
Majalah Gaharu – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Perayaan Puncak Natal Nasional yang berlangsung di Tennis Indoor, Senayan Jakarta, pada Senin (5/1), menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia.
“Di bumi nusantara, agama yang berbeda-beda tetapi kita bisa bersatu dan hidup sebagai satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa, dengan niat yang sama, yaitu meraih kehidupan yang baik bersama,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden juga mengajak seluruh masyarakat untuk mensyukuri kondisi bangsa Indonesia yang tetap damai di tengah dinamika global.
“Bahwa sesungguhnya di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan gejolak perang di mana-mana, kita harus bersyukur bahwa bangsa kita sampai hari ini mengalami keadaan damai,” lanjutnya dihadapan tamu kehormatan, tokoh aras gereja, jajaran kabinet dan seluruh undangan.
Menteri Agama K. H. Nazarudin Umar dalam sambutannya menyampaikan bahwa perayaan natal nasional ini istimewa karena dihadiri Presiden. Ini menunjukkan perhatian negara dalam merawat kerukunan bangsa. Indonesia dibangun bukan keseragaman tetap dengan perbedaan yang saling menghormati dan menghargai.
Sesuai tema natal, Allah datang menyelamatkan keluarga. Keluarga sebagai sentral, dari keluarga akan semangat gotong royong, toleransi, nilai hidup. Karena itu jangan mengingkari perbedaan tetapi kita merawat dengan harmoni.
“Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendoakan mereka korban dan memberikan perhatian dan peduli. Bisa membebaskan mereka.”
Ketua Dewan Penasehat Natal Nasional Hashim Djojohadikusumo menyatakan atas nama panitia natal nasional menghaturkan terima kasih atas kehadiran para tamu kehormatan dan undangan yang sudah berpartisipasi dalam acara ini. “Saya mengucapkan selamat natal 2025 dan selamat tahun baru 2025,” ungkapnya.
Sebelumnya, dalam ibadah yang berlangsung sore hari dalam renungan natal Pdt. Jason Balompapueng menyampaikan bahwa dengan keadaan yang terjadi sekarang, dengan berbagai bencana dihadapi, sering kita bertanya dimana Tuhan di saat-saat kita memerlukannya, di saat mengalami kesusahan dan saat bencana melanda.
“Dia, Allah harus tinggalkan surga datang ke bumi untuk menyelamtkan kita umat manusia. Itu peristiwa luar biasa yang kita kenal Natal sekarang ini,” ujarnya.
Sementara Ketua Umum Natal Nasional Maruarar Sirait menegaskan kembali bahwa Natal adalah panggilan untuk terus bergerak dalam kasih dan pengabdian.
“Natal Nasional 2025 kami persembahkan sebagai Natal yang hidup dan bekerja di tengah masyarakat. Ketika keluarga dikuatkan, yang lemah dipedulikan, dan yang terdampak dibangkitkan harapannya, di situlah kasih Tuhan nyata hadir. Inilah Natal yang kami hidupi bersama, sederhana dalam pelaksanaan namun berdampak luas bagi Indonesia,” tutur Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP).
Ara mengakhiri sambutannya, dengan menyampaikan bahwa semua rangkaian natal hingga puncak perayaan Natal Nasional ini bisa dilaksanakan dengan baik, itu semua untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus dan hanya oleh karena kemurahan dan anugerahNya.
Panitia Natal Nasional 2025 menyelenggarakan Perayaan Natal Nasional sebagai momentum iman yang menghadirkan pesan utama “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24). Tema ini menegaskan bahwa Natal tidak hanya dimaknai sebagai perayaan liturgis, melainkan sebagai peristiwa kasih yang hadir dan bekerja dalam kehidupan nyata melalui penguatan keluarga, solidaritas sosial, serta kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana dan keterbatasan.
Tamu Kehormatan Natal Nasional 2025
Seperti diketahui puncak Perayaan Natal Nasional 2025 dilaksanakan secara khidmat dengan menghadirkan 3.000 tamu kehormatan secara luring. Para tamu kehormatan tersebut terdiri dari 500 anak Sekolah Minggu Kristen–Katolik, 500 guru Sekolah Minggu Kristen–Katolik, 500 koster gereja Kristen–Katolik, 500 guru agama Kristen–Katolik, 400 anggota paduan suara Kristen–Katolik, 500 anak yatim piatu Kristen–Katolik, serta 100 penyandang disabilitas Kristen–Katolik. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa Natal Nasional 2025 memberi ruang utama bagi mereka yang setia melayani dan menjadi cerminan keragaman dalam kasih Kristus.
Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 sekaligus Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyampaikan bahwa keputusan menghadirkan para tamu kehormatan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan kepedulian nyata. “Kami ingin Natal Nasional benar-benar dirasakan oleh mereka yang selama ini melayani dengan tulus dan menjadi cerminan dari keragaman dalam kasih Kristus yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Maruarar.
Seluruh tamu kehormatan masing-masing menerima bantuan kasih sebesar Rp1.500.000 per orang, dengan total dukungan mencapai Rp4,5 miliar. Selain itu, Natal Nasional kali ini tidak menghadirkan artis nasional melainkan penyanyi-penyanyi gereja lokal dari seluruh Nusantara yang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk dapat melayani secara langsung di Jakarta.
Berdampak Untuk Bangsa
Natal Nasional 2025 juga diwujudkan melalui rangkaian aksi sosial tanggap bencana alam yang telah dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia sejak November 2025. Di Medan, Panitia Natal Nasional menyalurkan bantuan senilai Rp550 juta berupa 1.100 paket sembako kepada masyarakat terdampak pada 28–30 November 2025. Aksi serupa dilakukan di Aceh dengan bantuan Rp550 juta berupa 1.520 paket sembako pada 5–8 Desember 2025. Di kawasan terdampak erupsi Semeru, Jawa Timur, bantuan senilai Rp350 juta berupa 1.000 paket sembako disalurkan pada 27–29 November 2025. Sementara itu, di Padang, bantuan Rp800 juta berupa 1.600 paket sembako disalurkan pada 3–6 Desember 2025, dan di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, bantuan Rp550 juta berupa 2.000 paket sembako diberikan pada 2–10 Desember 2025.
Selain bantuan pangan, Panitia Natal Nasional 2025 juga menyalurkan bantuan sandang dan perlengkapan kebersihan serta mendirikan dua dapur umum di Medan dan dua dapur umum di Aceh. Secara keseluruhan, total bantuan sosial bencana alam yang telah disalurkan mencapai Rp2,8 miliar dengan jumlah 7.220 paket sembako.
Tidak hanya berfokus pada respon terhadap bencana, Panitia Natal Nasional 2025 juga menyiapkan program bantuan berkelanjutan untuk memperkuat masa depan keluarga Indonesia. Di bidang pendidikan, bantuan senilai Rp10 miliar disalurkan kepada 1.000 penerima manfaat di Papua, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Toraja, Sulawesi Utara, NTT, Toba, Mentawai, dan Nias, masing-masing menerima Rp10 juta per orang. “Pendidikan adalah jalan pembebasan dan harapan. Melalui bantuan ini, kami ingin menanamkan iman dalam tindakan yang mempersiapkan masa depan generasi muda,” ujar Maruarar.
Di bidang kesejahteraan masyarakat, Panitia Natal Nasional 2025 juga menyiapkan pembagian 20.000 paket sembako di sepuluh wilayah tersebut, bantuan kesehatan berupa 35 unit ambulans yang disebar di berbagai daerah dan lintas umat di Jakarta, serta dukungan renovasi 100 gereja di 38 provinsi dengan total nilai Rp10 miliar. Program ini mencakup renovasi gereja-gereja di wilayah Papua, Maluku, Maluku Utara, dan NTT, serta puluhan provinsi lainnya.
Bantuan yang disalurkan juga mencakup pembangunan dua jembatan di Papua Pegunungan senilai Rp2,5 miliar, pembangunan aula Sekolah Tinggi Alkitab Tambozeman di Desa Sinakma, Wamena, Papua Pegunungan senilai Rp3 miliar, pembagian 10.000 Alkitab kepada masyarakat, serta bantuan 1.000 kursi roda dengan total nilai Rp850 juta.
Selain aksi sosial, Natal Nasional 2025 juga diperkuat melalui rangkaian seminar nasional yang diselenggarakan di Bandung, Medan, Manado, Palangkaraya, Ruteng, Ambon, Merauke, Toraja, dan Jakarta. Seminar-seminar ini mengangkat tema ketahanan keluarga, toleransi beragama, kesehatan mental, bahaya judi online dan narkoba, serta harmoni antara manusia dan alam, dengan ribuan peserta dari kalangan mahasiswa, rohaniawan, akademisi, dan masyarakat umum.
Pohon Natal Unik Capai Rekor MURI
Istimewanya Perayaan Natal Nasional 2025 melibatkan pelaku UMKM dan petani lokal melalui Pohon Natal Buah Nusantara yang disusun dari hasil bumi berbagai daerah sebagai simbol syukur dan keberpihakan pada ekonomi rakyat.
Pohon Natal ini menampilkan apel hijau Malang sebanyak 1.350 kilogram, apel merah Malang 1.532 kilogram, belimbing Cirebon 479 kilogram, jeruk Medan 976 kilogram, jeruk Pontianak 581 kilogram, manggis Subang 1.662 kilogram, nanas Subang 1.445 kilogram, pepaya Subang 971 kilogram, salak Sleman 984 kilogram, semangka Indramayu 1.133 kilogram, serta matoa Papua 150 kilogram, dan berbagai hasil pertanian Nusantara lainnya.

