Majalahgaharu Mangupura, 24 Agustus 2026 — Pariwisata bukan sekadar tentang destinasi, perjalanan, dan angka kunjungan. Di balik sebuah tempat yang dikunjungi, selalu ada manusia, kebudayaan, sejarah, lingkungan, serta komunitas yang menjadi bagian dari denyut kehidupan di dalamnya.
Perspektif itulah yang mengemuka dalam rangkaian National Bible Camp (NBC) III Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Para senior GMKI tidak hanya diajak merefleksikan iman dan mempererat persaudaraan, tetapi juga membaca kembali bagaimana iman dapat hadir dalam kehidupan sosial melalui pengembangan pariwisata berbasis komunitas jemaat.
Gagasan tersebut dibahas dalam diskusi tematik bertajuk “Membangun Pariwisata Berbasis Komunitas Jemaat” yang berlangsung di Gedung Sinode GKPB, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Diskusi dipandu Pontas Simamora sebagai moderator.
Pembicaraan diarahkan pada satu pertanyaan penting: bagaimana jemaat tidak hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan industri pariwisata, tetapi menjadi bagian dari komunitas yang menggerakkan, mengelola, sekaligus menerima manfaat dari potensi wisata di wilayahnya?
Hadir sebagai pembicara dua tokoh dari Sinode GKPB, yakni Sekretaris Umum Sinode GKPB, Pdt. I Ketut Eddy Cahyana, yang mengisahkan sejarah Desa Blimbingsari, serta Pdt. Dr. Victor Hamel, yang membahas perkembangan pariwisata Bali, dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan, serta berbagai persoalan yang dihadapi Pulau Dewata.
Turut hadir Ketua Umum PNPS William Sabandar, Bishop GKPB Si Bagus Herman Suryadi, dan Sekretaris Jenderal PNPS Pdt. Jeiry Sumampaow.
Dalam sambutannya, Bishop GKPB Si Bagus Herman Suryadi menyambut para peserta sekaligus mengapresiasi pelaksanaan NBC III di Desa Blimbingsari.
Ketika Sejarah Menjadi Kesaksian
Kisah Blimbingsari menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan, berakar, dan kemudian membangun identitasnya.
Dalam pemaparannya, Pdt. I Ketut Eddy Cahyana mengisahkan perjalanan panjang komunitas Kristen Bali yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Desa Blimbingsari.
Sejarah itu berawal dari baptisan pertama terhadap 12 orang Bali yang berasal dari sejumlah desa, antara lain Untal-Untal, Buduk, dan Pelambingan. Peristiwa tersebut berlangsung di Tukad Yeh Poh pada 11 November 1931.
Perjalanan mereka bukanlah perjalanan yang mudah. Kehadiran komunitas Kristen pada masa itu memunculkan berbagai persoalan sosial dan keagamaan. Dalam situasi tersebut, muncul gagasan relokasi terhadap orang-orang Kristen Bali untuk menghindari pertikaian sekaligus meredam persoalan sosial-keagamaan yang berkembang.
Pemerintah kolonial Belanda bersama sejumlah warga Bali kemudian mengarahkan komunitas tersebut menuju kawasan hutan atau alas Cekik, sebuah kawasan yang pada masa itu dikenal sebagai tempat yang angker dan menjadi lokasi pembuangan atau meselong.
Namun sejarah kemudian memperlihatkan ironi. Apa yang dimaksudkan sebagai pembuangan justru menjadi ruang bagi sebuah komunitas untuk membangun kehidupan baru.
Di tempat itu, mereka tidak hanya bertahan. Mereka membangun rumah, kehidupan bersama, budaya, dan sebuah desa.
“Semangat perjuangan mereka membangun desa yang indah dan diberkati sehingga saat ini dijuluki The Promised Land,” ujar Eddy.
Blimbingsari pada akhirnya bukan hanya sebuah nama geografis. Ia menjadi kesaksian tentang bagaimana sebuah komunitas dapat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan dan pengalaman sejarah menjadi identitas.
Di sinilah sejarah kemudian bertemu dengan pariwisata.
Kisah komunitas, kehidupan jemaat, budaya lokal, lingkungan, dan pengalaman hidup masyarakat merupakan modal sosial yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka, tetapi justru menjadi daya tarik yang membuat sebuah tempat memiliki cerita.
Dari Wisatawan Menjadi Peziarah
Jika Eddy membawa peserta menelusuri akar sejarah Blimbingsari, Pdt. Dr. Victor Hamel mengajak mereka melihat pariwisata dari perspektif yang lebih luas.
Menurut Victor, pariwisata tidak semata-mata berbicara mengenai destinasi, jumlah wisatawan, atau pertumbuhan ekonomi. Pariwisata juga berbicara tentang manusia yang tinggal di sekitar destinasi, kebudayaan yang diwariskan, lingkungan yang harus dirawat, dan nilai-nilai sosial yang membuat sebuah komunitas tetap hidup.
Dari perspektif inilah ia memperkenalkan gagasan teologi pariwisata.
Salah satu gagasan yang ditekankannya adalah perubahan cara pandang dari wisatawan menjadi peziarah.
“Wisatawan berubah menjadi peziarah wisata,” ungkap Victor.
Peziarah tidak sekadar datang, melihat, mengambil gambar, lalu pergi. Perjalanan menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan manusia lain, memahami kebudayaan, menghargai lingkungan, serta meninggalkan sesuatu yang baik bagi tempat yang dikunjungi.
Dengan cara pandang demikian, perjalanan memperoleh dimensi spiritual dan kemanusiaan.
Gereja dan jemaat memiliki modal sosial yang besar untuk mengambil bagian dalam proses tersebut. Jaringan komunitas, sumber daya manusia, tradisi gotong royong, serta kepedulian terhadap kehidupan sosial dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Potensi itu dapat diterjemahkan dalam berbagai bentuk: budaya, kerajinan, kuliner, pertanian, sejarah, hingga pengalaman hidup masyarakat yang menjadi bagian dari sebuah desa.
Dengan demikian, masyarakat lokal tidak ditempatkan sebagai objek yang hanya menyediakan fasilitas bagi wisatawan. Mereka menjadi subjek yang memiliki suara, pengetahuan, ruang untuk berkembang, dan hak untuk memperoleh manfaat dari pariwisata.
Blimbingsari: Sebuah Ruang Belajar
Blimbingsari menjadi konteks nyata dari percakapan tersebut.
Desa yang memiliki sejarah panjang komunitas Kristen Bali ini memperlihatkan bagaimana kehidupan jemaat, kebudayaan lokal, sejarah, dan lingkungan dapat membentuk identitas sebuah kawasan.
Bagi para peserta NBC III, pengalaman live in di Blimbingsari membuat pembicaraan mengenai pariwisata berbasis komunitas tidak berhenti sebagai konsep di ruang diskusi.
Mereka mengalami langsung kehidupan masyarakat.
Di sana, pariwisata tidak hanya dilihat sebagai industri, tetapi sebagai ruang perjumpaan antara manusia, kebudayaan, iman, dan lingkungan.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi komunitas gereja dan jemaat di berbagai daerah untuk melihat kembali potensi yang mereka miliki.
Pdt. Ronald Rischad Tapilatu, selaku pengarah sekaligus pengurus PNPS yang terlibat dalam pelaksanaan NBC III, mengatakan diskusi dan pengalaman live in di Blimbingsari diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi para senior GMKI setelah kembali ke daerah masing-masing.
Menurut Ronald, pengalaman tersebut dapat mendorong lahirnya gagasan untuk mengembangkan desa-desa Kristen di berbagai daerah dengan mengangkat potensi masyarakat dan kekuatan komunitas sebagaimana yang dilakukan di Blimbingsari.
“Iman tidak hanya berhenti pada kehidupan internal gereja, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperluas makna iman. Iman tidak berhenti di dalam gedung gereja. Ia dapat hadir di tengah masyarakat, dalam cara sebuah komunitas mengelola tanahnya, menjaga lingkungan, mengembangkan ekonomi, merawat kebudayaan, dan memperlakukan sesama manusia.
Pariwisata yang Menghidupkan
Pada akhirnya, pembicaraan tentang pariwisata berbasis komunitas jemaat membawa peserta pada refleksi yang lebih mendasar.
Pariwisata tidak semestinya hanya diukur melalui jumlah wisatawan yang datang, tingkat hunian hotel, nilai transaksi, atau pertumbuhan ekonomi.
Di balik setiap destinasi terdapat manusia.
Ada keluarga yang menggantungkan kehidupan dari tanahnya. Ada kebudayaan yang diwariskan lintas generasi. Ada lingkungan yang harus dijaga. Ada sejarah yang tidak boleh hilang. Dan ada komunitas yang berhak menentukan bagaimana ruang hidup mereka dikembangkan.
Karena itu, pariwisata berbasis komunitas jemaat bukan semata-mata strategi untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan.
Lebih jauh, ia merupakan upaya untuk menemukan kembali makna kehadiran gereja di tengah masyarakat.
Jemaat memiliki potensi untuk menjadi ruang perjumpaan, penguatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, sekaligus perawatan lingkungan.
Dalam kerangka itu, Blimbingsari memberikan sebuah pelajaran sederhana namun penting: sebuah komunitas yang memiliki sejarah, iman, budaya, dan semangat untuk membangun bersama dapat mengubah pengalaman masa lalu menjadi kekuatan untuk menatap masa depan.
Dari sana, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sebuah tempat.
Mereka datang untuk berjumpa dengan kehidupan.
Dan ketika sebuah perjalanan melahirkan perjumpaan, penghargaan, kepedulian, serta perubahan positif, pariwisata tidak lagi sekadar perjalanan menuju suatu tempat.
Ia menjadi sebuah ziarah kemanusiaan.
Diskusi ditutup dengan penyerahan buku karya Pdt. Dr. Victor Hamel kepada para senior GMKI yang diwakili Pdt. Ronald Rischad Tapilatu.
Para peserta kemudian kembali ke penginapan untuk mempersiapkan diri mengikuti ibadah penutupan NBC III yang dijadwalkan berlangsung di Lapangan Gedung DPRD Provinsi Bali.(*)
