Majalahgaharu Bandung Pada 12/02/26 di Kota Bandung menjadi saksi sejarah berkumpulnya para penuai jiwa dalam perhelatan akbar Konferensi Penginjil Nasional 2026. Diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), acara ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 11–13 Februari 2026 di Hotel Grand Pasundan, Bandung. Mengusung tema besar “API INJIL YANG TAK PERNAH PADAM” yang terambil dari Imamat 6:12, konferensi ini bertujuan untuk merevitalisasi semangat pelayanan dan strategi penjangkauan yang relevan bagi bangsa.
Berikut adalah rangkuman mendalam dari materi-materi strategis yang menjadi pilar utama dalam konferensi ini:
Filosofi Api yang Tak Pernah Padam Merujuk pada paparan “Dari Api ke Api”, tema konferensi ini bukan sekadar slogan, melainkan mandat ilahi. Mengutip Imamat 6:12, ditekankan bahwa api di atas mezbah harus dijaga agar terus menyala.
Secara teologis, “Api” melambangkan Roh Kudus yang memberikan keberanian, sementara “Kayu” menggambarkan kuasa Firman Tuhan. Para pelayan Tuhan diibaratkan sebagai imam yang bertugas menjaga api misi ini agar tidak padam di tengah tantangan zaman. Materi ini juga mengingatkan bahaya “api asing” atau motivasi yang salah dalam pelayanan, serta membandingkan dampak spiritual yang nyata antara wilayah yang menerima Injil dengan yang menutup diri, sebagai pelajaran sejarah bagi gereja masa kini.
Realitas dan Tantangan Ladang Pelayanan
Bagus Surjantoro dalam materinya menyoroti fakta dan data persebaran Injil yang krusial. Terdapat kesenjangan yang signifikan dalam pelayanan di Indonesia. Sebuah ironi dipaparkan secara tajam: di desa-desa terpencil, masyarakat lebih mengenal produk mi instan daripada mengenal Sang Juruselamat. Data menunjukkan adanya penurunan persentase kekristenan di beberapa wilayah seperti Jawa Tengah dan DIY dalam satu dekade terakhir, yang menandakan urgensi untuk menghidupkan kembali perintisan jemaat baru.
Materi ini mengajak peserta untuk tidak menutup mata terhadap daerah-daerah yang belum terlayani (unreached). Tantangan yang dihadapi bukan hanya geografis, tetapi juga perlunya adaptasi metode. Diusulkan pendekatan “PI Ramah Lingkungan” dan kolaboratif, di mana penginjilan dilakukan dengan kasih, taat hukum, dan dialog yang membangun, bukan dengan cara yang konfrontatif.
Gereja Ada Untuk Misi
Emil Brunner, seperti dikutip dalam materi Seminar Misi PGLII, menegaskan bahwa “Gereja ada karena misi, seperti api ada karena nyala.”. Jika gereja kehilangan misi, ia kehilangan esensinya. Evaluasi kritis diberikan terhadap penggunaan dana gereja, di mana statistik menunjukkan 90% dana sering kali hanya berputar untuk kepentingan internal orang percaya (E0), sementara alokasi untuk penjangkauan ke luar (E1, E2, E3) sangat minim. Konferensi ini mendorong pergeseran paradigma menuju “Two Tracks Strategy”, menyeimbangkan pelayanan reguler pastoral dengan misi garis depan ke suku-suku yang belum terlayani.
Pdt. Yohanes Suprandono menambahkan perspektif kepemimpinan dengan model “Siklus Penuh Misi”. Gereja yang sehat harus bergerak dari penginjilan, melahirkan gereja lokal, bertumbuh mandiri, dan kembali mengutus misionaris. Pendeta tidak hanya berfungsi sebagai penggembala, tetapi juga sebagai pemimpin misi yang melatih jemaat untuk siap diutus.
Pemberdayaan Ekonomi dan Misi Holistik
Salah satu terobosan menarik dalam konferensi ini adalah integrasi kewirausahaan dalam misi, seperti yang disampaikan dalam materi “Christian Entrepreneurship”. Veronica Colondam menyoroti prinsip “God’s Economy” yang berbasis keadilan (Mishpat) dan kebenaran (Tzedakah). Pelayanan tidak hanya berbicara soal rohani, tetapi juga pemberdayaan ekonomi umat.
Contoh nyata ditampilkan melalui program “Rumah Belajar Batik” dan konsep Batikpreneur, di mana pemberdayaan ekonomi menjadi pintu masuk kasih yang nyata bagi komunitas. Strategi ini sejalan dengan pendekatan GKPB melalui “Sekolah Pelatihan Para Penuai (SP3)” yang melengkapi tenaga misi dengan keterampilan bisnis mikro (micro business platform). Hal ini memastikan para pekerja garis depan dapat mandiri secara ekonomi dan menjadi berkat nyata bagi masyarakat tempat mereka melayani.
Regenerasi dan Estafet Pelayanan
Masa depan penginjilan terletak pada generasi muda. Materi “Api Injil yang Tak Pernah Padam” menekankan pentingnya pembinaan anak muda melalui sarana pendidikan dan sosial, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Terang Nusa dan Cinta Baca. Program mobilisasi anak muda seperti “RAIMUNA” dan pelatihan mahasiswa sekuler menjadi kunci untuk memastikan api Injil terus menyala ke generasi berikutnya. Fokus pelayanan tidak hanya pada mimbar gereja, tetapi menyentuh aspek sosial seperti pendidikan anak (Sponsor A Child) dan pelatihan kepemimpinan bagi pemuda.
Konferensi ini menyerukan kolaborasi total antara gereja, lembaga misi, dan kaum profesional untuk menuntaskan Amanat Agung, menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai ladang, tetapi sebagai pangkalan misi yang memberkati bangsa-bangsa.
APM/ Komisi Infokom PGLII

