Pendidikan berubah – Pendidikan Menggugah Masa depan Pendidikan Indonesia

Ayo Bagikan:

Jakarta majalahgaharu.com Hampir setengah abad lebih (sejak 2 Mei ditetapkan sebagai hari nasional melaui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember) dunia pendidikan dan emansipasi perempuan banyak didengungkan di Indonesia. Tepat  di 21 April 1879 sebagai hari Kartini, serta hari pendidikan Indonesia yang diperingati setiap tgl 2 Mei 1889 untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia serta inspirator guru sebagai rahim pendidikan di Indonesia dengan wisdom.

Fenomena pendidikan Indonesia telah mengalami berbagai pergumlan serta perkembangan sejak banyak dipikirkan oleh pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Maret 2020 hingga kini, da tahun beranjak, Indonesia sempat dikejutkan dengan fenomena pandemic besar, berupa virus besar yang melanda tidak hanya di Indonesia tetapi bumi kita, dengan penyebaran virus  dimana – mana. Sistim belajar sedemian rupa dilakukan dengan cara on line system disertai dengan kelengkapan sarana prasarana pendukung yang dibutuhkan, baik dirumah maupun di sekolah. Baik dari system wifi, prasarana laptop, hand phone disertai dengan hambatan pembelajaran secara mandiri via on line.

Dalam prosesnya setelah dievaluasi cukup berat dan memiliki tantangan tersendiri khususnya bagi yang sudah remaja, pemuda, merupakan waktu riskan dengan kemandirian, tetapi mulai terpengaruh dengan kondisi sosial. Sosial sekolah yang kali ini secara abstrak didapatkan di komnitasnya secara on line, digitalisasi.

Dunia komunitas on line ini yang perlu diteliti seberapa besar dampaknya bagi perkembangan psikologis anak-anak yang mengecap dunia maya, sedangkan ada dunia realitas sesungguhnya memunculkan dunia nyata aksi reaksi secara psikomotorik yang berpengaruh secara afektif dan kontak langsung, empat mata. Intinya, selama 2-3 tahun terciptalah suatu generasi berbeda dari generasi biasanya dengan tekanan ketakutan (bahkan paranoid) atas kesehatan bahkan kematian (atas virus), dan untuk itu anak-anak menyalurkannya dalam komunitas maya yang juga tak kalah mengkhuatirkan bagi para orang tua yang memiliki kesulitan dan dilemanya tersendiri. Meskipun mereka (anak didik duduk diam) di depan computer tetapi beberapa orang tua justru memiliki keluhan :

  1. Anak cenderung anteng, diam, tidak pecicilan atau banyak memnggunakan gerakan psikomotorik, tapi kok yang dilihat dilayar kalau tanpa pantauan berbeda…. Bukan pelajaran tetapi pemanfaatan situs –situs yang ada didalam computer seperti game, wa chating,bahkan salah satunya adalah game online!
  2. Dari kondisi diatas ada beberapa anak yang bisa split konsentrasi dengan hasil baik. Lama-lamaperhatian kepada gurunya yang cukup terganggu, dan konsentrasi jadi berfokus pada hal yang bukan primer yanitu mendengarkan guru, sebab game yang lebih di sukai… bagaimana mungkin konsentrasi pada bidang akademik bisa baik?
  3. Buat anaka-anak tertentu sudah mulai game adiksi karena lebih memilih melihat apa yang ia suka dari pada apa yang seharusnya ia hadapi yaitu melihat guru dan manageman sekolah baik waktu maupun mata pelajaran serta tugas tugas dari guru yang harus mengejar  realisasi rancangan proses belajar mengajar.
  4. Orang tua jadi harus ekstra menjaga anak-anak; terlebih diusia remaja , usia anak mulai tmbuh ego serta berbagai konfrontasi konflik dengan orang tua lebih kerap, karena usia ini anak mulai mencari jati diri ditengah masa akil baliknya. Bisa dibanyangkan orang tua yang hars menunggu seperti sama juga jam guru memantau mata dan konsentrasi anak. Sejak pukul 06.45 anak harus dipantau konsentrasi dan komitmen belajarnya yang sering cukup lemah sampai jam 12.45. Saya adalah konteks orang tua murid yang peduli pada pendidikan dan ada dalam kondisi di atas sebagai studi kasus unik, subyektif, tetapi setelah dikonsultasikan dengan guru, hasilnya rata-rata sama saja yang terjadi pada anak didik lainnnya.

Adapun dari pandangan beberapa guru kendala yang menjadi perhatian mereka antara lain :

  1. Kerapkali nilai yang muncul sering tidak jujur karena apa yang diajarkan sering diterima dengan keluhan orang tua serta murid seperti yang dikemukakan di atas sedangkan itu kompetensinya tidak teruji dengan tajam.
  2. Guru memang mengalami update ilmu yang ekstra agar tidak gagap teknologi dengan perkembangan ilmu yang ada
  3. Kebebasan kurikulum baru ini terus pula menuntut pihak sekolah dan guru untuk dapat beradaptasi mengejar standar baik dan maksimal sebagai sekolah penggerak dilengkapi dengan guru guru serta kepala sekolah yang berkompetensi yaitu sebagai guru penggerak.

Sedangkan beberapa keluhan dan pertimbangan dari sisi anak mengungkapkan demikian :

  1. Bahwa sekolah on site jauh lebih memudahkan konsentrasi serta bersosialisasi.
  2. Bisa bertemu teman-teman yang membangkitkan spirit dan semangat belajar

Digitalisasi, online system, seharusnya berprinsip bahwa teknologi harus dapat menjadi pembantu manusia dan bukan sebagai perusak cara pembelajaran manusia! Fenomena di atas yang sudah penulis paparkan merupakan kenyataan yang teruji bahwa sesungguhnya pendidikan memang harus dilakukan secara holistic (termasuk ekstrakurikuler yang mendukung selain intrakurikuler) dan tidak sekedar mengisi lembar kertas ujian, mengisi olah otak secara kognisi tetapi juga psikomotorik termasuk di dalamnya tentang pemberdayaan digital on line yang memerlukan kesigapan, kepekaan dan kompetensi yang dihasilkan dengan sesuai tujuan goal yang hendak dihasilkan.

Bukan menjadi gamer bukan? Pendidikan yang dilakukan secara hybrid on line dan on site sekarang ini tidak lagi dapat dipungkiri pelaksanaannnya memang harus demikian, dan menjadi kebutuhan di konteks sekarang ini yang masih terus dengan adaptasi kebebasan lingkukan dari berbagai virus yang terus berkembang variantnya. Fenomena lainnya yaitu pengadaan fasilitas–fasilitas serta pengadaan infrastruktur sekolah yang dikondisikan sebagai syarat prasarana didik dirumah-rumah, di daerah-daerah terpencil. Artinya perlu keadilan serta pemerataan dana dari pemerintahan serta “blue print pendidikan” yang terus diuji.

Visi dan misi dari Nadiem Makarim, mas mentri pendidikan Indonesia tentang “memerdekakan belajar”, “guru merdeka” serta kemerdekaan yang terinspirasi dari prinsip KI Hadjar Dewantara itu perlu diperlengkapi agen pendidikan seperti guru dan kepala sekolah yang berkompeten serta komunitas guru penggerak yang diperhatikan serta  menjadi pemberdayaan guru kaderan berikutnya ke tahap professional dan setara untuk menjadi pendidik penggerak bagi guru lain. Ide–ide fantastis yang idealis termasuk pengadaan kurikulum secara multi bagaikan supermarket yang mampu disajikan sesuai konteks lingkungan daerah masing masing sangat memikat saya. Hal ini menurut saya akan menjawab ledakan kecerdasan yang dapat diramu dan dibimbing arahkan juga digali lebih spesifik lagi atas keragaman serta inovasi-inovasinya.

Seperti seorang guru mampu memasak krikulum yang tepat dan disukai oleh lingkungan anak-anak sekitar disertai inovasi-inovasi baru, hal tersebut perlu diberikan atensi serius, sehingga kurikulum bukan bedasarkan pemikiran satu orang saja dari atasan saja tetapi tim guru penggerak. Mnculah sekolah unggulan dengan sistimnya sendiri yang lebih siap dan berkualitas.

Multiple Intelligentsi yang dikemukakan oleh Howard Gardner salah satu guru dan peneliti Harvard sejakpada tahun 1983 Membagi kecerdasan dalam 7 kecerdasan, antara lain : 1. Kecerdasan Bahasa, 2. Kecerdasan Mathematic, 3. Kecerdasanmsik, 4. Kecerdasan kinestetik, 5. Kecerdasan interpersonal, 6. Kecerdasan Intra personal serta 7 Kecerdasan Naturalis. Dalam penelitian selanjutnya Howard Gardner manambahkandua kecerdasan, yaitu 8. Kecerdasan Spasial Ruang serta,  9. Kecerdasan Eksistensial. Saya termasuk yang melakukan penelitian independence, yang pada tahun 2007 melakukan penelitian dengan penambahan kecerdasan menjadi satu penambahan yaitu kecerdasan spiritualitas yang dimasukan dalam kategori kecerdasan eksistensial. Saya sendiri melakukan peneliatian idependen lainnya dan meneliti sekitar terdapat  sekitar 11 kecerdasan baru yang terus berkembang, yang semuanya itu antara lain adalah : 10. Kecerdasan hati, 11. Kecerdasan indera, 12.

Kecerdasan Reflektif spiral, 13. Kecerdasan Digital, 14 Kecerdasan Spiritual, 15. Kecerdasan waktu, 16. Kecerdasan Managemen, 17. Kecerdasan emosi, 18. Kecerdasan Cintakasih/Seksual, 19. Kecerdasan Artificial, 20 Kecerdasan Difable. Kecerdasan-kecerdasan itu harus dikemas keahliannya, dipelajari dan di ramu sedemikian rupa agar dapat menjadi bermanfaat dilingkungan sekitar sesuai konteksnya. Pada kenyataannnya menurut peringkat managemen pendidikan di dunia, Indonesia masih memasuki peringkat lebih rendah dibandingkan Vietnam dan ini menjadi pemacu agar pendidikan di Indonesia lebih dikonsentrasikan/ diprioritaskan.

Tanpa merdeka belajar mereka tidak memiliki rasa kepemilikan. Sistim yang ada banyak yang harus diintegrasikan antara pengajar dan pembelajar/pelajar. Maka diperlukan guru yang baik sebagai guru penggerak sebagai agen perubahan termasuk adanya sekolah penggerak dalam focus project pola-pola sekolah masa depan. Jika sudah dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan tim yang mendukung karena kita semua bekerja dalam sinergi dan tidak bisa bekerja sendirian bahkan untuk kepentingan diri sendiri yang harus dianalisa filosofisnya, menurut R. Gerung.

Robby I Chandra dan Ahmad Nurcholish dalam bukunya Media Technology, New culture and Religious Change : The case of Indonesia, terbitan Grafika Kreasindo, mengingatkan adanya kebiasaan baru dalam budaya teknologi untuk meningkatkan kreativitas, eksplorasi diri, kebebasan berekspresi  serta untuk sebuah kolaborasi, tentu untuk hal mulia. Proses pemberian feed back atas evaluasi program kerja dan fenomena realitas menjadi sangat penting bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Hal ini merupakan salah satu caranya agar para pendidik, pelajar dan para pemerhati pendidikan celik dan paham bahwa tetap ada saja yang pelu diperhatikan serta dikritisi dalam pergumulan pencapaian tujuan mulia pendidikan sehingga yang dimunculkan hasilnya mencapai sasaran yang tepat dan mulia. Revolusi mental dan berbagai kompetensi perlu dibangun sebagai kesadaran bahwa pendidikan memerlukan perlengkapan senjata pendidikan yang tidak sembarangan dipersiapkan sekalipun dalam pemahaman kemerdekaan belajar dan pendidikan kini sesuai konteks nasional berkolaborasi dengan Internasional.

(Oleh, Elvier Christanty S.Si Theol, MA. Pengamat Pendidikan 2022)

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom Nikahkan Putri Semata Wayang

Sat May 7 , 2022
JAKARTA- MAJALAH GAHARU Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom dan isteri,  dr. Loli J. Simanjuntak, Sp.PD menikahkan putri tunggalnya, Agustina Marisi Nauli Gultom (Ichi) dengan tunangan Sabastian Dolf Mook Sianturi (Sabastian)  di Gereja HKBP Kebayoran Selatan, Cipete, Jakarta, Sabtu, 7 Mei 2022 yang dilayani Pdt. Lawniner Hutagaol. Pernikahan kudus Ichi […]

You May Like