Maruarar Sirait pada Seminar Nasional: Kehadiran Tuhan Bukan Sekadar Konsep Iman Melainkan Kekuatan Nyata dalam Menghadapi Krisis Keluarga

Ayo Bagikan:

Ketua Umum Natal Nasional Maruarar Sirait mengingatkan bahwa keluarga Indonesia hari ini berada dalam tekanan luar biasa dengan berbagai permasalahan yang dihadapi. Hal itu disampaikan pada Seminar Natal Nasional yang berlangsung di Aula Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) di Jakarta dihadapan lima ratusan tamu undangan. Seminar ini merupakan puncak dari 9 Seminar di 9 kota dalam menyambut Natal Nasional yang akan digelar 5/01/2026.
“Masalah relasi suami-istri, masa depan anak, ekonomi, pinjaman online, narkoba, hingga krisis nilai. Namun jawaban dari semua tantangan itu hanya satu: Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga,” ujarnya sembari mengutip tema Natal Nasional 2025 yang disepakati Kristen dan Katolik.

Menteri Perumahan Kawasan Permukiman (PKP) ini menekankan bahwa kehadiran Tuhan bukan sekadar konsep iman, melainkan kekuatan nyata dalam menghadapi krisis keluarga dan dinamika persiapan Natal Nasional 2025 yang penuh tantangan.

Tampak hadir tokoh-tokoh penting seperti tokoh lintas agama, pejabat negara, akademisi, serta pemimpin gereja. Adapun pembicara di antaranya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A (Menteri Agama RI), Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Prof. Stella Christie, Ph.D, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dan
Pdt. Indah Sriulin Ginting, M.Th., M.A. Seminar dipandu Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, M.A – Ketua Umum PGI.

Selain itu hadir Pdt. Dr. Jason Joram Balompapueng selaku Ketua Pelaksana Harian Natal Nasional,
Hening Parlan, M.Si, Aktivis Lingkungan & Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah
Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si – Komisi Keluarga KWI. Juga Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D selaku Koordinator Seminar Natal Nasional di 9 kota di Indonesia.

Menteri Agama RI menyampaikan bahwa norma negara lebih sedikit daripada norma dalam Kitab Suci yang jumlah ratusan. Intinya sesuatu negara dan bangsa itu terkait norma.

“Bicara keluarga itu bicara ayah, ibu dan anak. Yang dalam alkitab dibandingkan anak biologis lebih selamat anak spritualnya. Jadi jangan kuatir yang tidak punya keluarga bisa punya anak spritulis atau sosialis.”

Kalau tidak ada relasi emosionil anak biologis itu bisa jadi masalah. Dari statistik pernikahan di Indonesia dari 2 juta pernikahan cerai 35 persan.

“Otomatis kembali ke keluarga, perbaiki hubungan keluarga dan kalau ini tidak bisa dilakukan negara kita terancam. Fondasinya dari keluarga.”

Prof. Stella Christie, Ph.D yang juga Wakil Menteri Pensidikan Tinggi, Sains dan Teknologi menyanyakan floor kapan makan bersama lengkap dalam keluarga atau nonton bersama dengan bincang-bincang akrab.

“Menurut data eksperimen bahwa secara emperik menonton video Einstein dan sejenisnya, dengan bersama dengan sendiri berbeda. Hasilnya anaknya lebih pinter jika lebih banyak bebicara dengan orang tuanya.”

Sementara itu, Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan menekankan bahwa tema seminar ini sangat strategis:

“Keluarga adalah fondasi gereja dan bangsa. Ketika keluarga kuat, gereja kuat, dan bangsa menjadi kokoh.”

Ia menyoroti berbagai krisis keluarga yang dibahas dalam seminar, seperti pinjaman online, judi online, kerusakan lingkungan, perdagangan manusia, dan tekanan sosial kota besar.

Pada kesempatan itu Maruarar me yampaikan Panitia Natal Nasional 2025 juga memaparkan berbagai program nyata berdampak nasional: 1.000 bantuan pendidikan bagi generasi muda, 35 unit mobil ambulans untuk layanan kesehatan, 20.000 Alkitab didistribusikan ke seluruh Indonesia, 1.000 kursi roda untuk penyandang disabilitas, 2 jembatan gantung di Papua demi akses aman masyarakat, Pembangunan gedung pendidikan Injil di Wamena
dan Dukungan penuh kepada 3.000 tamu kehormatan dari 3.600 peserta: anak yatim, disabilitas, guru agama, dan warga kurang mampu

Lebih dari itu, semangat persaudaraan lintas iman menjadi wajah kuat Natal Nasional 2025. Panitia menerima dukungan: Rp10 miliar dari umat Muslim dan Rp5 miliar dan 20.000 paket sembako dari umat Buddha
yang seluruhnya didistribusikan untuk kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kasih Kristus melintasi sekat agama. Mengasihi sesama adalah iman yang diuji dalam tindakan,” tegas Maruarar Sirait.
Panitia juga menyampaikan komitmen kemanusiaan global, termasuk perhatian khusus bagi rakyat Palestina.

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Like