Sebuah Perenungan di akhir tahun: Integritas Penguji Skripsi

Ayo Bagikan:

Jakarta, majalahgaharu.com-Ruangan sidang skripsi virtual terlihat menegang ketika mahasiswa tingkat akhir yang baru saja selesai memaparkan hasil risetnya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para dosen penguji. Padahal mahasiswa ini tergolong mahasiswa yang smart dan selalu mengikuti saran sang dosen pembimbing.

Namun keputusan dewan penguji skripsi menyatakan bahwa si mahasiswa tidak tepat di dalam memilih metode penelitiannya dan skripsinya hanya memenuhi 90% kriteria di dalam rubrik yang telah ditentukan. Mahasiswa harus melakukan revisi mayor terhadap tulisannya. Keputusan semacam ini tidak hanya mematahkan semangat si mahasiswa, tetapi juga dosen pembimbing.

Mungkin si mahasiswa dapat menangkap sisi positif dari revisi skripsinya yaitu bahwa ia memang sedang berada dalam proses belajar. Dan, ini adalah salah satu jalan yang harus ditempuhnya untuk mendapatkan gelar Sarjana. Tapi bagaimana dengan si dosen pembimbing? Apakah ada perasaan gagal dalam membimbing? Apa makna positif buat dosen pembimbing melalui peristiwa revisi mayor mahasiswa bimbingan skripsinya?

Perasaan gagal dan pekerjaan yang serasa sia-sia ini harusnya membawa si dosen pembimbing kepada sebuah perenungan: apakah aku mengetahui secara sungguh-sungguh apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan dari mahasiswa bimbinganku?

Apakah aku memahami apa yang sedang dibidik mahasiswaku sebagai masalah? Apakah aku menyediakan waktu untuk mendiskusikan semua pemikirannya dan bukan malah mendiktenya untuk melakukan apa yang kupikirkan atas judul yang telah dipilih?

Apakah aku mengajak mahasiswa berpikir sampai kepada akar dan pondasi sebuah penelitian yang tercantum di Kejadian 1:28 yaitu perlunya pengetahuan, keterampilan, dan afeksi dalam mengelola bumi untuk kemuliaan Tuhan?

Apakah aku menuntun mereka untuk menemukan sebuah solusi yang tepat untuk permasalahan yang ditemukan yang akan membawa perbaikan pada dunia ini, bukan malah mengajari mereka untuk mengeksploitasi sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pihak-pihak tertentu?

Kata-kata Parker Palmer dalam bukunya The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a Teacher’s Life, “Good teaching cannot be reduced to technique; good teaching comes from the identity and integrity of the teacher” semakin mempertajam perenungan seorang dosen pembimbing skripsi. Apakah selama ini aku membimbing mahasiswaku hanya karena beban kerja untuk memenuhi tuntutan sekian SKS untuk bimbingan skripsi ini? Sehingga aku hanya menyediakan waktu sebanyak berapa menit kali berapa SKS untuk mahasiswaku itu.

Semuanya harus dilakukan tepat seperti hitungan jam yang sudah diberikan oleh fakultas. Ataukah aku selalu mengusahakan sebuah diskusi yang berkualitas dengan mahasiswa bimbinganku?

Sebenarnya apa yang sedang kuusahakan saat aku membimbing penulisan skripsi ini? Adakah diriku sedang membangun popularitas supaya rekan sejawat dan para mahasiswa tahu bahwa aku adalah dosen senior yang sudah mengetahui seluk beluk skripsi?

Atau aku menginginkan sebuah pengakuan atas kepakaran di bidangku? Ataukah aku sedang membutuhkan perhatian dari lingkungan sekitarku melalui karya yang kubangun bersama mahasiswaku? Atau aku sedang mengumpulkan KUM untuk dapat mengurus JJA atau BKD supaya lancar? Bila semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah YA, maka aku sebenarnya sedang membangun kerajaan dan tahta kemuliaanku sendiri dan bukan nama Tuhan yang ditinggikan melalui pikiran, ucapan, dan tindakanku.

Jadi sebenarnya apa yang Tuhan inginkan untuk aku lakukan selama aku membimbing skripsi mahasiswaku? Karakter Ilahi apakah yang Tuhan ingin aku bertumbuh saat menjadi pelayan-Nya? Rendah hati. Itu jawaban pastinya.
Lagu Sekolah Minggu yang berjudul:

Dia Harus Makin Bertambah

Dia harus makin bertambah, Ku harus makin berkurang,Nama Yesus saja disembah, Ku di tempat yang paling belakang
Bila Yesus ditinggikan Dan salib-Nya dibritakan, Pasti Dia menarik semua orang, Datang kepada-Nya skarang

Didasari dari Yohanes 3:30 kesaksian Yohanes tentang Yesus: Yesus harus makin besar dan aku (Yohanes) harus makin kecil. Yohanes berani menyatakan diri bahwa ia bukan Mesias, melainkan diutus untuk mendahului Yesus lahir ke dunia.

Sebuah pernyataan yang disampaikan dengan tegas, to the point, penuh kesadaran, dan rendah hati. Yohanes tidak mengambil keuntungan dari peristiwa pembaptisan Yesus. Ia tetap sadar diri dan dengan rendah hati mengakui bahwa ia hanyalah salah satu orang yang Tuhan utus untuk mewartakan kasih-Nya kepada umat manusia.

Apakah dalam hal ini seorang dosen pembimbing skripsi juga memiliki kedudukan yang sama dengan Yohanes dalam hal menjadi salah satu orang yang diutus Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya melalui pendampingan mahasiswa skripsi? Dosen pembimbing skripsi yang rendah hati dapatlah dilihat dari salah satu buahnya yaitu mau menuntun mahasiswanya untuk mampu menyadari arti dan tujuan penulisan skripsinya.

Mereka juga menginspirasi mahasiswanya untuk memiliki kemauan kuat dan penuh kesadaran mengaplikasikan hasil penelitiannya untuk perbaikan masyarakat di sekelilingnya terutama selepas bangku kuliah. Dosen pembimbing skripsi yang menginspirasi mahasiswa adalah dosen yang membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus dan mau selalu mengasah kepekaan batin melalui perenungan yang mendalam, serta belajar dengan rendah hati dari semua fenomena yang disajikan dengan menyediakan waktu untuk menganalisisnya secara tajam dan mengambil kesimpulan dengan penuh kehati-hatian.

Tentulah, tindakan yang diambil akan membawa damai dan keadilan bagi semua pihak. Itulah hikmat dan anugerah bagi seorang dosen pembimbing skripsi (Mazmur 119:98-100).

Apakah pelajaran berharga ini hanya berlaku untuk dosen pembimbing skripsi dan mahasiswanya? Oh tentu tidak, relasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa di atas hanya merupakan sebuah gambaran kecil bagaimana Tuhan membentuk pribadi setiap orang melalui setiap hal yang terjadi di dalam sebuah komunitas.

Tidak peduli kapan dan di mana, Tuhan selalu menguji kesetiaan kita untuk mempersiapkan diri kita melakukan misi pekerjaan Allah di dunia ini. Jadi apakah kita semua menyadari dan selalu siap dengan tugas-tugas baru dari Tuhan yang tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya?

Mari kita renungkan baik-baik tujuan hidup kita di dunia ini. Mari belajar rendah hati, merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta kita, supaya apapun yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Sang Pencipta.

Selamat memasuki tahun baru dan semester baru dengan komitmen yang lebih teguh untuk menjadi orang yang berintegritas di dalam Tuhan.

Oleh : Juniriang Zendrato, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan – Universitas Pelita Harapan

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *