Hillary-Trump Panaskan Debat Perdana Capres AS

Ayo Bagikan:

NEW YORK, MAJALAHGAHARU.COM — Debat Perdana Hillary Clinton dan Donald Trump berlangsung Hempstead, New York, Amerika Serikat, Selasa (27/9/2016) WIB berlangsung panas meski di ujungnya kedua kandidat berbeda latar belakang bersikap lunak dengan berjanji akan saling mendukung siapapun yang akan terpilih menjadi Presiden AS 2017-2021.

 Pada sesi awal, seperti dilansir media arus utama AS, calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, menuduh rivalnya dari Partai Republik, Donald Trump, mengawali karier politiknya dengan kebohongan rasial.

Hillary menyebut pengusaha kaya itu melontarkan pertanyaan rasial tentang kewarganegaraan presiden kulit hitam pertama AS, Barack Obama.

Hillary mengungkapkan hal itu dalam salah satu bagian pernyataannya dalam acara debat calon presiden AS di Hempstead, New York, Amerika Serikat, Selasa (27/9/2016) WIB.

“Dia mendasari semua langkahnya dengan hal-hal yang berbau rasial,” ujar Hillary.

Pernyataan Hillary itu merujuk pada komentar Trump yang akhirnya mengakui bahwa Obama dilahirkan di AS.

“Namun, saya tak bisa mengesampingkan komentar dia begitu saja. Trump sungguh-sungguh mendasari aktivitas politiknya di negara ini dengan kebohongan rasial,” ujar Hillary.

“Dia telah menyebut presiden kulit hitam pertama AS (Barack Obama) bukan warga negara AS,” sambung Hillary.

Sebaliknya, Trump menyoroti kesehatan Hillary Clinton yang dinilainya tidak akan mampu membawa Amerika maju ke depan.

“Saya lebih mampu membawa Amerika kembali menjadi besar dibanding Hillary,” tutur Trump dalam debat terbuka. Tidak hanya itu, Trump juga kembali menyetir penggunaan email pribadi yang langsung ditangkis Hillary bahwa pengalamannya sebagai Menlu AS akan mampu mengatasinya.

Justru Hillary kembali menyoal tempreman Trump yang bisa membawa dampak buruk ke Amerika terkait dengan isu perang dan nuklir.

Meski saling tuding, debat yang disaksikan 90 penonton itu berlangsung saling menghargai saat keduanya saling sela. Sangat berbeda ketika mereka tampil sendiri.

Dari berbagai polling selisih Hillary dan Trump tinggal selisih 4 suara. Diperkirakan persaingan menuju kursi presiden AS akan tetap berlangsung ketat.

Dilematis

Sebuah pilihan sulit. Ibarat kata pepatah, dimakan ayah mati tidak dimakan ibu mati. Itu juga menggambarkan pemilu presiden Amerika Serikat yang akan berlangsung November 2016 mendatang. Rakyat Amerika akan mencari Presiden baru setelah Barrack Obama akan mengakhiri jabatannya Januari 2017 mendatang.

Sebenarnya dapat dipastikan bahwa dua nama  yang kini bersaing sengit adalah  Hillary Rodham Clinton dan Donald Trump akan menjadi suksesor Obama untuk menjadi presiden negara adikuasa itu selanjutnya.

Sengitnya pertarungan antara Hillary, mantan ibu negara yang menjadi kandidat Partai Demokrat dan Trump, taipan pengusaha sukses asal New York telah bergema. Saat ini Hillary Clinton unggul sekitar 6-7 persen dari Trump menurut  jajak pendapat di negara Paman Sam itu. Sebelumnya saat Konvensi Nasional Partai Republik dilangsungkan Donald Trump sempat mengungguli Hillary Rodham. Namun saat Konvensi Nasional Partai Demokrat yang diadakan belakangan Hillary jauh meninggalkan Trump.

Di mata rakyat Amerika Serikat memilih salah satu di antara keduanya sepertinya memilih buah simalahkama.  Trump selama ini dinilai sangat rasis dan kontroversial. Dengan slogan  Make America Great Again dipandang banyak orang Amerika di bawah Trump akan agresif dan akan mengguncang dunia internasional. Sikapnya yang keras kepala yang berencana mendirikan tembok di perbatasan Mexico membuat beberapa petinggi Partai Republik menyatakan akan memboikot dan tidak memilih pengusaha real estate ini.

Tak jauh beda dengan Trump, Hillary Clinton dinilai juga tidak jujur. Skandal email pribadi hingga masalah hukum di kepengacaraan membuatnya juga diragukan mampu memimpin Amerika Serikat. Bayang-bayang suami Bill Clinton juga menghantuinya yang pernah dirundung masalah saat di akhir masa jabatannya. Kebijakan yang pro LGBT dan Aborsi membuat Hillary tidak disukai kalangan rakyat yang berhaluan konservatif.

Saat bicara dengan eks pentolan PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Amerika) Hanny Lawrence, menurutnya Donald Trump akan menjadi presiden Amerika. Analisanya bahwa rakyat Amerika sangat paham dan bijak. Era Partai Demokrat akan berakhir dan akan digantikan Presiden berasal dari Partai Republik.

Apa yang diungkapkan Hanny Lawrence yang juga pemerhati politik Amerika memang berdasar fatsun politik yang berlaku di Amerika Serikat. Seperti sudah menjadi tradisi bahwa rakyat Amerika menganut politik keseimbangan dengan azas periodesasi. Partai Demokrat seperti diketahui telah mengusai Amerika selama delapan tahun (dua periode) masa pemerintahan Barrack Obama.

Sebelum Obama menjabat tradisi ini juga terjadi. Presiden George Walker Bush Jr yang berasal dari Partai Republik sudah menjabat dua periode yakni delapan tahun. Sebelum Bush Jr hal yang sama juga berlaku dengan kepemimpinan Presiden Bill Clinton yang juga menjabat dua periode dari Partai Demokrat. Mengacu kepada tradisi itu, memang giliran Partai Republik yang akan dipercaya rakyat Amerika. Itu artinya jika terus tradisi ini dipertahankan  maka Donald Trump akan menjadi Presiden Amerika Serikat berikutnya. Meski tidak selalu runut seperti itu karena saat era Ronald Reagen berasal dari Republik menjadi presiden penggantinya George Bush Sr yang juga dari partai yang sama.

Facebook Comments
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *