Menyiapkan Pemimpin Masa Depan, Pemuda KGP Minahasa Gelar Perkemahan Raya

Ayo Bagikan:

 

Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S.Ag., M.Si.

Majalahgaharu Jakarta Ada pepatah lama di tanah Minahasa yang berbunyi: ” Mapalus torang samua tarima” Ungkapan ini mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam budaya Mapalus, di mana semua orang menerima dan berpartisipasi dalam kegiatan bersama.

Kata-kata sederhana ini bergema kuat di hati ketika menyaksikan secara langsung semangat 300 pemuda dari berbagai daerah yang berkumpul di Desa Mopolo, Kabupaten Minahasa Selatan, dalam Perkemahan Raya Pemuda KGPM 2025.

Indonesia hari ini memang berada di persimpangan sejarah. Apakah kita akan tetap menjadi bangsa besar yang menjunjung toleransi dan cinta kasih, atau justru terjerumus dalam sekat-sekat kecurigaan yang tak berdasar atas nama perbedaan agama dan keyakinan?

Pertanyaan ini terus menggantung di udara, mencari jawaban melalui tindakan nyata, bukan sekadar retorika.

Namun minggu ini, harapan itu kembali menyala terang. Bahkan terang itu menghangatkan hati. Laporan langsung dari perkemahan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki hati yang bersih dan jiwa yang penuh pengharapan.

Para peserta bekerja siang malam, menyiapkan tenda dan kegiatan dengan penuh semangat dan kreativitas. Mereka datang bukan untuk sekadar berkemah, tetapi untuk belajar menjadi orang yang melayani, membangun karakter, dan memperkuat iman serta cinta tanah air. Pemandangan ini mengingatkan pada filosofi hidup masyarakat Minahasa: “Sitou timou tumou tou” manusia hidup untuk memanusiakan manusia.

Saya mendukung penuh acara ini, bukan sebagai pejabat partai atau akademisi semata, tetapi sebagai saudara sebangsa yang percaya bahwa moderasi beragama harus turun ke lapangan, bukan hanya menjadi jargon di seminar-seminar elit.

Ada sebuah kisah personal yang barangkali banyak orang belum tahu. Beberapa tahun lalu, saya diundang untuk memberikan ceramah di dalam gereja KGPM datang ketika masih menjabat sebagai Ketua Umum DPP BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia). Undangan itu saya terima dengan hati terbuka, tanpa ragu sedikitpun.

Kedatangan saya bukan sebagai tamu, tetapi sebagai saudara.

Suasana waktu itu masih membekas jelas dalam ingatan: hangat, penuh hormat, tidak ada rasa risih sedikit pun. Memasuki rumah yang di dalamnya semua orang memiliki hati yang bersih dan penuh pengharapan kepada Sang Khalik terasa begitu natural.

Sambutan yang saya terima, terasa bukan sebagai orang luar, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia yang plural dan penuh cinta kasih.

Memang, tidak semua orang memahami langkah saya. Ada yang mencibir bahwa saya melangkahi batas. Tapi waktu membuktikan bahwa apa yang saya lakukan bukan pelanggaran, melainkan teladan kecil tentang bagaimana bangsa ini seharusnya hidup berdampingan.

“Torang pe beta sakalian” kita semua adalah saudara. Inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rasa terima kasih khusus pantas diberikan kepada Ketua Jemaat KGPM Bethel Mopolo, yang menjadi penanggung jawab kegiatan perkemahan ini. Beliau telah menunjukkan bahwa kepemimpinan gereja tidak hanya mengurus soal spiritual, tapi juga membina generasi muda agar menjadi pelayan masyarakat dan penjaga harmoni bangsa.

Kita tidak bisa terus mewariskan semangat perpecahan kepada generasi muda. Jika mereka terus dicekoki dengan kecurigaan, maka perbedaan akan berubah menjadi permusuhan, permusuhan menjadi motivasi saling mengeliminasi, pada titik paling suramnya.

Saya yakin, Tuhan menciptakan kita berbeda bukan untuk dibedakan terus menerus, tapi untuk belajar mencintai keberagaman.

Moderasi beragama bukan soal basa-basi. Ia adalah strategi peradaban. Negara sebesar Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan mayoritas, tetapi harus dirawat oleh seluruh anak bangsa—tanpa kecuali.

Para pemuda KGPM yang hadir dalam perkemahan ini sedang disiapkan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Pemimpin yang tidak hanya saleh dalam doa, tetapi juga kokoh dalam prinsip, terbuka dalam berpikir, dan penuh cinta dalam bersikap.

Torang semua ciptaan Tuhan. Dan Tuhan, dalam kasih-Nya, telah membentuk hati kita dari bahan baku cinta.

Sebagai Guru dan tokoh pengajar Midetasi Beragama di Indonesia, saya berkomitmen untuk terus berdiri di garis depan mendukung kegiatan lintas iman lintas dan atau kegiatan lintas agama seperti ini akan terus dijaga. Bukan karena ingin terlihat pluralis, tapi karena tahu persis bahwa inilah jalan panjang menuju keutuhan bangsa. Kita tidak sedang mempertaruhkan popularitas. Kita sedang mempertahankan peradaban.

Melihat semangat para peserta perkemahan, ada keyakinan yang menguat: Indonesia akan baik-baik saja. Generasi muda ini adalah harapan bangsa yang sesungguhnya. Mereka adalah penjaga api persatuan yang akan terus menyala di tengah badai perpecahan.

Terima kasih KGPM. Terima kasih Minahasa. Terima kasih kepada seluruh peserta dan panitia yang telah menunjukkan bahwa cinta tanah air tidak mengenal batas agama dan keyakinan.

Tuhan menjaga torang samua. Tuhan lindungi torang pe anak-anak muda. Tuhan siapkan mereka jadi pemimpin-pemimpin hebat untuk negeri ini.

Salam manis dari ngana pe kaka, Ali Mochtar Ngabalin.

Penulis

Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS) – Korea Selatan.

Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional.

 

Facebook Comments Box
Ayo Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Pdt. Dr., Elider Tampubolon M.M., M.Th : Tuhan Bagi Setiap Keluarga

Tue Jul 8 , 2025
Majalahgaharu Jakarta Tanggal 6 Juli 2025, pukul 09.00-selesai, GBI VOLKER Jl. Martadinata, Gg. Pelita II No. 3, Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyelenggarakan ibadah Minggu pagi dengan lancar berkat kasih karunia Tuhan Yesus. Ibadah tersebut dipimpin langsung oleh Gembala Sidang, Pdt. Dr. Elider Tampubolon, M.M., dengan tema khotbah “TUHAN BAGI SETIAP […]

You May Like