak berarti menghapus identitas sendiri.
Kita dapat tetap mencintai budaya kita sekaligus menghargai budaya orang lain. Kita dapat memiliki akar tanpa menjadikan akar itu alasan untuk membangun tembok.
Martabat Manusia dalam Iman Kristen
Alkitab menempatkan manusia pertama-tama bukan berdasarkan suku, daerah, jabatan, atau status sosial, melainkan sebagai ciptaan Allah.
Kejadian 1:27 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, martabat manusia melekat pada keberadaannya sebagai ciptaan Allah, bukan pada asal-usulnya.
Paulus juga menegaskan bahwa dalam Kristus tidak ada lagi dasar untuk membangun hierarki kemanusiaan berdasarkan identitas: “Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).
Kesatuan dalam Kristus tidak berarti semua orang harus menjadi sama. Perbedaan tetap ada, tetapi perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi atau merendahkan yang lain.
Yakobus bahkan mengingatkan, “Janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka” (Yakobus 2:1).
Eksklusi tidak selalu hadir dalam bentuk penolakan terbuka. Ia dapat muncul melalui cara kita berbicara, memberi kesempatan, memberikan kepercayaan, atau membentuk penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan identitasnya.
Karena itu, cara kita memandang seseorang akan memengaruhi cara kita memperlakukannya.
Belajar dari Kristus tentang “Orang Asing”
Salah satu gambaran paling kuat tentang siapa yang disebut “sesama” terdapat dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25–37).
Yesus menjadikan seorang Samaria sebagai teladan. Padahal, orang Yahudi dan Samaria memiliki sejarah ketegangan dan perbedaan identitas. Namun, dalam kisah itu, perbedaan tidak menjadi alasan untuk mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan.
Orang Samaria tersebut berhenti, mendekat, merawat, dan menolong.
Yesus seolah membalik pertanyaan kita. Sesama bukan pertama-tama ditentukan oleh kesamaan suku, budaya, atau daerah asal. Sesama dikenali melalui kasih yang diwujudkan dalam tindakan.
Christine D. Pohl, dalam kajiannya tentang Christian hospitality, menempatkan penerimaan terhadap orang asing sebagai bagian penting dari tradisi Kristen. Keramahan Kristen bukan hanya tentang menerima mereka yang sudah dekat dengan kita, tetapi juga kesediaan membuka ruang bagi mereka yang berada di luar lingkaran kita.
Maka pertanyaan Kristiani bukan hanya, “Siapa orang yang berbeda dari saya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Sudahkah saya menjadi sesama bagi orang yang berbeda dari saya?”
Menjadi Sesama
Hampir dua puluh tahun hidup sebagai perantau membuat saya memahami bahwa menjadi “orang asing” adalah pengalaman yang sangat manusiawi.
Seseorang dapat datang dari tempat yang berbeda, tetapi kemudian menjadi bagian dari komunitas. Ia dapat membawa budaya yang berbeda, tetapi justru memperkaya kehidupan bersama. Ia dapat datang sebagai orang yang belum dikenal, tetapi kesempatan dan kepercayaan dapat membuatnya mampu berkontribusi.
Karena itu, kehidupan bersama tidak menuntut kita untuk menjadi sama. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk menghargai perbedaan.
Kita tidak memilih di mana kita dilahirkan atau dari budaya mana kita berasal. Tetapi kita dapat memilih bagaimana memperlakukan mereka yang berbeda dari kita.
Kita dapat membangun jembatan atau tembok. Membuka ruang atau menutup ruang. Menerima atau mengeksklusi.
Dalam perspektif iman Kristen, pilihan-pilihan itu adalah bagian dari kesaksian iman.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan “Dia orang mana?”, melainkan:
“Bagaimana saya memperlakukannya sebagai sesama ciptaan Allah?”
Kita boleh bangga dengan suku kita tanpa merendahkan suku lain. Kita boleh mencintai budaya sendiri tanpa menganggap budaya lain lebih rendah. Kita boleh mencintai tanah kelahiran tanpa menolak mereka yang datang dari tempat lain.
Sebab kedewasaan iman tidak hanya terlihat dari seberapa kuat kita mempertahankan identitas kelompok, tetapi dari seberapa mampu kita menjaga martabat manusia yang berbeda dari kita.
Di situlah etika Kristen diuji: bukan ketika kita berhadapan dengan mereka yang sama dengan kita, tetapi ketika kita berhadapan dengan mereka yang berbeda.
Sebab ketika “orang asing” dapat kita lihat sebagai sesama, kasih Kristus tidak lagi sekadar menjadi kata-kata, tetapi menjadi cara hidup.
Referensi:
Volf, Miroslav. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation. Nashville: Abingdon Press, 1996.
Pohl, Christine D. Making Room: Recovering Hospitality as a Christian Tradition. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing, 1999.
Alkitab: Kejadian 1:27; Galatia 3:28; Yakobus 2:1; Lukas 10:25–37.

