Peringati Hari Disabilitas Internasional, UKI Dorong Akses Pendidikan Tinggi dan Karier bagi Penyandang Disabilitas

Ayo Bagikan:

Jakarta- Majalah Gaharu Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada bulan Desember 2022, Universitas Kristen Indonesia menyelenggarakan seminar dengan tema “Penyandang Disabilitas: Akses Pendidikan Tinggi dan Peluang Karier”, secara hybrid pada tanggal 16 Desember 2022, Ruang Seminar, UKI Cawang.

Akademisi Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang juga merupakan Ketua ALIGN Project di Indonesia, Dr.rer.pol. Ied Veda Sitepu, S.S., M.A., mengajak kita semua untuk mendukung kaum disabilitas untuk dapat meraih hak yang sama terutama dalam pendidikan dan karier. Sebagai informasi The ALIGN adalah proyek riset yang berkolaborasi dengan UK, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia terkait penyandang disabilitas.

“UKI sangat terbuka untuk masyarakat disabilitas. Pendidikan tinggi dibutuhkan semua kalangan untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupan. Fasilitas, infrastruktur dan kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan masyarakat disabilitas,” ujar Ied Veda Sitepu.

Dukungan harus diberikan kepada penyandang disabilitas bukan hanya yang memiliki keterbatasan secara fisik tetapi juga menyangkut kesehatan mental dan hubungan interaksi sosial.

Program ini merupakan kerja sama Universitas Kristen Indonesia dengan Coventry University, Inggris. UKI bersama Coventry University, Inggris, melakukan penelitian tentang penyandang disabilitas untuk mendorong pemerintah mendukung karier bagi penyandang disabilitas.

“Peringatan hari Penyandang Disabilitas Internasional bertujuan meningkatkan pemahaman akan isu disabilitas dan menggalang dukungan terwujudnya martabat, hak-hak dan kesejahteraan bagi para penyandang disabilitas. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kepedulian nasional akan akses disabilitas ke pendidikan tinggi dan kemandirian penyandang disabilitas ke peluang karier,” ujar Ied Veda Sitepu.

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Kikin Tarigan mengutarakan disabilitas bukanlah hambatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Dalam hal ini pemerintah wajib membantu penyandang disabilitas untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan karier. “Perguruan tinggi yang menjadi titik perubahan misalnya materi bahan pelajaran dialihkan ke materi yang bisa diakses penyandang disabilitas, mahasiswa bisa juga membentuk UKM Peduli Disabilitas, “ujarnya.

Perguruan tinggi yang inklusif adalah perguruan tinggi yang memastikan bahwa setiap mahasiswa dapat menghadiri, mengikuti, berpartisipasi dan berprestasi di kampus, tanpa diskriminasi.
“Pendidikan kelompok penyandang disabilitas perlu mendapatkan perhatian serius untuk meningkatkan taraf hidup penyandang disabilitas serta kualitas dan keterampilan yang dimiliki dalam mendapatkan kualifikasi pada sektor pekerjaan yang layak untuk menopang kesejahteraan hidup penyandang disabilitas, “tutur Kikin Tarigan.

UKI memiliki UPT Golden Kids yaitu unit layanan pengembangan kecakapan hidup anak yang berkebutuhan khusus. Kepala UPT Golden Kids UKI, Evi Deliviana, M.Psi, menjelaskan penyandang disabilitas memerlukan support system dari keluarga dan masyarakat. Keluarga dari penyandang disabilitas harus peduli pada masa depannya, dengan mendampingi saat berkuliah.

“Setelah menyelesaikan sekolah formal, perlu disiapkan program transisi sebelum melanjutkan ke pendidikan tinggi. Dalam program transisi ini, penyandang disabilitas perlu menyiapkan rangkaian aktivitas untuk mengidentifikasi kondisi dan kompetensi setiap siswa selanjutnya diarahkan ke pendidikan tinggi atau dunia pekerjaan. Dalam program transisi ini perlu diisi dengan pelatihan dan pendampingan khusus dengan skill yang dibutuhkan di dunia kerja,” tutur Evi.

Kegiatan dihadiri oleh Prof. Deanne Clouder (ALIGN Project, Conventry University, UK) dan Wakil Rektor UKI bidang Akademik dan Inovasi, Dr. Hulman Panjaitan, S.H., M.H., dan murid-murid Yayasan Elsafan; Lembaga Pelayanan Anak Tunanetra Indonesia.

Sebelumnya kegiatan diawali dengan penampilan musik dari Elsafan Entertainment .Para talent merupakan penyandang disabilitas dengan disabilitas yang beragam. Mereka membawakan lagu You Raise Me Up dipopulerkan oleh Josh Groban, dengan perpaduan vocal, keyboard, dan saxophone.

Vokalis Elsafan Entertainment, Mutiara, atas nama penyandang disabilitas Indonesia menyuarakan, pertama, pentingnya UKI membuka peluang pendidikan atau karier bagi penyandang disabilitas, melahirkan karya ilmiah untuk menunjang kehidupan mereka. Kedua, Komnas Disabilitas Kementerian Sosial Republik Indonesia memperkuat advokasi guna pemenuhan dan perlindungan hak disabilitas. Perda dan Pergub menghasilkan kebijakan kartu disabilitas, namun 5 tahun belakangan ini belum semua penyandang disabilitas mendapat kartu tersebut.

FT UKI Dukung Penyandang Disabilitas

Fakultas Teknik UKI mengeluarkan kendaraan Penyandang Disabilitas, yaitu inovasi teknologi berupa kendaraan bagi penyandang disabilitas yang diberi nama “Emastron-01’, Tricycle Electric Vehicle. Produk asli buatan Prodi Teknik Elektro UKI ini dapat melaju 15 km/jam dan merupakan produk ramah lingkungan. produk kendaraan yang ramah penyandang disabilitas. Kendaraan tersebut menggunakan daya listrik 500watt 36volt. Kendaraan tersebut didesain dapat berjalan maju dan mundur sehingga memudahkan penyandang disabilitas dalam bermobilisasi.

Selain itu pada kontribusinya yang mengarah kepada lingkungan, teknologi dan industri 5.0, FT UKI membuat prototype alat yang membantu tuna netra. Tongkat yang bisa mendeteksi air atau jalanan berbahaya bagi tunanetra. Tongkat ini mampu membaca kondisi jalanan dengan jarak 2 hinga 150 cm ke depan, 2 hingga 75 cm ke kiri dan kanan. Selain dapat menguji jarak, alat ini juga diuji untuk membaca objek apa saja yang dapat dideteksi serta menguji sensor air yang tinggi 1,5 cm lebih tinggi dari ujung tongkat.

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

JDP Tak Sependapat Langkah Kapolres Tolikara Melakukan Pendekatan Kekerasan

Tue Dec 20 , 2022
Majalahgaharu.com Manokwari Jaringan Damai Papua (JDP) sangat tidak sependapat dengan langkah Kapolres Tolikara yang menggunakan pendekatan kekerasan senjata api dalam menyikapi reaksi rakyat sipil hingga mengakibatkan 4 (empat) orang terluka dan satu diantaranya dikabarkan meninggal dunia. Selaku Juru Bicara JDP, kami memandang bahwa alasan terjadi “penyerangan” terhadap Markas Polres (Mapolres) […]

You May Like