Oleh : Dr. Antonius Natan, SH., Th.M.
Majalahgaharu Jakarta Gereja tidak boleh bersembunyi di balik pelayanan karitatif yang dangkal. Memberi bantuan materi hanyalah langkah awal, bukan inti panggilan Kristiani. Pemimpin gereja wajib berani mengangkat suara kenabian, menantang ketidakadilan, dan mengecam sistem ekonomi yang menindas. Alkitab tidak memberi ruang kompromi: eksploitasi dan ketidakadilan adalah dosa yang harus dibongkar terang-terangan. Diam berarti ikut melanggengkan penindasan. Gereja dipanggil bukan sekadar memberi, tetapi melawan struktur jahat dengan kebenaran Allah.
Surat Yakobus 5:4 menyatakan dengan tegas, “Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari pekerja yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu”. Ayat ini menegaskan bahwa Allah bukanlah entitas pasif yang jauh di surga. Ia mendengar jeritan kaum buruh yang ditindas oleh majikan yang serakah. Kajian teologis modern mengategorikan penahanan upah pekerja ini sebagai salah satu dosa yang “menjerit ke surga” menuntut keadilan ilahi
Suara kenabian ini telah bergema sejak zaman Perjanjian Lama. Nabi Amos (Amos 5:7-13), misalnya, dikenal sebagai nabi yang paling lantang menyuarakan keadilan sosial. Ia tanpa henti mengkritik elit penguasa di Samaria yang memanipulasi timbangan, menyuap hakim, dan merampas tanah rakyat kecil demi memperkaya diri sendiri. Amos mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah menolak ritual ibadah yang megah jika tidak disertai dengan keadilan sosial (Amos 5:21-24). Hal senada juga disuarakan oleh Nabi Mikha yang mengecam para pemimpin yang seharusnya mengetahui keadilan namun justru membenci kebaikan dan mencintai kejahatan (Mikha 3:1-2).
Suara kenabian pada hakikatnya adalah teguran keras terhadap sistem yang menindas. Di era modern, suara kenabian ini tidak lagi terbatas pada khotbah di mimbar gereja, melainkan harus diwujudkan melalui advokasi kebijakan publik. Pemimpin Kristen harus memiliki empat prinsip dasar: panggilan, keyakinan, keberanian, dan komitmen. Mereka harus berani berbicara menentang undang-undang yang merugikan rakyat kecil, mengkritik perusakan lingkungan oleh korporasi serakah, dan menuntut transparansi anggaran pemerintah.
Sikap diam di tengah ketidakadilan bukanlah tanda kedamaian, melainkan bentuk persetujuan pasif terhadap kejahatan tersebut. Martin Luther King Jr., seorang tokoh yang menghidupi suara kenabian di zaman modern, pernah berkata bahwa perdamaian sejati bukanlah ketiadaan ketegangan, melainkan kehadiran keadilan. Gereja yang diam saat rakyatnya ditindas telah kehilangan otoritas moralnya.
Panggilan Gereja untuk Melawan Ketidakadilan dan Pengkhianat
Oleh karena itu, gereja harus membuka diri dan mempersiapkan jemaat untuk menjadi suara rakyat, melalui partai politik yang berintegritas dan takut akan Tuhan. Melalui pendidikan teologi di gereja harus mencakup literasi politik dan hukum, sehingga jemaat memahami hak-hak sipil mereka dan mampu menganalisis kebijakan publik secara kritis. Gereja perlu membangun aliansi strategis dengan lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan kelompok lintas iman untuk memperkuat barisan perlawanan terhadap pengkhianat konstitusi, korupsi dan ketidakadilan.
Integritas tidak diwariskan, tetapi ditanamkan. Mari kita tanam benihnya hari ini agar bangsa ini panen kejujuran di masa depan. Panggilan untuk mewakili suara kebenaran adalah panggilan ilahi melalui partai politik yang tidak bisa ditawar. Gereja harus bangkit dari tidur panjangnya, menanggalkan ketakutannya, dan mulai bersuara lantang. Suara kenabian untuk Nusantara, gereja bangkit melawan pengkhianat rakyat, pengkhianat konstitusi, korupsi dan penindasan kaum marjinal. Keadilan harus mengalir seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang tidak pernah kering.
Tulisan ini dalam rangka menyambut PARTAI SETARA yang didirikan oleh anak-anak muda yang cinta tanah air dan takut akan Tuhan, untuk menjalankan mandat Ilahi. harapannya kehadiran partai ini menjawab sebagian dari persoalan bangsa
Pro Ecclesia Et Patria
